Oleh: Fahmi Arif El Muniry, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak

BARANGKALI persoalan terbesar dunia pesantren hari ini bukanlah berkurangnya jumlah santri, bukan pula merosotnya minat mengaji kitab kuning. Persoalan yang lebih sunyi adalah semakin banyak santri yang kehilangan kemampuan mengenali kiainya. Tentu, yang dimaksud bukan tidak mengenal nama atau wajah guru. Yang hilang adalah kemampuan mengenali cahaya ilmu yang Allah titipkan melalui seorang guru.

Hari ini, ada sebagian santri mempunyai persepsi bahwa kiai tidak lagi dipandang sebagai pembimbing ruhani, tetapi sebagai tokoh publik yang dapat dinilai, diperdebatkan, bahkan dihakimi melalui potongan video dan unggahan media sosial. Dalam perspektif tasawuf, keadaan ini bukan sekadar krisis etika, melainkan krisis batin. Bukan persoalan lisan, tetapi persoalan hati.

Muhyiddin Ibn Arabi dalam Al-Futūḥāt al-Makkiyyah (1999) menjelaskan bahwa manusia tidak melihat realitas sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana kejernihan basirah atau mata hatinya. Ketika basirah tertutup oleh hijab, seseorang hanya melihat bentuk lahir, sementara hakikat yang tersembunyi di baliknya tidak lagi tampak. Dalam bahasa Ibn Arabi, tajalli atau pancaran cahaya Ilahi tidak pernah berhenti hadir, tetapi manusialah yang sering kehilangan kemampuan untuk menyaksikannya. Mungkin, di sinilah kegelisahan itu bermula.

Media sosial membuat kita terbiasa melihat yang tampak, bukan yang hakiki. Kita merasa mengenal seseorang hanya karena menonton video beberapa menit. Kita merasa memahami seorang kiai hanya karena membaca satu potongan ceramah. Bahkan kita merasa memiliki otoritas untuk memberi penilaian tanpa pernah mengalami perjalanan ilmu yang ditempuhnya. Yang bekerja bukan lagi basirah, melainkan persepsi yang dibentuk oleh algoritma.

Guru sebagai Jalan Cahaya

Dalam tradisi tasawuf, guru bukan sekadar pengajar. Ia adalah murabbi, pembimbing yang menuntun murid mengenali dirinya sebelum mengenali Tuhannya. Karena itu, hubungan murid dengan guru dibangun melalui suhbah (kebersamaan yang melahirkan transformasi batin) bukan sekadar perpindahan pengetahuan.

Ahmad ibn ‘Ata’ Allah al-Iskandari dalam Al-Ḥikam (2004) mengingatkan bahwa hijab paling halus adalah ketika seseorang merasa telah sampai. Ego membuat manusia merasa cukup dengan pengetahuannya sehingga tidak lagi membutuhkan bimbingan. Dalam keadaan seperti itu, yang tumbuh bukan hikmah, melainkan ujub, kekaguman terhadap diri sendiri.

Bukankah fenomena itu semakin mudah ditemukan di media sosial? Semua orang merasa berhak berbicara tentang agama. Semua merasa mampu menilai siapa yang benar dan siapa yang salah. Seorang kiai dapat dihakimi melalui potongan video berdurasi satu menit. Seorang santri dinilai dari satu unggahan. Bahkan orang yang tidak pernah hidup dalam tradisi pesantren, tidak pernah mengalami talaqqi, dan tidak pernah duduk berjam-jam di hadapan guru, begitu ringan memberikan penilaian terhadap kehidupan pesantren.

Yang lebih menyedihkan, sebagian dari mereka adalah orang-orang yang mengaku alumni pesantren. Mereka pernah mengaji kitab yang sama. Pernah mencium tangan guru yang sama. Pernah meminum air dari sumur pesantren yang sama. Namun ketika memasuki ruang digital, seolah seluruh adab tertinggal di gerbang pesantren.

Padahal, KH. Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim (1995) menegaskan bahwa keberkahan ilmu tidak akan diperoleh tanpa penghormatan kepada guru. Adab bukan pelengkap ilmu, melainkan pintu masuknya. Ilmu yang tidak melahirkan tawaduk akan berubah menjadi beban ego.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Abdul Karim al-Jili dalam Al-Insān al-Kāmil (1997). Menurutnya, tujuan perjalanan spiritual bukan menjadikan manusia merasa lebih tinggi daripada yang lain, tetapi membentuk insan kamil yaitu manusia yang semakin dekat kepada Allah justru semakin rendah hati terhadap sesama. Semakin tinggi maqam seseorang, semakin sedikit kebutuhan untuk membuktikan dirinya.

Pulang kepada Adab

Media sosial bukan musuh pesantren. Teknologi tidak pernah salah. Yang perlu dipertanyakan adalah hati orang yang menggunakannya. Ketika algoritma lebih menentukan cara kita berpikir daripada adab yang diajarkan guru, saat itulah kita mulai kehilangan arah. Ketika keinginan untuk viral mengalahkan keinginan menjaga kehormatan guru, saat itulah nafs mengambil alih perjalanan ruhani. Dalam tasawuf, keadaan ini disebut sebagai kemenangan ego atas jiwa yang sedang mencari Tuhan.

Fenomena ini dibaca secara menarik oleh Norshahril Saat dalam The New Santri: Challenges to Traditional Religious Authority in Indonesia (2020). Ia menunjukkan bahwa media digital telah menggeser cara masyarakat membangun otoritas keagamaan. Pengetahuan agama menjadi semakin terbuka, tetapi relasi etis antara guru dan murid semakin longgar. Akibatnya, banyak orang merasa cukup belajar melalui layar, tanpa mengalami proses pembentukan adab yang selama berabad-abad menjadi inti pendidikan pesantren.

Padahal, dalam tasawuf, ilmu yang tidak melahirkan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) belum mencapai tujuannya. Ilmu seharusnya menuntun manusia kepada fanā’, yaitu luluhnya ego di hadapan kebenaran, hingga kemudian mencapai baqā’, keteguhan hidup dalam nilai-nilai Ilahi. Ketika ilmu justru memperbesar ego, maka yang bertambah hanyalah informasi, bukan kebijaksanaan.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan hari ini bukanlah, “Apakah kiai masih layak dihormati?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah hati kita masih layak menerima cahaya ilmu?” Jangan-jangan yang berubah bukan para kiai. Yang berubah adalah cara kita memandang mereka. Kita lebih mudah menemukan kesalahan daripada mengambil hikmah. Kita lebih cepat mengetik komentar daripada melakukan muhasabah. Kita lebih senang menjadi hakim daripada tetap menjadi murid.

Pada akhirnya, seorang santri tidak dikenali dari seberapa banyak kitab yang dibacanya, seberapa tinggi jabatannya, atau seberapa banyak pengikutnya di media sosial. Seorang santri dikenali dari adabnya. Dari kemampuannya menjaga lisan ketika berbeda pendapat. Dari kerendahan hatinya dalam menerima nasihat. Dan dari kesetiaannya menjaga kehormatan guru, bahkan ketika guru itu tidak lagi berada di hadapannya.

Sebab, sebagaimana diajarkan para sufi, perjalanan menuju Allah bukan dimulai dari banyaknya ilmu yang dimiliki, melainkan dari bersihnya hati dalam menerima cahaya. Dan cahaya itu sering kali pertama kali datang melalui seorang guru. Maka, ketika seorang santri tak lagi mengenali kiainya, mungkin yang sesungguhnya hilang bukanlah sosok sang kiai. Yang hilang adalah kejernihan hati untuk mengenali cahaya yang pernah menuntunnya menuju Tuhan. Wallahu a’lamu.

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry