
SURABAYA | duta.co – Imam Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) KHA Muzakky Al-Hafidz menyatakan umur/hidup itu yang penting Bukan Panjang atau Pendek, tapi Berkah dan Manfaat, karena usia yang panjang tanpa perilaku/kebaikan juga tidak berguna.
“Allah punya rahasia sejak usia kita 4 bulan dalam kandungan yakni jodoh, umur, dan rezeki, karena itu satu-satunya alasan boleh berdoa minta umur panjang adalah berjumpa dengan Ramadhan,” katanya dalam Kajian Senja Al-Yasmin yang dipandu pengasuh Pesantren Digipreneur Al-Yasmin H Helmy M Noor di Surabaya, Rabu (28/1) petang.
Dalam keterangan resmi yang disampaikan ulang di Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya, Kamis (29/1), Ustadz Muzakky Al-Hafidz menjelaskan rahasia Allah soal umur tidak ada yang tahu, kecuali ikhtiar dengan menjaga kesehatan, pola makan, pola pikir, pola istirahat. “Yang penting, ojok kakehan pola (jangan banyak tingkah),” katanya, tersenyum.
Soal jodoh dan rezeki juga rahasia Allah yang tidak diketahui siapa orangnya dan kadar rezeki seseorang. “Dalam Al-Qur’an Surat Al-Fathir Ayat 11, Allah menjelaskan manusia diciptakan dari tanah dan juga dari air mani, lalu dijadikan berpasangan,” katanya. Artinya, umur, jodoh dan rezeki sudah ditentukan di Lauhul Mahfudz.
Bahkan, soal umur juga dijelaskan dalam Al-Qur’an jika tidak dapat dimajukan atau diundur sesaat pun. “Bagaimana dengan soal silaturahmi/sedekah bisa memanjangkan umur ? Soal Panjang itu bukan ukuran secara kuantitas atau jumlah, tapi ukuran kualitas atau berkah atau manfaat, jadi umurnya semakin berkah. Jadi, soal umur itu sangat ditentukan kebaikan kita selama hidup,” katanya.
Apalagi, ada ulama yang mengkategorikan orang yang minta panjang umur itu sebagai musyrik, karena orang minta panjang umur itu berarti tidak mau mati. Selain itu, orang yang minta panjang umur itu umumnya bertujuan duniawi atau mempertahankan harta/rezeki. Istilahnya, hubbud dun-ya atau terlalu cinta dunia (duniawi).
“Jadi, ukuran kebaikan itu sebagaimana sabda Rasulullah bahwa sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya, jadi ukuran kebaikan bukan panjang-pendeknya umur, melainkan amal baik atau manfaat berkah bagi orang lain. Bahkan, ahli neraka pun ingin keluar sebentar dari neraka untuk melakukan amal kebaikan,” katanya.
Ia menyatakan umur/hidup adalah nikmat yang terkait dengan waktu atau kesempatan, karena waktu atau kesempatan dalam kegiatan itu tidak akan terulang atau kembali bila sudah lewat, karena itu usahakan umur yang berkah dan manfaat, karena waktu itu tidak panjang tapi kebaikan bisa panjang, meski orangnya meninggal dunia.
Di hadapan puluhan bunda dalam kajian setiap hari Rabu itu, Ustadz Muzakky Al-Hafidz membagi waktu dalam tiga tahap yakni waktu dunia (umur 20-40 tahun), waktu dunia dan akhirat (40-60 tahun), dan waktu akhirat (60 tahun ke atas). Umur 1-20 tahun tidak dihitung, karena fase itu belum layak menerima tanggung jawab.
“Orang cerdas itu melakukan aktivitas sesuai dengan masa/fase. Untuk umur 20-40 tentu giat bekerja, ingat dunia, tapi lupa akhirat, misalnya sering lupa sholat, karena mikir akhirat hanya 30 persen. Usia 40-60, usia sudah punya suami/istri, rumah, mobil, dan lainnya, sehingga ada rasa takut kehilangan, positifnya dia lari ke Allah, meski dekat Allah karena takut kehilangan, padahal kehilangan di dunia itu pasti, misalnya HP pasti rusak/hilang, suami/isteri pasti mati, minggat, atau tak sesuai harapan/kasar,” katanya.
Untuk fase 60 ke atas adalah fase akhirat. “Nabi bilang usia umatku 60-70, jadi usia umat Nabi itu nggak mungkin ikut usia Nabi Nuh yang ratusan tahun. Nabi sendiri wafat pada usia 63 tahun yang tergolong usia produktif. Kalau lebih dari usia Nabi itu sudah banyak kehilangan kenikmatan dunia, seperti otot, mata/kabur, daya ingat/lupa,” katanya.
Oleh karena itu, Ustadz Muzakky menyebut hal terbaik dalam umur adalah kemanfaatan atau berkah, seperti Imam Syafii atau Imam Ghozali yang usianya tidak sampai 60 tahun, tapi memiliki karya yakni Al Umum dan ihya Ulumuddin yang dibaca masyarakat dunia. Atau, Imam Nawawi juga wafat belum menikah, karena sibuk belajar, tapi mempunyai karya Risalatun Nikah. “Itu lebih berkah daripada sudah menikah tapi tidak punya karya,” katanya.
Contoh lain, Ustadz Muzakky Al-Hafidz menyebut Pesantren Al-Yasmin sebagai karya manajemen dari pengasuhnya, H Helmy M Noor. “Kalau saya mungkin bisa mengisi kajian seperti ini, tapi apa yang saya sampaikan bisa direkam dan terus dikaji orang sampai kapan pun, sehingga menjadi jariyah yang punya karya. Itulah nikmat umur, jangan dilupakan. Yang penting jangan meninggalkan karya maksiat, seperti ghibah, maksiat terselubung,” katanya. (*/yasmin)





































