Pegiat lingkungan yang melakukan penanaman pohon di kawasan bekas banjir bandang. (DUTA.CO/Abdul Aziz)

PASURUAN | duta.co – Banjir bandang yang terjadi di lereng Gunung Bromo pada April 2015 silam, hingga menyebabkan 24 rumah dan sejumlah jembatan desa rusak, serta 40 hektar tanaman padi siap panen di sembilan desa yang tersebar di empat kecamatan hancur, menjadi perhatian pegiat lingkungan lintas daerah di Jatim.

Khawatir bencana kembali terjadi yang mengakibatkan kerugian material mencapai Rp16 miliar itu, para pegiat gelar tanam 10 ribu bibit pohon di wilayah tangkapan air di Desa Palangsari, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, hingga saat ini. Penanaman dilakukan ratusan pegiat dari berbagai elemen. Proses lamanya penanaman butuhkan waktu sepekan.

Salah satu pegiat lingkungan si Hijau, Sugiarto mengatakan, apa yang dilakukan para pegiat ini, hanya ingin hutan di lereng Bromo ini asri. “Dengan menanam bersama pegiat lingkungan ini, sebagai upaya agar tangkapan air di bekas banjir bandang bisa berfungsi kembali seperti semula,” paparnya, di sela kesibukannya, Senin (28/1/2019).

Menurut Sugiarto, pohon yang ditanam merupakan pohon yang bisa menyerap air dan menguatkan tanah serta produktif sehingga bisa bermanfaat secara ekonomi bagi warga sekitar, karena merupakan pohon produktif, diantaranya pohon salam, pinus, bambu petung, nangka, sukun, mahoni, cemara angin, durian, sirsat dan alpukat.

Sugiarto menambahkan, giat tanam pohon ini dilakukan oleh 350 pegiat dari 13 komunitas, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Kelompok Tani, Forum DAS Kabupaten Pasuruan, pemerintah dan 25 perusahaan.

“Konservasi harus melibatkan semua pihak, harus dilakukan bersama-sama agar efektif. Kita inginkan pohon yang ditanam hidup,” terangnya.

Kegiatan penanaman (konservasi) tersebut membutuhkan waktu relatif lama karena medannya cukup berat dan miring. Sehingga para pegiat menggelar jambore selama sepekan. “Kami juga adakan pelatihan dan diskusi terkait konservasi. Bibit pohon ini akan kita rawat dan dijaga selama satu tahun,” ujar Riyadi, Ketua LMDH Palangsari, saat berada di lokasi konservasi. (dul)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.