KH Imam Jazuli Lc, MA
“Tidak semua orang kuat menirukan lakunya. Sederhana. Ribuan pengasuh pesantren di Indonesia diajak bangkit bersama, menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks alias rumit. Perjuangan ini, tentu, menuai pro-kontra.”

Oleh Mukti Ali Qusyairi*

KH IMAM Jazuli— terkenal dengan panggilan Kiai Imjaz. Namanya belakangan kian melejit. Banyak yang menulis profilnya. Rekam jejak Kiai Imjaz, memang, menarik dicermati. Hari-hari ini, ribuan pesantren di Indonesia, berbaris bersamanya. Di tengah dunia santri didera berbagai isu negatif, Kiai Imjaz tampil dengan revolusinya. Insan pesantren seakan menemukan jalan keluar menghadapi tantangan zaman.

Ibarat pohon, semakin tinggi, semakin kencang anginnya. Begitu juga Kiai Imjaz. Semakin  melejit, semakin banyak badai menerjang. Di antaranya belakangan saya membaca tulisan yang menyebar di facebook dan WAG. Judulnya “Menakar Mimpi Imjaz: Refleksi Kritis Atas Kepemimpinan NU Masa Depan”. Isinya melenceng jauh dari kenyataan.

Diakui, belakangan Kiai Imjaz memang menjadi tokoh yang menarik dianalisa—baik bagi orang yang pro maupun kontra. Saya membaca tulisan itu berdasar pengetahuan saya, bahwa, sang penulis belum tahu siapa Kiai Imjaz. Ada beberapa poin yang perlu direspons, untuk meluruskan isi tulisan itu.

Pertama, perihal Kedekatan dengan Pesantren. Dalam tulisan itu barometer kedekatan dengan pesantren diukur dengan ikut hadir mengaji Kitab al-Hikam yang dilaksanakan Kamis Legi di Pesantren Lirboyo. Ironis! Karena Kiai Imjaz tidak tampak dalam pengajian itu, sehingga dipertanyakan kedekatan dengan pesantren almamaternya, Lirboyo. Dan disebutnya tidak sampai ke jenjang Aliyah. Saya melihat tulisan itu terlalu parsial, sempit, dan subjektif. Penulisnya, telalu bernafsu untuk mendiskreditkan Kiai Imjaz.

Selain itu, terasa sangat impossible alias tidak masuk akal. Dalam sejarahnya, Lirboyo dirintis KH Abdul Karim dan Ibu Nyai Hj Dhomroh pada tahun 1910. Semula masih menggunakan ngaji sorogan, bandongan, makna berbaris, dan belum ada sistem klasikal. Baru 15 tahun kemudian, pada 1925, Lirboyo menerapkan sistem klasikal dengan didirikannya MHM (Madrasah Hidayatul Mubtadiin).

Semula hanya kelas Ibtidaiyah, lalu Tsanawiyah. Cukup lama MHM hanya membuka kelas Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Pada sekitar tahun 1983-an baru dirintis kelas Aliyah. Karena dalam catatan sejarah bahwa di antara yang tamat Aliyah pertama pada tahun 1986 siswanya adalah KH Ma’ruf pengasuh ar-Risalah Lirboyo.

Sedangkan ribuan kiai alumni Lirboyo sebelum tahun 1983, mengenyam kelas Ibtidaiyah dan Tsanawiyah MHM. Bisa disebutkan di antaranya Mbah KH. Maemon Zubair, KH Bisri Musthafa (Gus Mus), Prof Dr KH Said Aqil Siradj yang mesantern di Lirboyo dari 1965-1971 dan juga adiknya yang menjadi kiai kondang dan pengasuh pesantren Kempek Cirebon KH Musthofa Aqil juga pada periode yang sama, dan lainnya.

Pelajaran Tsanawiyah Lirboyo sudah tergolong tinggi. Materi fikih kitab Fathul Mu’in, materi nahwu kitab Alfiyah Ibnu Malik, Balaghah kitab Jauhar Maknun, Ushul Fikih Waraqat dan Lubbul Ushul, tauhid Ummul Barahin, materi ilmu mantik (logika) kitab Sulam al-Munawwaraq, dan seterusnya. Karena itu, saat ini, yang dulu Kiai Imjaz selesai dari kelas Tsanawiyah diubah menjadi kelas Aliyah, dan kelas Aliyah diganti menjadi Ma’had ‘Aly. Sebab, memang pelajaran Aliyah Lirboyo sudah selevel S1 dan bahkan S2.

Saya ingat dulu waktu di Mesir, ternyata yang dulu Mahally Qalyubi wa ‘Umairah sudah saya khatamkan di kelas Aliyah ternyata mata kuliah S1 Al-Azhar Mesir fakultas Syariah dan Alfiyah Ibnu Malik kelas Tsanawiyah menjadi mata kuliah S1 Jurusan Adab. Lebih mencengangkan lagi, Jam’ul Jawami kitab ushul fikih yang dulu saya khatamkan di kelas Aliyah Lirboyo ternyata menjadi mata kuliah S2 di Al-Azhar Mesir.

Agaknya ada banyak kiai yang tidak sempat datang ngaji Kamisan di Lirboyo  karena kesibukan mereka. Saya yakin semua alumni ingin sekali datang termasuk Kiai Imjaz. Kiai Imam Jazuli memiliki 4 pesantren dengan 5000 lebih tentu waktunya sangat padat. Kita sesama alumni memang sebaiknya saling memaklumi, saling mendoakan, dan lapang dada atas ketidaksempatan atau belum sempat Ngaji Kamisan. Mungkin saja di masa depan akan hadir dan lebih rajin mengikuti ngaji Kamisan di Lirboyo.

Kita seharusnya memandang dengan kacamata yang lebih luas bahwa meski Kiai Imjaz—dan banyak lagi kiai lain—alumni Tsanawi Lirboyo, tidak sampai melanjutkan ke tingkat Aliyah, karena mereka melanjutkan studi ke Timur Tengah.  Banyak sekali kiai-kiai lain yang tidak tabarrukan sampai ke jenjang Aliyah karena belum ada kelas Aliyah atau karena ada keinginan tabarukan ke pesantren lain, atau studi ke tempat lain, atau alasan yang lain. Tapi semua adalah alumni.

Saya lihat di facebook dan media kalau Kiai Imjaz sowan dan sungkem kepada KH Kafabihi Mahrus di Lirboyo sebelum ke Ploso mengikuti acara Munas PBNU. Kiai Imjaz juga menulis di media profil KH. Kafabihi Mahrus dengan penuh hormat dan memuliakan. Ketika Kiai Sepuh Lirboyo KH. Anwar Mansur oleh oknum wartawan Trans7, Kiai Imjaz adalah tokoh yang paling keras membela KH. Anwar Mansur, mengkritik Trans7, dan Ibu Nyai Hj. Ning Ain ‘Ainul Mardhiyyah Anwar—yang akrab disebut Ning Ain—juga diundang Kiai Imjaz di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon. Beberapa kali juga saya melihat jamiyah Jausyan HIMASAL Cirebon diadakan di pesantrennya, Bima. Mungkin masih banyak jejak-jejak kedekatan dan hubungan emosional Kiai Imjaz dengan almamaternya Lirboyo.

Kedua, soal Kiai Imam Jazuli orang PKB. Kiai Imjaz setahu saya seorang kiai yang independen, bukan pengurus struktural di partai manapun. Bisa dicek di struktur PKB sama sekali tidak ada nama Kiai Imjaz. Hanya saja pandangan politiknya sebagai strategi menguatkan politik Aswaja, beliau seorang ideolog, memahami betul bertahannya sebuah ideologi dibutuhkan kekuatan politik dan wajar jika menganggap PKB adalah kekuatan itu. Karena PKB adalah satu-satunya partai yang berideologi Aswaja. Jadi tanggung jawab moral beliau menjaga ideologi Aswaja.

Tidak bisa kita menutup mata bahwa PKB lah partai yang memperjuangkan Undang-Undang Pesantren, Hari Santri Nasional tentu saja Cak Muhaimin Iskandar didukung oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, sebagai kekuatan PBNU. Meski begitu, saya melihat Kiai Imjaz juga membangun baik komunikasi dengan partai-partai lain. Kiai Imjaz menundang KH Zuhairi Misrawi, pengurus Partai PDIP dan Dubes Tunisia untuk mengisi ceramah di pesantrennya Bina Insan Muliya Cirebon. Dan partai-partai yang lain.

Ketiga, Bukan Organisatoris Karbitan. Poin ini yang agak keras, dalam tulisan itu menuduh kalau Kiai Imjaz sebagai organisatiros karbitan. Setahu saya, semua organisasi kemahasiswaan di Mesir pernah beliau pemimpin. Bahkan di NU aktif semenjak KMNU Mesir, dan di PBNU sebagai wakil ketua pimpinan RMI-PBNU (Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama). Penulis yang sangat produktif sejak mahasiswa hingga kini. Produktifitasnya dalam menulis hampir tidak bisa ditandingi oleh siapapun.

Jika Kiai Imjaz pengalam organisasinya karbitan, niscaya tidak akan mungkin bisa membangun dan mengembangkan Pondok Pesantren Bima yang saat ini pembangunannya terus ekspansi, sampai Bima 4, dan santrinya ribuan.

Berpakaian kaos oblong dan sarung atlas adalah laku lampah tirakatnya; ke negara mana pun, menghadapi siapa pun termasuk pejabat negara setingkat menteri dan siapapun memang begitu, kecuali acara formal atau mengisi minta sambutan pakai kemeja putih saja. Meski beliau banyak sedekah sarung BHS, tetapi Kiai Imjaz tetap istiqamah pakai sarung Atlas, bukan BHS. Sulit menirunya, bukan?

*Mukti Ali Qusyairi adalah Intelektual Muda Indonesia
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry