Oleh: Firman Syah Ali

SAYA terbawa suasana saat nonton film Laut Bercerita barusan. Saya nonton sendirian karena isteri dan anak-anak saya penggemar genre Horor, bukan genre drama, apalagi drama sejarah politik.

Film tersebut mengalir deras ke dalam relung hati saya, membawa ingatan kembali melayang ke tahun 90-an di mana saya menjadi salah satu pimpinan gerakan reformasi ’98. Nama kesatuan aksi kami saat itu adalah Gerakan Mahasiswa Pecinta Rakyat (GEMPAR).

Tak terasa air mata ikut mengalir tanpa terbendung selama pertunjukan film. Terlebih lagi di akhir film saat ditayangkan cuplikan Presiden Soeharto mengumumkan berhenti dari jabatan Presiden. Di mana saat ini yang bersangkutan menyandang gelar Pahlawan Nasional RI. Ya begitulah negara ini, tidak berhasil menemukan 13 orang warga negaranya yang hilang pada tahun 1998, malah kemudian memberi gelar pahlawan nasional kepada Presiden yang dilawan oleh para pejuang reformasi ’98, termasuk oleh 13 aktivis yang hilang tersebut. Mungkin begini-begini ini yang membuat kepala saya lekas gundul.

Usai nonton, saya senang sekali melihat penonton berjubel-jubel antri tiket, terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Dan setelah saya cek google, ternyata film ini memuncaki box office, diprediksi pekan ini akan mencapai sejuta penonton.

Saya langsung kirim pesan ke grup WA keluarga, menyuruh anak-anak saya untuk menonton film tersebut, agar tau bahwa teman-teman seperjuangan papanya dulu banyak yang hilang, banyak yang disiksa, banyak diintimadasi, banyak yang diteror, tentu saja termasuk papanya sendiri.

Dengan catatan ini saya meminta para aktivis 98 untuk mengajak masyarakat sekitar atau minimal keluarganya sendiri nonton bareng (nobar) film ini. Ini film yang sangat bagus untuk menolak lupa bahwa Indonesia pernah sangat gelap, sembari berharap agar di masa kini maupun masa depan tidak memasuki kembali masa-masa kegelapan tersebut.

Film ini merupakan penyadaran sejarah kepada generasi muda kita untuk terus menggelorakan jiwa idealisme, patriotisme dan nasionalisme di dalam dada masing-masing. Agar adik-adik dan anak-anak mewarisi api dari gerakan reformasi ’98, bukan mewarisi abu.

Mari kita cegah dan lawan bersama jika saat ini ada orang atau sekelompok orang ingin mengembalikan indonesia ke era kegelapan tersebut. Cara pencegahan paling efektif adalah dengan penyadaran kepada generasi penerus akan kelamnya zaman itu. Zaman di mana untuk dapat mengemukakan pendapat di muka umum saja, taruhannya nyawa.

*) Penulis adalah Aktivis ’98

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry