Oleh Fahmi Arif El Muniry*

JABATAN sering kali mengubah cara seseorang memandang dirinya. Ketika sebuah kursi diduduki terlalu lama, perlahan orang mulai percaya bahwa dirinya adalah kursi itu sendiri. Padahal jabatan hanyalah pakaian yang suatu hari harus dilepas. Yang abadi bukanlah kedudukannya, melainkan nilai pengabdian yang ditinggalkannya.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal Khalid bin al-Walid bin al-Mughirah, panglima yang hampir tidak pernah kalah di medan perang. Pedangnya ditakuti musuh, strategi militernya dikagumi kawan maupun lawan. Namun ketika Khalifah Umar bin Khattab memutuskan untuk mencopotnya dari jabatan panglima tertinggi, Khalid tidak memberontak. Ia tidak mengumpulkan pasukan untuk mempertahankan kursinya. Ia tidak membangun narasi bahwa kemenangan Islam hanya mungkin diraih melalui dirinya.

Yang dilakukan Khalid justru sebaliknya. Ia melepaskan jabatan dengan lapang dada, lalu kembali berdiri di barisan sebagai prajurit biasa. Baginya, yang diperjuangkan bukanlah pangkat, tetapi agama. Yang dijaga bukanlah nama besar, melainkan ridha Allah. Karena itu sejarah mengingatnya bukan hanya sebagai panglima yang hebat, tetapi juga sebagai manusia yang mampu mengalahkan musuh paling sulit: ego dirinya sendiri.

Berabad-abad kemudian, dunia menyaksikan pelajaran serupa dari Jacinda Ardern, pemimpin perempuan Selandia Baru. Saat popularitasnya masih tinggi dan banyak orang berharap ia tetap memimpin negaranya, ia justru memilih mengundurkan diri sebagai perdana menteri. Kalimatnya sederhana namun mengguncang banyak orang, “Saya tidak lagi memiliki cukup tenaga untuk menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya.”

Di zaman ketika banyak pemimpin mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, pengakuan seperti itu terasa langka. Mengakui keterbatasan ternyata membutuhkan keberanian yang tidak kalah besar dibanding mempertahankan jabatan. Sebab tidak semua orang sanggup berkata, “Sudah cukup. Kini saatnya orang lain melanjutkan.”

Lalu alam memperlihatkan pelajaran yang lebih sunyi. Lihatlah seekor bangau. Bangau dikenal sebagai burung yang sabar. Ia berdiri berjam-jam di tepian sungai, menunggu ikan datang tanpa tergesa-gesa. Namun ketika musim berganti, bangau akan terbang meninggalkan rawa yang selama ini menjadi tempat hidupnya. Ia tidak membangun istana di sana. Ia tidak menganggap satu tempat sebagai miliknya selamanya. Ia tahu bahwa bertahan di tempat yang sama ketika keadaan telah berubah justru bisa mengancam kelangsungan hidupnya. Bangau mengajarkan bahwa berpindah bukan selalu berarti kalah. Kadang berpindah adalah cara alam menjaga kehidupan tetap berjalan.

Manusia sering kali justru belajar sebaliknya. Ada yang begitu takut kehilangan jabatan hingga menganggap setiap pergantian sebagai bencana. Padahal pergantian adalah hukum kehidupan. Siang berganti malam. Musim hujan berganti kemarau. Daun tua gugur agar tunas baru memperoleh cahaya. Bahkan para nabi pun silih berganti membawa risalah pada zamannya. Jabatan hanyalah salah satu mata rantai dalam siklus kehidupan itu.

Masalah muncul ketika seseorang mencintai jabatan melebihi amanahnya. Ia mulai mengukur harga dirinya dari kursi yang didudukinya. Ketika kursi itu hilang, seolah seluruh kehormatannya ikut lenyap. Padahal kehormatan sejati lahir dari akhlak, bukan dari stempel jabatan.

Pesantren sejak lama mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah khidmah. Seorang kiai tidak dihormati semata karena memimpin pesantren, melainkan karena keteladanan hidupnya. Bahkan banyak kiai sepuh tetap dihormati meskipun seluruh jabatan formal telah mereka lepaskan. Wibawa mereka berasal dari ilmu, keikhlasan, dan doa murid-muridnya, bukan dari papan nama di depan kantor.

Itulah sebabnya orang yang matang secara spiritual tidak pernah panik menghadapi akhir sebuah jabatan. Ia memahami bahwa amanah hanya berpindah tangan, sedangkan kesempatan berbuat baik tidak pernah berhenti. Hari ini ia memimpin. Besok ia mendampingi. Lusa ia menjadi penasihat. Setelah itu mungkin ia hanya menjadi orang yang diam-diam mendoakan. Semua tetap bernilai jika diniatkan sebagai ibadah.

Khalid bin al-Walid mengajarkan bahwa seorang mantan pemimpin tetap bisa menjadi pejuang terbaik. Jacinda Ardern menunjukkan bahwa keberanian terbesar kadang justru terletak pada kesediaan mengakhiri sebuah kekuasaan dengan bermartabat. Seekor bangau mengingatkan bahwa kehidupan selalu bergerak; yang mampu terbang meninggalkan tempat lamanya sering kali justru menemukan ruang baru untuk memberi manfaat.

Maka, janganlah terlalu mencintai jabatan. Cintailah pengabdian. Sebab jabatan hanya singgah sebentar, sedangkan amal akan terus berjalan jauh melampaui nama, pangkat, dan masa kekuasaan. Dan pada akhirnya, sejarah tidak pernah bertanya berapa lama seseorang duduk di kursi. Sejarah hanya bertanya, setelah ia turun dari kursi itu, apakah manusia masih merasakan manfaat dari jejak pengabdiannya? Wallahul musta’an.

*Fahmi Arif El Muniry adalah Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry