
“Merenungkan Kembali Makna Ukhuwah Nahdliyah Menjelang Muktamar NU 2026”
Oleh: Abdur Rahman El Syarif *)
MENJELANG Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 yang akan berlangsung pada Agustus 2026 mendatang, dinamika organisasi semakin terasa. Percakapan tentang arah kepemimpinan, peta dukungan, konfigurasi kekuatan, hingga kemungkinan-kemungkinan politik organisasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan jam’iyah. Di berbagai forum, baik yang berlangsung secara terbuka maupun dalam ruang-ruang yang lebih terbatas, diskusi mengenai siapa yang layak memimpin NU terus mengemuka.
Semua itu adalah sesuatu yang wajar.
NU adalah organisasi besar. Bahkan mungkin organisasi keagamaan terbesar di dunia. Di dalam rumah besar yang dihuni jutaan warga, ribuan pesantren, dan ratusan ribu penggerak sosial-keagamaan, perbedaan pandangan adalah keniscayaan yang tidak mungkin dihindari. Perbedaan pilihan juga bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Yang patut menjadi perhatian justru ketika perbedaan pilihan mulai menggerus persaudaraan.
Sebab sejarah mengajarkan bahwa organisasi besar tidak pernah runtuh karena perbedaan pendapat. Organisasi besar biasanya mulai mengalami kemunduran ketika kehilangan kemampuan untuk mengelola perbedaan dengan kebijaksanaan.
Dalam beberapa bulan terakhir, publik menyaksikan berbagai dinamika yang menunjukkan menguatnya polarisasi di kalangan warga NU. Perdebatan yang semula berkaitan dengan gagasan perlahan bergeser menjadi perdebatan mengenai kelompok. Dukungan yang semula dibangun atas dasar argumentasi mulai berubah menjadi identifikasi kubu. Bahkan tidak jarang muncul kecenderungan untuk melihat sesama warga Nahdliyin bukan lagi sebagai saudara seperjuangan, melainkan sebagai lawan yang harus dikalahkan.
Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri:
Untuk apa sebenarnya Muktamar diselenggarakan?
Apakah ia semata-mata menjadi arena kompetisi untuk menentukan siapa yang berhak menduduki kursi kepemimpinan?
Ataukah ia merupakan sarana musyawarah besar untuk merumuskan arah pengabdian Nahdlatul Ulama bagi umat, bangsa, dan peradaban?
Pertanyaan ini penting diajukan karena terkadang kita terlalu sibuk membicarakan hasil, hingga lupa menjaga proses.
Padahal dalam tradisi pesantren, proses sering kali lebih penting daripada hasil itu sendiri.
Para kiai mengajarkan bahwa ilmu yang berkah bukan hanya ditentukan oleh apa yang dipelajari, tetapi juga bagaimana adab dalam mempelajarinya. Begitu pula dalam kehidupan organisasi. Kepemimpinan yang baik tidak hanya ditentukan oleh siapa yang terpilih, tetapi juga oleh bagaimana proses pemilihannya berlangsung.
Jika proses itu dipenuhi saling curiga, saling menjatuhkan, dan saling melukai, maka luka tersebut tidak serta-merta hilang ketika Muktamar selesai. Ia akan terus hidup dalam ingatan kolektif warga dan menjadi beban yang harus dipikul oleh kepengurusan berikutnya.
Karena itu, yang sesungguhnya sedang diuji menjelang Muktamar bukan hanya kualitas para calon pemimpin. Yang sedang diuji adalah kualitas persaudaraan kita sebagai warga Nahdlatul Ulama.
Dalam tradisi tarekat terdapat sebuah pelajaran yang sangat berharga.
Para salik yang berjalan menuju Allah sering kali menempuh jalan yang berbeda-beda. Ada yang memperbanyak dzikir, ada yang menekuni khidmah. Ada yang menempuh jalan ilmu, ada yang memilih jalan riyadhah. Ada yang lebih banyak berbicara kepada umat, ada pula yang lebih banyak berbicara kepada Tuhan dalam kesunyian malam.
Namun mereka memahami satu hal yang mendasar: berbeda jalan tidak berarti berbeda tujuan.
Karena itu mereka tidak mudah menganggap jalan orang lain lebih rendah daripada jalannya sendiri. Mereka menyadari bahwa setiap orang sedang berjalan menuju tujuan yang sama dengan cara yang mungkin berbeda.
Kebijaksanaan seperti inilah yang tampaknya perlu dihidupkan kembali dalam kehidupan berjam’iyah.
Bukankah seseorang mendukung calon tertentu karena meyakini itulah pilihan terbaik bagi NU?
Bukankah orang lain yang berbeda pilihan juga memiliki keyakinan yang sama terhadap pilihannya?
Jika demikian, mengapa perbedaan itu harus melahirkan permusuhan?
Mengapa pilihan organisatoris yang sifatnya sementara harus mengalahkan ikatan persaudaraan yang telah dibangun selama puluhan tahun?
Bukankah kita semua lahir dari mata air yang sama?
Kita belajar dari kitab-kitab yang sama. Kita menghormati para muassis yang sama. Kita membaca qunut yang sama. Kita mengamalkan tahlil yang sama. Kita mencintai para kiai yang sama. Bahkan kita sering kali berasal dari pesantren yang saling terhubung melalui sanad keilmuan yang sama.
Lalu mengapa perbedaan pilihan harus membuat kita merasa begitu jauh satu sama lain?
Para muassis NU memberikan teladan yang sangat berharga dalam hal ini. Mereka adalah ulama-ulama besar yang memiliki keluasan ilmu dan kedalaman pandangan. Mereka tidak selalu sepakat dalam setiap persoalan. Tetapi mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Mereka memahami bahwa persaudaraan adalah modal sosial yang jauh lebih mahal daripada kemenangan sesaat.
Barangkali inilah pelajaran yang perlu kita renungkan kembali menjelang Muktamar 2026.
Bahwa tidak ada kemenangan yang lebih penting daripada tetap terjaganya ukhuwah Nahdliyah. Bahwa tidak ada jabatan yang lebih berharga daripada kepercayaan yang tumbuh di antara sesama warga. Bahwa tidak ada prestasi organisasi yang lebih membanggakan daripada kemampuan menjaga rumah besar ini tetap teduh bagi semua.
Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih nanti akan datang dan pergi sebagaimana para pendahulunya. Masa khidmah akan berakhir, kepengurusan akan berganti, dan sejarah akan terus bergerak. Tetapi persaudaraan harus tetap tinggal. Sebab NU tidak dibangun hanya oleh struktur organisasi. NU dibangun oleh rasa saling percaya, rasa saling menghormati, dan rasa saling memiliki yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Jika persaudaraan itu tetap terjaga, maka perbedaan pilihan tidak akan pernah menjadi ancaman. Ia justru akan menjadi sumber kekayaan pemikiran yang memperkuat organisasi. Namun jika persaudaraan itu hilang, maka kemenangan sebesar apa pun akan terasa hampa.
Mungkin karena itulah para kiai terdahulu lebih banyak mengajarkan adab daripada ambisi, lebih banyak mengajarkan musyawarah daripada pertikaian, dan lebih banyak mengajarkan persaudaraan daripada permusuhan.
Sebab mereka memahami satu hal yang sangat mendasar:
Bahwa Nahdlatul Ulama tidak akan kehilangan masa depannya karena perbedaan pilihan. Tetapi ia bisa kehilangan sebagian jiwanya ketika persaudaraan tidak lagi ditempatkan di atas segala-galanya. Dan ketika persaudaraan sedang diuji oleh perbedaan pilihan, barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah kemenangan satu kelompok atas kelompok lain, melainkan kebijaksanaan untuk kembali mengingat bahwa kita semua masih berada di rumah yang sama: Nahdlatul Ulama.
Bangkalan, 26 Juni 2026
*) Anggota Lajnah Pengkajian dan Penelitian Turots dan Sanad Thariqah Idarah Aliyah JATMAN.


































