Mantan Ketua PBNU KH Said Agil Siradj (kiri) bersama Dr Muhammad Zainul Majdi selaku Ketua Umum Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyah saat hadir dalam acara Diskusi Ilmiah 'Menggali Mutiara para Bijak Bestari untuk Memperkokoh Persatuan Bangsa' di Universitas 17 Agustus 1945, Senin (5/12/2022). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Agil Siradj memberikan banyak contoh tentang toleransi beragama sejak zaman Rosulullah Muhammad, SAW.

Hal itu diungkapkan Kiai Said saat jadi pembicara dalam Diskusi Ilmiah ‘Menggali Mutiara para Bijak Bestari untuk Memperkokoh Persatuan Bangsa’ di Universitas 17 Agustus 1945, Senin (5/12/2022).

Kiai Said mengatakan banyak contoh-contoh yang mendorong agar umat manusia terutama umat Islam bisa bertoleransi.

“Contohnya sederhana. Dulu Rosullah Muhammad kalau minta seluruh umat di dunia menjadi Islam, maka akan dijadikan Islam oleh Allah SWT. Tapi kenyataannya Muhammad tidak menghendaki itu, karena ingin semua saling bertoleransi,” kata Kiai Said.

Contoh lain, kata Kiai Said, ketika Syayyidina Umar bin Khottab ke Yerussalem. Saat itu Umar masuk ke dalam gereja. Saat masuk gereja itu, adzan ashar berkumandang.

Petugas gereja mempersilahkan Syayyida Umar untuk sholat di dalam gereja karena sudah disiapkan sajadah. “Tapi Sayyida Umar tidak mau. Karena kalau dia sholat di sana maka khawatir nantinya gereja itu akan diambil alih gara-gara Syayyida Umar pernah sholat di tempat itu. Betapa beliau sudah memikirkan hal itu agar tidak terjadi perselisihan,” jelas Kiai Said.

Di hadapan para mahasiswa, dosen, jajaran rektorat dan pengurus Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA), Kiai Said juga memberikan pencerahan tentang khakikat manusia di muka bumi. Manusia diciptakan memiliki mata hati.

Mata hati ini fungsinya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jika sudah mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk maka yang berperan selanjutnya adalah moral.

“Misalnya kalau kita sudah tahu korupsi itu buruk, maka di sini peran moral penting supaya tidak melakukannya. Karena dengan moral yang baik maka hati nurani akan memirintahkan untuk tidak melakukannya. Sebaliknya kalau ada sesuatu yang baik maka akan melakukannya,” tukasnya.

Setelah moral, hal ketiga adalah nurani. Dikatakan Kiai Said, pada dasarnya setiap manusia sudah bisa merasakan itu buruk atau baik. Tidak perlu tanya ke kiai, pendeta atau agama, cukup bertanya pada diri masing-masing apakah itu bisa dilakukan atau tidak.

“Jika sudah merasa bahwa jika sesuatu itu dilakukan dengan tenang, percaya diri maka itu adalah hal baik. Sebaliknya, jika itu dilakukan dengan tolah-toleh, ketakutan, maka itu sudah tidak benar. Jadi tanyalah ke diri sendiri,” jelasnya.

Hal selanjutnya kata Kiai Said adalah manusia memiliki kekuatan yang luar biasa, bahkan bisa di luar logika. Ini memang membutuhkan banyak latihan. Melatih diri untuk bisa memiliki logika yang di luar logika orang lain.

Sebagai contoh, misalnya harus mengambil keputusan cepat, yang tidak sempat meminta bantuan orang lain, tidak mungkin berunding, berpikir lama-lama dan sejenisnya. “Itu harus dilatih agar bisa memiliki kecermatan untuk memutuskan sesuatu dengan logika,” tukasnya.

Dan yang terakhir kata Kiai Said adalah memiliki kekuatan misteri. Ini salah satunya dimiliki KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Bahkan Gus Dur pernah menebak Kiai Said akan menjadi Ketua PBNU di usianya yang ke-56. “Dan benar, saya menjadi Ketua PBNU ketika usia saya 56 tahun,” tukasnya.

Muhammad Zainul Majdi selaku Ketua Umum Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyah yang menjadi pembicara kedua menjelaskan tentang hubungan agama dengan demokrasi. Islam, pada dasarnya menyediakan ruang yang cukup untuk berkembangnya demokrasi.

Karena demokrasi itu bagian dari ruang muamalah di mana di sana itu Islam tidaklah baku. Islam memberikan prinsip-prinsip yang semua hal bisa berkembang dengan baik, misalnya ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. “Jadi, apapun sistem bernegara, sepanjang mengusung nilai-nilai yang sudah diprinsipkan, maka itu Islami,” tuturnya.

Dalam diskusi yang digelar Rumah Bhinneka itu juga menghadirkan Ketua I PGIW, Pdt Andri Purnawan dan dari perwakilan Polda Jatim.

Ketua Rumah Bhinneka, Iriyanto Susilo mengatakan diskusi ini digelar untuk memberikan ruang untuk bertukar pikiran, kerjasama antar tokoh-rokoh berbeda latar belakang, baik agama, suku dan sebagainya.

“Hal itu kami lakukan untuk membangun kerukunan. Agar rukun, perjumpaan seperti ini harus terus dilakukan,” tukasnya. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry