Keterangan foto youtube

SURABAYA | duta.co – Khotbah Jumat Prof Dr KH Moh Ali Aziz, MAg (Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya) di Masjid Nasional Al-Akbar, Jumat (10/5/2019) menggetarkan hati para jamaah. Penulis buku ’60 Menit Terapi Shalat Bahagia’ itu menyuguhkan materi menarik, ‘Puasa Maksimalis’ sebagai cara tepat agar bangsa ini lepas dari intoleran berkepanjangan.

Disampaikan, bahwa, menjadi muslim Indonesia, memang, amat bersyukur. Umat Islam Indonesia berhasil membangun hablun minallah dengan baik. Jumlah masjid mewah, banyak. Begitu juga jamaahnya, banyak. Jumlah penghafal Alquran juga semakin banyak. Bandara kita? Tidak pernah sepi dari jamaah umroh.

”Bahkan Kota Makkah dan Madinah, satu menit pun  tidak pernah absen dari muslim Indonesia.  Tapi, kita masih ’gagal’ membangun hablun minannas, yaitu masyarakat yang toleran, peduli, dan menghargai perasaan dan kehormatan setiap orang,” demikian Prof  Ali, panggilan akrabnya.

Penulis buku ’Doa-doa Keluarga Bahagia’ ini juga menyuguhkan fakta sosial yang sangat mengerikan. Betapa caci-maki menjadi budaya baru yang memprihatinkan. Terutama rusaknya kehidupan di dunia maya. Di mana bangsa ini, termasuk umat Islam dengan entengnya menghina sesama, menyebut cebong, kampret, muslim banci, kafir dan lain sebagainya.

Diakui, bahwa, kita adalah bangsa (Indonesia) multi etnis, multi agama, multi aliran atau mazhab, dan multi partai. Tetapi, Allah swt sudah memberikan solusinya, bagaimana mengatasi seluruh persoalan tersebut. Bukan Allah swt yang ’mengunci’ neraka, merantai setan, tapi kita yang melakukannya.

Berikut teks Khotbah ’Puasa Maksimalis’ Prof Dr KH Moh Ali Aziz, MAg:

PUASA MAKSIMALIS

Khotbah Jum’at Masjid Nasional Al Akbar Surabaya1 Mei 2019 /5 Ramadan 1440

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag ([email protected])

 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُالْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَىسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُفَيَاعِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Para jamaah yang sedang berpuasa yang saya muliakan.

Tujuan utama puasa adalah menjadikan kita orang yang lebih baik keimanan dan ibadahnya, serta lebih baik budi pekertinya kepada sesama manusia, sebagaimana difirmankan Allah SWT,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ 

”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah [2]: 183)

Ada dua macam puasa, yaitu puasa minimalis dan puasa maksimalis. Puasa minimalis adalah puasa standar, yang hanya menjauhi makan, minum dan bersetubuh, mulai subuh sampai magrib. Inilah puasa kanak-kanak. Sedangkan puasa maksimalis adalah puasa yang tidak hanya menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa, tapi juga menjauhi segala dosa melalui mata, telinga, mulut atau lidah, tangan, kaki, dan semua anggota badan, bahkan puasa hati dari semua lintasan yang tidak disukai Allah. Tidak hanya itu, puasa maksimalis juga disertai dengan memperbanyak shalat sunah, zikir,  infak, dan sedekah.  

Hanya dengan puasa maksimalis inilah kita bisa merantai setan dan mengunci neraka. Selama Ramadan, bukanlah Allah yang memenjara setan dan menutup pintu neraka, melainkan kita sendiri, karena setan tidak kita beri kesempatan sedikitpun untuk bergerak. Subhanallah, melalui puasa maksimalis, Allah ingin mengantarkan kita menjadi waliyullah atau kekasih Allah, manusia yang mirip nabi, bahkan mendekati derajat malaikat.

Dengan kata lain, puasa minimalis bertujuan menyenangkan Allah semata (hablun minallah), sedangkan puasa maksimalis menyenangkan Allah dan semua manusia (hablun minallah wa hablun minan-nas). Lakukan puasa maksimalis, dan yakinlah keluarga harmonis dan bahagia akan segera Anda rasakan. Puasa maksimalis inilah yang akan memberi kontribusi besar untuk terciptanya hidup damai di tengah masyarakat yang multi etnis, multi agama, multi aliran atau mazhab, dan multi partai.

Kita, muslim Indonesia amat bersyukur, karena kita telah berhasil membangun hablun minallah pada masyarakat kita. Kita saksikan saat ini, semakin bertambahnya penghafal Alquran, semakin semaraknya masjid, bertambahnya kajian-kajian Islam, semakin banyaknya orang umrah dan berhaji, sehingga kota Mekah tidak pernah sepi dari kehadiran orang Indonesia.

Tapi, kita masih ”gagal”membangun hablun minannas, yaitu masyarakat yang toleran, peduli, dan menghargai perasaan dan kehormatan setiap orang.

Para jamaah yang saya muliakan.

Puasa maksimalis ditandai dengan kemuliaan akhlak sebagai berikut. Pertama, dengan puasanya, ia mengobral sedekah kepada fakir miskin, mengobral maaf kepada orang yang pernah menyakitinya, menahan marah, menghapus dendam, dan memperbanyak koreksi diri dan istighfar, sampai tidak ada waktu untuk mencari-cari kesalahan orang (QS. Ali Imran [3]: 134).

Jadi, puasa maksimalis melahirkan manusia berakhlak Tuhan, yaitu seperti yang dilakukan Allah SWT: tidak makan dan tidak minum, tapi selalu bekerja memberi makan dan minum serta menyenangkan makhluk-Nya.

Kedua, tidak berbicara kecuali yang betul-betul teruji kebenarannya. Ia juga cerdas dan amat berhati-hati dalam menyeleksi sebuah informasi (QS.Al Hujurat [49]: 6). Semakin banyaknya orang cerdas dan berpendidikan saat ini, ternyata diikuti juga semakin banyaknya orang yang kreatif membuat informasi bohong.  

Orang bergelar doktor dan profesor bisa tertipu dengan berita bohong produksi orang-orang fasiq atau al kadzdzab (pembohong), apalagi masyarakat umum. Nabi Adam a.s juga dikeluarkan Allah dari surga karena termakan berita bohong yang disuguhkan Iblis (QS. Al A’raf [7]:22).

Bisa jadi masyarakat kita kelak juga terusir dari surga dunia yang kita cita-citakan, jika kita membiarkan perederan berita bohong melalui berbagai media sosial.

Wahai para produser berita bohong, para pendukung dan penyebarnya, bertobatlah. Ramadan inilah waktu terbaik untuk bertobat. Gantilah kebiasan buruk itu dengan kesibukan baru, yaitu mendalami Alquran dan tafsirnya, atau hadis nabi dan sejarah hidupnya. Atau bekerjalah lebih keras agar mendapat banyak uang untuk membebaskan derita orang-orang miskin.

Ketiga, berusaha mendamaikan sengketa di antara beberapa pihak, bukan justru memprovokasi (QS. Al Hujurat [49]: 9-10). 

Suatu hari, Nabi SAW berjalan melewati pekuburan. Tiba-tiba wajah beliau pucat dan tangannya gemetar sambil menjelaskan, bahwa dua orang di dalam kuburan itu sedang disiksa berat, bukan karena dosa besar, melainkan karena hal-hal yang dipandang remeh sewaktu hidupnya. Nabi menunjuk satu kuburan sambil mengatakan bahwa orang tersebut disiksa karena tidak berhati-hati dalam soal najis ketika buang air dan mengabaikan cara-cara bersuci yang benar. 

Lalu, Nabi menunjuk kuburan lain di sampingnya dengan mengatakan, ”Orang ini mengalami siksa yang berat karena yamsyi bin namiimah, yaitu berbicara yang justru menambah renggangnya hubungan persaudaraan” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas r.a).  

Itulah sebabnya, Nabi SAW mengijinkan kita sedikit berbohong dengan tujuan mendamaikan dua pihak yang bersengketa. Jangan sampai puasa ramadan yang kita kerjakan setiap tahun, umrah yang kita lakukan berkali-kali, Alquran yang kita baca setiap hari, ribuan bungkus nasi yang kita sedekahkan untuk berbuka puasa, gagal mengantarkan kita ke surga, hanya karena kegagalan kita menjaga mulut kita.

Keempat, tidak berburuk sangka, tidak mencari-cari kekurangan orang lain, dan tidak  menjelek-jelekkan orang, apalagi dengan sebutan yang menyakitkan (QS. Al Hujurat [49]: 11).  

Melalui puasa maksimalis, bertobatlah dan akhiri sebutan cebong, kampret, PKI, muslim banci, murtad, munafik dan sejenisnya yang tidak pantas diucapkan oleh seorang muslim. Mengapa dilarang? Sebab, dalam pandangan Allah, bisa jadi yang diejek itu lebih mulia di mata Allah, dan lebih harum di langit daripada pengejeknya. Ingat, standar penilaian Allah dengan standar penilaian manusia, tidak selalu sama. Antarprofesi, antarlembaga, antarkomunitas apa pun harus saling melengkapi, saling menguatkan, dan bukan saling merendahkan.

Para jamaah yang saya muliakan.

Ayat-ayat di atas sudah turun 14 abad yang lalu. Tapi, rasanya baru turun bulan yang lalu, karena isinya sangat pas dengan kondisi sekarang. Akhiri puasa minimalis, puasa kanak-kanak, puasa yang hanya menjauhi makan, minum dan bersetubuh. Saatnya, sekarang kita lakukan puasa maksimalis, puasa yang melahirkan tutur kata dan tindakan yang menyenangkan Allah dan menyenangkan manusia.

Kita hapus semua, buang semua penyakit hati, untuk kemudian kita install program baru, yaitu menjadikan kita muslim yang bersih hati dan baik budi pekerti, muslim waliyullah, mirip nabi dan malaikat.

Hanya dengan puasa maksimalis inilah kita bisa menyerap cahaya lailatul qadar yang akan datang. Jangan salahkan matahari ketika rumah kita tidak tersinari olehnya. Bukan matahari yang tidak terbit, tapi karena kaca rumah kita yang amat kotor dan gelap, atau tertutup kain hitam tebal dan berbau.  

Lailatul qadar sudah disiapkan Allah untuk menjadikan kita manusia baru. Maka, lakukan puasa maksimalis sejak sekarang sebagai persiapan menyambutnya. Wahai Allah, bantulah kami sekeluarga dan para pemimpin kami untuk berpuasa seperti Nabi-Mu.

                        اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهُ لِى وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَاالْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Doa untuk khutbah kedua.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا لَذَّةَ النَّظَرِ إِلٰى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ اِلٰى لِقَائِكَ

”Wahai Allah, (melalui puasa ini), karuniakanlah kepada kami keindahan memandang wajah-Mu, dan kerinduan berdekatan dengan-Mu”

اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكِذْبِ وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ

”Wahai Allah, (melalui puasa ini pula) bersihkan hati kami dari sifat-sifat munafik, bersihkan perbuatan kami dari pamer dan mengharap pujian orang. Bersihkan lidah kami dari dusta dan jauhkan mata kami dari pandangan yang mendatangkan dosa. Sungguh Engkau Maha Mengetahui gerak mata kami sekecil apapun yang mengandung dosa, serta Maha Mengatahui apapun lintasan yang tersembunyi dalam hati kami.”

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَيَّامَنَا أَيَّامَ رَسُوْلِ اللهِ وَلَيَالَنَا لَيَالَ رَسُوْلِ اللهِ

Wahai Allah, jadikan hari-hari kami (selama berpuasa ini) selalu bersama Rasulullah; dan jadikan malam-malam (Ramadan) kamimalam dengan semerbak wewangian Rasulullah.

اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلٰى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Wahai Allah, melalui puasa ramadan ini,  bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, selalu senang dengan apapun pemberian-Mu, dan setiap hari menambah keimanan dan akhlak kami.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Wahai Allah, jadikan kami orang-orang yang membahagiakan orang tua kami, yang masih hidup bersama kami atau yang telah berpulang ke hadirat-Mu. Bersihkan hati kami dari dendam dan iri hati terhadap sesama kami.  Jadikan semua anak kami shaleh-shalihah yang membukakan pintu surga untuk kami. Pertemukan semua yang hadir di masjid ini kelak di surga bersama keluarga dan guru-guru kami, serta bersama Rasulullah SAW yang kami cintai. -=0=-

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.