
“Peluncuran Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jawa Timur menandai pergeseran penting: pesantren tidak lagi sekadar menjadi objek penelitian, tetapi mulai membangun kedaulatan pengetahuannya sendiri.”
CATATAN PERADABAN

OLEH: Dr ROMADLON SUKARDI, MM*
ADA sebuah perubahan kecil yang sesungguhnya menyimpan makna besar. Selama puluhan tahun, pesantren kerap hadir sebagai objek penelitian. Orang datang membawa kamera, alat rekam, kuesioner, atau proposal penelitian untuk memotret kehidupan pesantren. Tradisi, kitab, kiai, santri, ekonomi, bahkan dinamika sosial pesantren diteliti dan dituliskan.
Kini waktunya dibalik. Pesantren harus mulai berbicara tentang dirinya sendiri.
Peluncuran Pusat Riset Pesantren Jawa Timur oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Islamic Center Surabaya, 10 September 2026, karena itu tidak semestinya dibaca sekadar sebagai peresmian sebuah lembaga. Ia merupakan penanda perubahan paradigma: dari pesantren sebagai objek pengetahuan menjadi pesantren sebagai produsen pengetahuan.
Ini penting. Sebab pesantren bukan hanya institusi pendidikan keagamaan. Di dalamnya tersimpan khazanah intelektual, sanad keilmuan, pengalaman sosial, tradisi pengabdian, sekaligus pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Persoalannya, seberapa banyak pengetahuan tersebut telah terdokumentasi secara sistematis, diteliti dengan metodologi yang kuat, dipublikasikan secara luas, lalu diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan?
Di sinilah pusat riset menemukan urgensinya.
Jawa Timur memiliki modal sosial dan intelektual yang besar. Program beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) telah berkembang sejak 2019. Pada 2026, sebanyak 1.100 santri memperoleh beasiswa untuk jenjang S1, S2, S3, Ma’had Aly, Universitas Al-Azhar Kairo, serta bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Hingga 2026, program tersebut telah memberikan manfaat kepada 7.796 santri.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik pendidikan. Di baliknya ada sebuah investasi peradaban.Beasiswa → pendidikan → riset → publikasi → repositori pengetahuan → re komendasi kebijakan → dampak bagi masyarakat.
Rantai inilah yang perlu dikawal agar tidak terputus pada ijazah.
Seorang penerima beasiswa tidak cukup hanya pulang membawa gelar. Ia harus pulang membawa pertanyaan baru, pengetahuan baru, karya baru, dan kemampuan baru untuk menjawab persoalan umat.
Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur Prof. Abdul Halim Soebahar menunjukkan bahwa proses tersebut mulai menghasilkan jejak. Karya ilmiah mahasiswa program S3 angkatan 2022–2025 telah dikompilasi menjadi 17 buku. Pada semester ini, mahasiswa S2 Mesir juga ditargetkan menerbitkan 30 buku hasil kajian terhadap 150 kitab berbahasa Arab. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan lahirnya 125 periset pesantren pada semester ini.
Di sinilah artificial intelligence (AI) menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru.

AI mampu merangkum kitab, menerjemahkan teks, mengolah data, menemukan pola, bahkan membantu peneliti menyusun hipotesis. Tetapi AI tidak otomatis memahami sanad, adab, konteks sosial pesantren, maqashid, atau kebijaksanaan yang lahir dari relasi guru dan murid.
Karena itu, pesantren tidak boleh memilih antara tradisi atau teknologi. Pilihan yang lebih tepat adalah: tradisi dengan teknologi.
Kitab tetap dibaca. Sanad tetap dijaga. Akhlak tetap menjadi fondasi. Tetapi metode riset harus berkembang. Data perlu didigitalisasi. Manuskrip perlu didokumentasikan. Karya ilmiah perlu masuk repositori. Bahasa Arab dan khazanah klasik perlu berdialog dengan ilmu sosial, sains, teknologi, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan kecerdasan buatan.
Dengan demikian, AI bukan ancaman bagi pesantren. Ia menjadi alat yang harus ditundukkan oleh nilai.Tantangannya adalah jangan sampai pesantren hanya menjadi konsumen teknologi ya ng diciptakan orang lain. Pesantren justru harus ikut menjadi produsen pengetahuan dan inovasi yang memanfaatkan teknologi untuk kepentingan manusia.
Karena itu, Pusat Riset Pesantren Jawa Timur idealnya tidak berhenti sebagai tempat mengumpulkan penelitian. Ia harus tumbuh menjadi rumah pengetahuan pesantren: tempat data dihimpun, riset diuji, manuskrip didokumentasikan, karya dipublikasikan, jaringan peneliti dibangun, dan hasil penelitian diterjemahkan menjadi kebijakan.
Lebih jauh, pusat ini dapat dikembangkan menjadi *knowledge hub, laboratorium riset,* sekaligus *think tank pesantren* yang mempertemukan ulama, santri, akademisi, pemerintah, dunia usaha, teknologi, dan masyarakat sipil.
Di titik ini, pesantren memiliki kesempatan untuk melakukan lompatan besar.
Dunia sedang menghadapi persoalan yang tidak sederhana: perubahan iklim, krisis pangan, transformasi pekerjaan, ketimpangan sosial, disrupsi AI, konflik geopolitik, kesehatan mental generasi muda, hingga krisis moral akibat banjir informasi. Pesantren memiliki pengalaman panjang dalam mendidik manusia.
Kini pengalaman itu perlu diterjemahkan menjadi pengetahuan yang dapat dibaca dunia.
Inilah kedaulatan pengetahuan.
Kedaulatan tidak hanya berarti mampu memenuhi kebutuhan ekonomi atau menguasai teknologi. Sebuah masyarakat juga berdaulat ketika mampu mendefinisikan persoalannya sendiri, menghasilkan pengetahuannya sendiri, dan ikut menentukan solusi bagi dunia.
Pesantren Jawa Timur memiliki peluang tersebut.
Tetapi ada satu syarat: riset jangan menjadi seremoni. Pusat riset jangan menjadi papan nama. Beasiswa jangan berhenti menjadi fasilitas pendidikan.
Ketiganya harus dirajut menjadi ekosistem. Dari beasiswa lahir peneliti. Dari peneliti lahir pengetahuan. Dari pengetahuan lahir inovasi. Dari inovasi lahir kebijakan. Dan dari kebijakan lahir kemaslahatan.
Pada akhirnya, masa depan pesantren bukan hanya tentang seberapa banyak santri yang mampu membaca kitab. Pertanyaan yang lebih besar adalah: *seberapa jauh santri mampu membaca zaman dan ikut menulis masa depan?*
Pesantren telah lama memiliki akar yang kuat.
Kini saatnya menumbuhkan cabang yang menjangkau dunia.
Sebab pesantren tidak harus meninggalkan tradisi untuk menjadi modern. Justru dengan tradisi yang kokoh, ilmu yang hidup, teknologi yang dikuasai, dan akhlak yang terjaga, pesantren dapat menghadirkan wajah masa depan yang berbeda: modern tanpa tercerabut, global tanpa kehilangan identitas, dan maju tanpa kehilangan kemanusiaan.
Dari Jawa Timur, pesantren mulai berbicara kepada dunia.
Bukan sekadar dengan suara. Tetapi dengan ilmu, riset, karya, dan peradaban.





































