SMA swasta terutama yang berbasis Islam mulai diburu orang tua untuk mendaftarkan anak-anaknya. DUTA/wiwik

SURABAYA l duta.co – Sistem zonasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) pada 2018 – 2019 lalu telah membuat orang tua khawatir.

Karenanya pada PPDB 2019 – 2020, orang tua mulai melakukan langkah antisipatif, dengan mendaftarkan anaknya lebih awal ke SMA swasta unggulan terutama yang berbasis agama Islam.

Tak mengherankan, SMA swasta unggulan pun kebanjiran pendaftar. SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) mengakui inden peserta didik utuk PPDB 2019 – 2020 naik lima kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Padahal, sekolah di kawasan Pucang Surabaya itu belum membuka pendaftaran.

Kepala Smamda, Astajab mengakui banyaknya siswa inden itu karena memang ada kekhawatiran dengan sistem zonasi seperti tahun lalu.

 “Daripada nanti ujung-ujungnya juga ke swasta, ya lebih baik daftar awal. Karena jika daftar di awal ada banyak privilege yang didapat siswa, di antaranya uang masuk yang jauh lebih murah,” tutur Astajab ketika ditemui di sekolah beberapa waktu lalu.

Dikatakan Astajab, peserta yang sudah inden di awal, nantinya akan dipanggil untuk melakukan tes sesuai dengan nomor urutnya. Mereka juga  akan lebih dipertimbangkan untuk masuk menjadi siswa Smamda dibandingkan yang daftar terakhir.

“Tapi kami tetap melihat nilai tes. Tapi kalau di awal nilai tesnya bagus semua, maka bisa jadi kami tidak akan membuka pendaftaran dalam jangka waktu yang lama.

Karena di tahun ini, Smamda juga tidak membuka jumlah siswa yang banyak. Kemungkinan besar hanya bisa menambah satu kelas dari kuota 12 kelas yang ditetapkan. Dari jumlah kelas itu, maksimal diisi 30 hingga 35 siswa.

 “Kalau tahun lalu kelas kami 15, sangat banyak. Kini kalau sejumlah itu tidak bisa menampung. Sarana dan prasarana tidak mendukung,” tandasnya.

Hal yang sama juga dialami SMA Khadijah Surabaya. SMA di kawasan Wonokromo itu sudah mulai membuka pendaftaran untuk gelombang pertama tahap pertama.

Bahkan peserta sudah melakukan tes. Untuk gelombang pertama tahap kedua, tes akan dilakukan pada Desember mendatang.

Kepala SMA Khadijah Surabaya, M. Ghofar mengakui bahwa ada peningkatan jumlah pendaftar pada gelombang pertama tahap pertama ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Kemungkinan besar karena zonasi ya. Khawatir kalau benar-benar zonasi diterapkan seperti dulu tanpa ada perubahan,” tukasnya.

Selain itu, kemungkinan besar, karena orang tua juga mengejar diskon khusus jika mendaftar di awal pendaftaran dibandingkan di tahap akhir.

“Karena kita ini tidak bisa banyak menerima siswa. Tahun ini 200 siswa. Kalau terlalu banyak tidak bisa menampung. Makanya kalau di awal sudah mencukupi, kami stop,” katanya.

Untuk pendaftar di gelombang awal ini, Ghofar mengakui siswanya dari berbagai kota, tidak hanya di Surabaya tapi SIdoarjo dan Gresik dan kota-kota lainnya di Jawa Timur.

“Sebenarnya kalau dari pihak sekolah lebih senang kalau yang mendaftar itu dari siswa SMP Khadijah. Karena dengan begitu ada kepercayaan lanjutan kepada kami. Tapi, mungkin ada banyak alasan ada siswa SMP Khadijah tidak melanjutkan ke SMA Khadijah,” tuturnya.

Masdarul KH, Salah satu orang tua yang ditemui mengantar anaknya tes di SMA KHadijah mengaku sengaja mendaftar di gelombang awal agar bisa mendapat potongan uang infaq.

Karena, dengan sistem zonasi, dia sudah pesimis anaknya bisa diterima di SMA Negeri di Sidoarjo.

“Rumah saya jauh dari SMA Negeri. Maka saya sudah tidak yakin anak saya bisa ke SMA Negeri. Lebih baik mencari sekolah swasta yang bagus dan memberikan pendidikan yang berimbang antara umum dan agama,” jelasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry