
CIREBON | duta co – ​Masuknya KH. Imam Jazuli sebagai Rais Syuriah dan Irfan Asy’ari Sudirman Wahid (Gus Ipang Wahid) sebagai Wakil Ketua Umum (Waketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi angin segar bagi upaya modernisasi lembaga pendidikan Islam di Indonesia.
Kehadiran dua tokoh muda progresif ini dinilai strategis untuk mengakselerasi transformasi digital dan penguatan branding pesantren di tengah arus disrupsi.
​Sebelum resmi memegang posisi penting di jajaran pimpinan PBNU, Kiai Imam Jazuli dan Gus Ipang Wahid telah berulang kali berkolaborasi dalam mendorong perubahan di tubuh pesantren.
Keduanya aktif menggelar workshop transformasi pesantren di berbagai wilayah yang diikuti oleh puluhan ribu peserta dari kalangan pengasuh hingga pengelola pesantren se-Indonesia.
​Agenda workshop tersebut dirancang khusus untuk membekali pesantren menghadapi tantangan era disrupsi, di mana lembaga pendidikan berbasis keagamaan dituntut melalukan adaptasi cepat pada tata kelola, pemanfaatan teknologi, serta strategi komunikasi publik.
​Kiai Imam Jazuli dikenal luas sebagai salah satu tokoh muda NU yang melejit namanya berkat keberhasilan memimpin Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon.
Lewat berbagai inovasi manajemen, kurikulum, dan pembaruan metode pembelajaran, ia berhasil membawa Bina Insan Mulia tumbuh menjadi salah satu pesantren terbesar di Jawa Barat yang mampu bertransformasi menjawab kebutuhan zaman.
​Jauh sebelum terpilih dalam kepengurusan PBNU, Kiai Imam Jazuli telah memiliki roadmap yang matang mengenai arah gerak Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua.
Pemikirannya dituangkan secara lugas melalui buku serta barisan artikel di berbagai media nasional.
Dikenal dengan sikap kritisnya, ia menawarkan pemikiran yang clear dan konstruktif agar kontribusi serta manfaat NU dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat umum.
​”Masuknya dua tokoh muda ini menjadi angin segar bagi NU secara umum terutama stakeholder NU dimana basis NU adalah pesantren. Keduanya diharapkan mampu mereformasi sistem pesantren agar lebih bisa adaptif dengan kondisi zaman,” ujar Muhammad Husain Sanusi, Pemerhati Pendidikan Pesantren.
​Dengan masuknya Kiai Imam Jazuli di jajaran Syuriah dan Gus Ipang Wahid di Tanfidziyah sebagai Waketum, sinergi antara nilai-nilai keilmuan klasik, kepemimpinan visioner, dan strategi branding modern diharapkan mampu membawa pesantren Nahdlatul Ulama naik kelas serta berdaya saing global. (*)




































