
JAKARTA | duta.co -Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siradj MA akan mencermati nota kesepahaman (MoU) yang dijalin pemerintah RI dengan Arab Saudi. Termasuk MoU ke-8 antara Kementerian Agama RI dengan Kementerian Urusan Islam Dakwah dan Bimbingan Kerajaan Arab Saudi di bidang urusan Islam.
“Jangan sampai niat baik kedua pemerintahan diboncengi wahabis dari kedua negara,” ujar Kiai Said Aqil seusai menerima kunjungan Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah & OKI Prof Dr Alwi Shihab di Kantor PBNU, Senin (6/3).
Pertemuan kedua tokoh intelektual Islam Indonesia tersebut berlangsung akrab dan santai. Selain MoU ke-8, yang juga dicermati PBNU adalah MoU ke-3 Pemerintah RI dengan Arab Saudi. Yaitu tentang kerja sama kebudayaan antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan Kementerian Kebudayaan dan Informasi Kerajaan Arab Saudi.
Kiai Said menegaskan bahwa Kerajaan Saudi sudah lama moderat. Masalah yang sering berdampak ke Indonesia adalah kelompok agamawannya yang belum mampu mengikuti dinamika perubahan di kalangan pemerintahan. “Sudah saya tegaskan berkali-kali, yang NU waspadai itu Wahabisme bukan Kerajaan Saudi Arabia,” katanya.
Kiai pengasuh Pondok Pesantren as-Taaqofah ini salut atas statemen Raja Salman yang mengakui semangat toleransi masyarakat muslim Indonesia. Masyarakat yang suka bekerja sama dan membangun dialog antarumat beragama. “Sekarang kita lihat ke depannya, para wahabis itu berubah apa tidak perilakunya di Indonesia,” ujar Kiai Said.
Moderatnya Raja Salman
Soal moderatnya Kerajaan Arab Saudi juga tecermin dari sikap Raja Salman bin Abdulazai al-Saud saat berkunjung ke Indonesia. Saat ini, Raja Slaman masih berada di Bali dan dijadwalkan selesai kunjungan pada 9 Maret lusa.
Selain ramah dan tak jaga imej (jaim), Raja Salman juga suka bercanda. Dalam pembicaraan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) maupun dengan tamu lainnya, sesekali sang baginda raja melontarkan candaan yang membuat lawan bicaranya tertawa.
Muchlis Hanafi, yang dipercaya menjadi penerjemah dalam pertemuan antara Raja Salman dan Presiden Jokowi, punya cerita ringan tentang hal itu. Ketika di salah satu lokasi dan melihat puluhan pewarta foto telah berdesakan untuk mengabadikan kehadirannya, Raja pun spontan berseloroh. “Wah, itu dia saudara-saudara syetan,” kata Raja Salman seperti diterjemahkan oleh Muchlis, Senin (6/3).
Menurut dia, Raja Salman selalu melemparkan senyum dan melambaikan tangan kepada para fotografer. Candaan soal ‘saudara-saudara setan’ itu, kata Muchlis, dilatarbelakangi oleh sikap sebagian ulama konservatif di kalangan umat Islam yang mengharamkan praktik fotografi.
“Agar tidak memicu kesalahpahaman, saya jelaskan seperti itu kepada Presiden Jokowi. Beliau pun tertawa mendengarnya,” tutur Muchlis.
Seorang penerjemah yang baik lazimnya memang harus dapat menerjemahkan sesuai dengan konteksnya, bukan sekadar yang terucap. Karena itu, sebutan pada orang seperti Muchlis adalah interpreter, bukan translater. “Salah satu seni menjadi penerjemah itu bagaimana kita bisa tertawa serentak, tanpa delay, menunggu terjemahan selesai,” ujarnya.
Raja Salman sendiri sepertinya tergolong yang menganut paham moderat. Buktinya, Raja Salaman tak cuma membiarkan para fotografer membidiknya dengan kamera, tapi juga meladeni para anggota DPR yang ingin berswafoto bersamanya. Juga dengan anak dan cucu Presiden Sukarno, Megawati dan Puan Maharani. Bahkan Raja Salman juga ikut tampil dalam video blog yang dibuat Presiden Jokowi saat jamuan makan siang di Istana Bogor, Rabu (1/3/2017).
Beberapa warga Arab yang ditemui di Makkah pun senang melihat raja mereka mendapat sambutan dan perlakuan semacam itu. “Bagus kok ini, nggak apa-apa. Orang Indonesia itu baik, sahabat orang Arab,” ujar Younis Abdulhaq kepada Fitraya Ramadhanny, Ahad lalu. hud, net