
“Para kiai sepuh menutup forum dengan ajakan spiritual: perbanyak taqarrub kepada Allah SWT. Sebuah pengingat bahwa jalan keluar terbaik dari persoalan sebesar apa pun seringkali bukan lahir dari strategi struktural, tetapi dari kejernihan batin,”

CATATAN PINGGIR, Dr H Romadlon, MM*
ADA momen-momen dalam sejarah NU, adalah ketika langit tampak terlalu berat untuk ditopang generasi yang sedang memegang palu keputusan. Pada detik-detik seperti itulah para sesepuh turun gunung—bukan untuk mengambil alih, tetapi untuk mengembalikan arah kompas.
Ahad, 30 November 2025, di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, kita saksikan kembali tradisi mulia itu. Di bawah prakarsa KH. Anwar Manshur dari Lirboyo dan KH. Nurul Huda Djazuli dari Ploso, para masyayikh berkumpul dalam Forum Musyawarah Sesepuh Nahdlatul Ulama.
Nama-nama besar yang menjadi pilar batin NU hadir, baik secara langsung maupun melalui ruang digital: KH. Anwar Manshur, KH. Nurul Huda Djazuli, KH. Ma’ruf Amin, KH. Said Aqil Siroj, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, KH. Abdul Hannan Ma’shum, KH. Kholil As’ad, KH. Ubaidillah Shodaqoh, KH. dr. Umar Wahid, hingga KH. Abdulloh Ubab Maimoen. Ini bukan sekadar daftar tamu; ini adalah daftar penjaga akal sehat NU.
Dalam suasana hening namun tegas, para kiai sepuh menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi di tubuh PBNU. Bagi mereka, kegaduhan bukan sekadar perbedaan pandangan, tetapi pertanda bahwa sesuatu yang lebih fundamental sedang terganggu: adab. Maka, seruan islah bukan hanya ajakan damai, melainkan penegasan bahwa NU tidak boleh kehilangan keagungannya karena ulah segelintir elit yang lupa pada rukun organisasi dan rukun hati.
Kiai-kiai sepuh juga menegur dengan bahasa yang lembut tapi mengena: hentikan pernyataan-pernyataan di media yang membuka aib dan menodai marwah jam’iyyah. Dunia digital hari ini memang bergerak cepat, tetapi kecepatan itu tidak boleh mengalahkan kebijaksanaan. NU bukan organisasi yang biasa berjalan dengan keributan; ia tumbuh dari tawadhu’, teduh, dan kejernihan laku. Ketika konflik dijadikan tontonan, maka yang terluka bukan hanya tokoh, melainkan sejarah.
Kepada PWNU, PCNU, PCINU, dan seluruh struktur di bawahnya, para sesepuh menyampaikan pesan yang amat strategis: tetap fokus pada tugas dan wilayah masing-masing. Jangan terseret arus konflik yang sedang melanda PBNU. Karena NU tidak dibangun oleh hiruk pikuk pusat saja; ia tegak oleh ribuan aktivitas kecil di cabang, wakil cabang, ranting, dan dusun-dusun tempat warga menimba ketenangan.
Lebih dari itu, Forum Sesepuh juga mengingatkan warga NU untuk menjaga ukhuwah nahdliyah serta etika bermedsos. Sebab, retak kecil yang dibiarkan di media sosial bisa menjelma jurang yang memisahkan keluarga besar ini. Di tengah derasnya informasi, menjaga lisan digital sama pentingnya dengan menjaga kehormatan diri.
Dan akhirnya, para kiai sepuh menutup forum dengan ajakan spiritual: memperbanyak taqarrub kepada Allah SWT. Sebuah pengingat bahwa jalan keluar terbaik dari persoalan sebesar apa pun seringkali bukan lahir dari strategi struktural, tetapi dari kejernihan batin. NU lahir dari doa para ulama; hingga hari ini, NU tetap berdiri karena doa itu tidak pernah putus.
Catatan pinggir ini berhenti bukan pada kegelisahan, tetapi pada harapan. Ketika para sesepuh kembali berbicara, itu artinya NU masih punya rumah untuk pulang, masih punya cahaya untuk menuntun, dan masih punya alasan untuk percaya bahwa badai tidak pernah lebih kuat dari doa para kiai.(*)





































