
“Kepemimpinan di Tebuireng menunjukkan kapasitas manajerial dan spiritual Gus Kikin dalam skala besar.”
Oleh KH Imam Jazuli Lc., MA*
KEPEMIMPINAN di tubuh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, selalu menjadi sorotan, tidak hanya karena basis massanya yang besar, tetapi juga karena perannya dalam dinamika sosial, keagamaan, dan politik bangsa. Dalam diskursus kepemimpinan PBNU, nama KH. Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, mencuat sebagai sosok yang dinilai layak memimpin organisasi tersebut menjelang Muktamar ke 35.
Tentu saja, kelayakan tersebut didasarkan pada kombinasi unik antara faktor nasab (keturunan), rekam jejak kepemimpinan, kemandirian finansial, dan pengalaman organisatoris yang matang.
Pertama: Nasab Kuat sebagai Cicit Pendiri NU (Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari)
Faktor nasab memiliki nilai historis dan spiritual yang signifikan dalam tradisi pesantren dan NU. Gus Kikin adalah cicit dari Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama. Hubungan darah ini bukan sekadar klaim silsilah, melainkan representasi dari kesinambungan perjuangan dan pemikiran para muassis (pendiri) NU.
Kepemimpinan yang bersandar pada nasab sering kali dianggap membawa barokah dan legitimasi moral yang kuat di mata warga Nahdliyin, terutama di akar rumput. Gus Kikin sering mengisahkan perjuangan Mbah Hasyim dalam mendirikan pesantren dan kepeduliannya terhadap rakyat kecil, menunjukkan pemahaman mendalam akan spirit awal pendirian organisasi. Warisan spiritual ini menjadi modal sosial yang tak ternilai untuk mempersatukan elemen-elemen di NU yang beragam.
Kedua: Selesai dengan Diri Sendiri
Mandiri Finansial dan Pengusaha Sukses Salah satu argumen terkuat yang mendukung kelayakan Gus Kikin adalah statusnya sebagai pribadi yang telah “selesai dengan diri sendiri” dalam aspek material. Dikenal sebagai ulama sekaligus pebisnis atau pengusaha, Gus Kikin tidak memiliki ketergantungan ekonomi yang dapat memengaruhi kebijakan organisasinya.
Kemandirian finansial ini krusial dalam memimpin organisasi sebesar PBNU, yang sering kali berinteraksi dengan kekuasaan politik dan ekonomi. Seorang pemimpin yang mandiri secara finansial cenderung lebih fokus pada kemaslahatan umat dan menjaga muruah (martabat) organisasi, bebas dari potensi konflik kepentingan atau intervensi pihak luar yang bersifat transaksional. Integritas ini pernah diakui ketika beliau dinobatkan sebagai Pembayar Pajak Inspiratif oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Tiga: Pengasuh Pesantren Tebuireng, Benteng Tradisi dan Intelektualitas
Gus Kikin saat ini merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, sebuah institusi pendidikan Islam yang monumental dan menjadi salah satu pusat rujukan utama dalam keilmuan NU. Peran sebagai pengasuh pesantren tidak hanya berarti mengelola institusi pendidikan, tetapi juga memegang peran sentral dalam menjaga tradisi keilmuan, mencetak kader ulama, dan merawat karakter santri.
Kepemimpinan di Tebuireng menunjukkan kapasitas manajerial dan spiritual Gus Kikin dalam skala besar. Dari sinilah beliau mengajak para santri untuk menyiapkan diri menuju Indonesia Jaya 2045, menunjukkan visi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter dan berakhlakul karimah.
Empat: Ketua PWNU Jatim, Rekam Jejak Kepemimpinan Organisasi yang Teruji.
Dalam struktur organisasi NU, Gus Kikin juga memiliki pengalaman nyata di tingkat wilayah. Beliau menjabat sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, posisi strategis mengingat Jatim adalah basis massa NU terbesar.
Awalnya ditunjuk sebagai Pejabat (Pj) Ketua PWNU Jatim oleh PBNU untuk mengisi masa transisi dan menyelesaikan konflik internal, Gus Kikin berhasil menjalankan roda organisasi dan kemudian terpilih secara definitif. Pengalaman ini membuktikan kemampuannya dalam menjembatani berbagai faksi dan meredam dinamika internal di wilayah yang kompleks, juga bisa menata kembali struktur dan memastikan program kerja berjalan efektif.
Kombinasi antara nasab yang kuat, integritas dan kemandirian finansial, kepemimpinan pesantren sebagai pusat tradisi, dan rekam jejak organisasi yang teruji di PWNU Jatim, memberikan Gus Kikin argumentasi yang solid sebagai sosok yang layak memimpin PBNU. Beliau dinilai mampu mengayomi umat dan menjaga muruah NU di tengah tantangan zaman, memastikan organisasi tetap relevan dengan khittah-nya. Wallahu’alam bishawab.*





































