“Membaca Lompatan Kepemimpinan Khofifah: Dari Beasiswa, Santri, Riset, hingga Peradaban”

CATATAN PERADABAN

Oleh: Dr. ROMADLON SUKARDI, MM.
(Sekretaris LPPD Provinsi Jatim).

ADA sebuah lompatan penting yang patut dibaca lebih dalam dari Islamic Center Surabaya, 10 September 2026. Ketika Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meluncurkan Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jawa Timur, yang sedang diresmikan sesungguhnya bukan hanya sebuah pusat riset, melainkan sebuah gagasan besar tentang masa depan pesantren. Pesantren tidak lagi ditempatkan hanya sebagai penjaga tradisi keilmuan masa lalu, tetapi didorong menjadi produsen pengetahuan, laboratorium pemikiran, pusat inovasi, dan salah satu sumber rekomendasi kebijakan pembangunan masa depan. Inilah yang membuat kebijakan tersebut menarik dibaca sebagai bagian dari transformasi kepemimpinan: menghubungkan tradisi dan modernitas, sanad dan riset, kitab dan teknologi, beasiswa dan produktivitas intelektual, serta pendidikan dan peradaban.

Di titik inilah kita menemukan salah satu wajah kepemimpinan Khofifah yang transformatif.
Transformasi tidak selalu berbentuk pembangunan gedung, jalan, atau infrastruktur fisik. Transformasi yang paling menentukan justru sering berlangsung di dalam cara berpikir manusia.

Dan pendidikan adalah ruang paling strategis untuk melakukan perubahan itu.

Selama ini pesantren dikenal sebagai salah satu benteng utama pendidikan Islam Indonesia. Pesantren menjaga kitab, sanad, adab, tradisi keilmuan, dakwah, dan pembentukan karakter. Tetapi dunia berubah sangat cepat. Artificial Intelligence (AI), digitalisasi, perubahan ekonomi, geopolitik, perang dagang, disrupsi pekerjaan, hingga derasnya arus informasi telah menciptakan lanskap baru kehidupan manusia.

Dalam lanskap seperti itu, pesantren tidak cukup hanya menjadi pewaris pengetahuan.
Pesantren harus naik kelas menjadi produsen pengetahuan.

Pesantren harus mampu membaca masa lalu dengan kedalaman tradisi, membaca hari ini dengan kejernihan analisis, dan membaca masa depan dengan keberanian imajinasi.

0

Karena itu, pesan Khofifah kepada mahasantri bahwa mereka tidak cukup hanya mampu membaca kitab, tetapi juga harus mampu “membaca zaman dan membaca kebutuhan umat”, sesungguhnya mengandung pesan epistemologis yang sangat dalam.

Membaca kitab memberikan akar. Membaca zaman memberikan arah. Dan membaca kebutuhan umat memberikan tujuan.

Dari Beasiswa Menuju Ekosistem Pengetahuan

Yang menarik, Pusat Riset ini tidak berdiri sebagai program yang terpisah. Ia lahir dari sebuah ekosistem yang telah dibangun melalui program beasiswa santri.

Tahun 2026, Pemprov Jawa Timur memberikan beasiswa kepada 1.100 santri pada jenjang S1, S2, S3, Ma’had Aly, Al-Azhar Kairo, serta program STEM PTN. Secara kumulatif sejak 2019, program tersebut telah menjangkau 7.796 penerima manfaat.

Tetapi ukuran keberhasilan sebuah beasiswa tidak boleh berhenti pada jumlah penerima.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Setelah mendapatkan pendidikan, mereka menjadi apa?

Apakah hanya menjadi sarjana? Apakah hanya mendapatkan gelar? Ataukah mereka kemudian menjadi penghasil gagasan, peneliti, pendidik, ulama, inovator, dan penggerak perubahan sosial?

Di sinilah kebijakan Khofifah menarik. Beasiswa mulai diarahkan menjadi rantai nilai pengetahuan: Beasiswa → Pendidikan → Riset → Publikasi → Repositori Pengetahuan → Rekomendasi Kebijakan → Dampak bagi Masyarakat.

Beasiswa tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan pendidikan semata. Beasiswa harus menjadi mata rantai pembangunan pengetahuan yang utuh.

Artinya, setiap penerima beasiswa didorong untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas, kemudian menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Hasil riset tersebut dipublikasikan agar dapat dibaca dan dikembangkan oleh publik, dihimpun dalam repositori pengetahuan sebagai kekayaan intelektual yang terus tumbuh, lalu diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang berbasis data dan bukti.

Pada akhirnya, seluruh proses tersebut harus bermuara pada satu tujuan utama: menghadirkan perubahan nyata, memperkuat kualitas kebijakan, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Dengan demikian, beasiswa bukan sekadar investasi pada individu, tetapi merupakan investasi pengetahuan untuk membangun peradaban.

Inilah kebijakan publik yang mulai bergerak dari sekadar input oriented menuju knowledge and impact oriented.

Artinya, uang negara tidak hanya dibelanjakan untuk membiayai pendidikan seseorang, tetapi diharapkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pengetahuan, inovasi, kebijakan dan kemanfaatan.

Dalam perspektif pembangunan SDM, ini jauh lebih strategis.

Ketika Santri Menjadi Peneliti

Ada satu fakta yang menurut saya sangat penting: karya intelektual para penerima beasiswa telah menghasilkan lebih dari 40 buku, sementara karya ilmiah mahasiswa S3 angkatan 2022–2025 telah dikompilasi menjadi 17 buku.

Para mahasiswa penerima beasiswa yang belajar di Mesir juga direncanakan mempublikasikan 30 buku yang merupakan hasil review terhadap 150 kitab berbahasa Arab.

Ini bukan sekadar produktivitas akademik.
Ini adalah modal peradaban.

Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh jalan raya, pelabuhan, kawasan industri, dan gedung-gedung tinggi. Bangsa juga dibangun oleh gagasan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Peradaban yang kuat selalu mempunyai tradisi menulis, mendokumentasikan, meneliti, mengkritisi, dan mengembangkan pengetahuan.

Karena itu, ketika karya para santri mulai dikumpulkan, diterbitkan dan didokumentasikan secara sistematis, sebenarnya sedang dilakukan sebuah pekerjaan yang sangat mendasar:
merawat memori intelektual agar tidak hilang ditelan zaman.

Sanad, Riset dan Artificial Intelligence

Lebih jauh lagi, pengembangan Riset Sanad Keilmuan Jawa Timur (Risan Jatim) memberikan dimensi lain yang sangat menarik.

Sanad adalah ingatan intelektual. Riset adalah instrumen verifikasi dan pengembangan. Digitalisasi adalah teknologi dokumentasi. Dan AI adalah salah satu instrumen baru dalam mengolah pengetahuan.

Jika keempatnya dipertemukan secara tepat, pesantren memiliki peluang besar memasuki sebuah fase baru: digitalisasi peradaban pesantren tanpa kehilangan ruh pesantren.

Di sinilah kepemimpinan adaptif diperlukan.

Adaptif bukan berarti meninggalkan tradisi demi teknologi. Adaptif justru berarti membawa nilai-nilai yang baik dari masa lalu agar tetap relevan dalam menghadapi masa depan.

Kaedah pesantren mengenal prinsip:
Almuhaafadzatu alal qadimis sholih wal akhdzu biljadidil ashlakh “Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.”

Barangkali inilah filosofi yang paling tepat untuk membaca arah tersebut. Kitab tetap dijaga. Sanad tetap dirawat. Adab tetap menjadi fondasi. Tetapi metode riset dikembangkan. Data didigitalisasi. Publikasi diperkuat. Teknologi dimanfaatkan.

Dan hasil penelitian diarahkan agar dapat memberi kontribusi terhadap kebijakan publik.

Tradisi tidak dimuseumkan. Tradisi dihidupkan kembali melalui inovasi.

Pesantren sebagai Knowledge Hub

Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jawa Timur memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh dari sekadar pusat dokumentasi.

Ia dapat menjadi knowledge hub pesantren.
Tempat bertemunya ulama, santri, akademisi, peneliti, pemerintah, dunia usaha, komunitas dan masyarakat.

Dari sini dapat lahir riset tentang kemiskinan, pendidikan, kesehatan, ekonomi pesantren, lingkungan, pertanian, kewirausahaan santri, moderasi beragama, teknologi, budaya, filantropi, hingga berbagai persoalan strategis masyarakat.

Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi objek yang diteliti oleh perguruan tinggi atau lembaga penelitian.

Pesantren menjadi subjek yang ikut memproduksi pengetahuan tentang dirinya sendiri dan masyarakatnya.

Inilah sebuah perubahan paradigma yang sangat penting.
Dari “pesantren sebagai objek penelitian” menjadi “pesantren sebagai produsen pengetahuan.”

Dari “santri penerima ilmu” menjadi “santri penghasil gagasan.” Dari “beasiswa sebagai bantuan” menjadi “beasiswa sebagai investasi intelektual.” Dan dari “tradisi sebagai warisan” menjadi “tradisi sebagai energi inovasi.”

Kepemimpinan Khofifah dan Politik Pendidikan Jangka Panjang

Kalau kita membaca kebijakan ini dalam perspektif kepemimpinan, maka ada satu karakter yang semakin terlihat: berkelanjutan.

Program pendidikan yang baik tidak boleh bergantung pada satu momentum politik atau satu periode kekuasaan. Ia harus mempunyai fondasi regulasi, kelembagaan, data, SDM, sistem dan kesinambungan program.

Karena itu, keberadaan Perda Provinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 2022 tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren, Pergub Nomor 43 Tahun 2023, serta Rencana Pengembangan Pesantren Tahun 2027–2029 menjadi penting dalam memastikan kebijakan pesantren memiliki institutional memory dan kesinambungan. Inilah bedanya antara program dan kebijakan. Program bisa selesai ketika anggaran selesai.

Tetapi kebijakan yang baik harus mampu menjadi sistem yang terus hidup dan berkembang.

Dan sistem itulah yang memungkinkan sebuah gagasan melampaui masa jabatan seorang pemimpin.

Dari Human Capital Menuju Civilizational Capital

Jawa Timur memiliki ekosistem pesantren yang sangat besar: 7.347 pondok pesantren, sekitar 660.437 santri, serta 41.317 ustaz dan ustazah.

Angka tersebut tidak boleh dibaca hanya sebagai statistik. Di balik setiap angka ada manusia. Di balik manusia ada potensi. Di balik potensi ada pengetahuan. Dan di balik pengetahuan ada kemungkinan lahirnya sebuah peradaban.

Maka investasi terhadap pesantren sesungguhnya bukan hanya investasi terhadap human capital, tetapi juga investasi terhadap civilizational capital.

Sebab santri yang hari ini belajar di pesantren, lima belas atau dua puluh tahun mendatang dapat menjadi guru, ulama, peneliti, birokrat, pengusaha, teknokrat, politisi, diplomat, ilmuwan, profesional, atau pemimpin masyarakat.

Karena itu, investasi pendidikan hari ini mungkin baru terlihat hasilnya bertahun-tahun kemudian.

Tetapi justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji: mampukah seorang pemimpin menginvestasikan energi politik dan anggaran publik untuk sesuatu yang manfaat terbesarnya baru dirasakan generasi berikutnya?

Kepemimpinan yang hanya mengejar hasil cepat akan memilih program yang mudah terlihat.

Kepemimpinan yang berpikir peradaban berani menanam pohon yang mungkin tidak sempat ia nikmati buahnya.

Islam yang Damai sebagai Diplomasi Peradaban

Ada pula dimensi yang tidak boleh dilupakan.
Khofifah menekankan pentingnya kontribusi pesantren melalui pendekatan Islam moderat, toleran, penuh kasih dan damai. Ini bukan sekadar agenda domestik.

Dalam dunia yang mengalami polarisasi, konflik geopolitik dan perang informasi, wajah Islam Indonesia yang wasathiyah, rahmah, damai dan toleran dapat menjadi bagian dari soft power Indonesia di dunia.  Pesantren Jawa Timur mempunyai modal historis untuk itu.

Islam pesantren tumbuh bersama tradisi, kebudayaan, gotong royong dan kehidupan masyarakat. Maka karya intelektual santri tidak seharusnya hanya menjawab persoalan akademik.

Ia juga harus mampu menjawab pertanyaan besar dunia: Bagaimana agama dapat menjadi sumber kedamaian? Bagaimana tradisi dapat berjalan bersama modernitas?

Bagaimana teknologi dapat digunakan tanpa kehilangan kemanusiaan? Bagaimana ekonomi dapat tumbuh tanpa meninggalkan keadilan?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut mampu dijawab melalui riset dan karya intelektual pesantren, maka Jawa Timur tidak hanya memiliki jumlah pesantren yang besar.
Jawa Timur memiliki ekosistem pemikiran Islam yang dapat berbicara kepada dunia.

Catatan Peradaban

Pada akhirnya, peluncuran Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jawa Timur dapat kita baca sebagai sebuah pesan sederhana namun fundamental: Pesantren tidak boleh hanya sibuk mewariskan masa lalu. Pesantren harus ikut menulis masa depan.

Dan untuk menulis masa depan, santri harus memiliki tiga kekuatan sekaligus:
akar yang kuat, pikiran yang terbuka, dan keberanian berinovasi.

Akar tanpa inovasi bisa menjadi nostalgia. Inovasi tanpa akar bisa kehilangan identitas. Tetapi ketika tradisi, ilmu, teknologi, riset dan kemanusiaan dipertemukan, lahirlah sesuatu yang lebih besar: peradaban.

Di sinilah saya melihat corak kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa dalam perspektif yang lebih luas.

Transformatif, karena mengubah orientasi pesantren dari penerima menjadi produsen pengetahuan.

Inovatif, karena menghubungkan pendidikan, riset, digitalisasi, sanad dan teknologi.

Kreatif, karena mengubah beasiswa menjadi ekosistem karya dan kemanfaatan.

Progresif, karena mendorong santri membaca kebutuhan zaman dan kebutuhan umat.

Adaptif, karena mempertemukan khazanah klasik dengan tantangan AI dan dunia yang terus berubah.

Dan berkelanjutan, karena membangun regulasi, kelembagaan, data, peneliti dan sistem agar gagasan tidak berhenti pada satu momentum.

Barangkali inilah ukuran kepemimpinan yang lebih substantif. Bukan hanya berapa banyak program yang diluncurkan, tetapi berapa banyak perubahan yang terus hidup setelah program itu diluncurkan.

Bukan hanya berapa banyak santri yang memperoleh beasiswa, tetapi berapa banyak gagasan baru yang lahir dari beasiswa tersebut.

Bukan hanya berapa banyak buku yang diterbitkan, tetapi berapa banyak pengetahuan yang kemudian mengubah cara kita memahami masyarakat dan mengambil kebijakan.

Dan bukan hanya seberapa besar pesantren berkembang, tetapi seberapa besar pesantren mampu memberi arah bagi perjalanan bangsa.

Sebab pada akhirnya, pesantren bukan sekadar tempat manusia belajar tentang masa lalu. Pesantren adalah tempat masa depan sedang dipersiapkan.

Dan ketika santri mulai menulis, meneliti, mendokumentasikan sanad, menguasai teknologi, membaca perubahan zaman serta tetap menjaga adab dan nilai-nilai Islam yang damai, maka kita sedang menyaksikan sebuah babak baru: dari pesantren sebagai penjaga warisan menuju pesantren sebagai penggerak peradaban.

Membaca Peristiwa, Merawat Nilai, Menata Masa Depan. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry