CATATAN PINGGIR

DR. ROMADLON SUKARDI, MM*

ALHAMDUILLAH sebuah pemandangan yang menghangatkan hati tersaji dalam acara akad nikah putra-putri Sahabat Purwanto Monali. Hadir para tokoh senior bangsa dan Nahdlatul Ulama yang selama puluhan tahun telah mewarnai perjalanan organisasi, kebangsaan, dan kehidupan umat. Tampak di antaranya KH. Mashuri Malik, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, Dr. H. Endin AJ Soefihara, Dr. H. A. Effendy Choirie, Dr. H. Mujib Rochmat, KH. Khatibul Umam Wiranu, Dr. H. Sultan B. Najamudin (Ketua DPD RI) Dr. H. Andi Jamaro Dulung, H. Choirul Sholeh Rasyid, dan H. Saryono Jahidi.

Dalam bahasa sederhana, mereka adalah para “jenderal berbintang sembilan” PMII pada zamannya. Tokoh-tokoh yang pernah memimpin organisasi, menggerakkan pemikiran, membangun jaringan, mengelola dinamika kebangsaan, serta mengawal perjalanan NU dalam berbagai fase sejarahnya. Kehadiran mereka dalam satu forum seolah menghadirkan kembali memori kolektif tentang masa-masa ketika NU dipenuhi diskursus pemikiran, adu gagasan, kaderisasi, dan pertarungan intelektual yang sehat.

Secara simbolik, forum itu sudah lebih dari sekadar quorum; ia adalah pertemuan pengalaman, kebijaksanaan, dan jejak panjang pengabdian. Namun pertanyaan yang menarik bukanlah siapa yang hadir, melainkan apakah energi moral, intelektual, dan historis yang mereka miliki masih dapat ditransformasikan menjadi kekuatan perubahan bagi masa depan Nahdlatul Ulama?

Pertanyaan yang lebih mendasar lagi adalah: mampukah para senior, para veteran, dan para sesepuh ini menjadi lokomotif kebangkitan kembali kepemimpinan NU yang transformatif, inovatif, kreatif, berintegritas, dan berorientasi peradaban? Bukan untuk merebut kekuasaan organisasi, melainkan untuk mengembalikan NU pada tradisi besar yang diwariskan para muassis: tradisi ilmu, akhlak, kaderisasi, musyawarah, dan kepemimpinan yang berpihak kepada umat.

Sesungguhnya yang dibutuhkan NU menjelang abad keduanya bukan sekadar pergantian figur, melainkan regenerasi kepemimpinan yang mampu menjembatani tiga kekuatan sekaligus: kebijaksanaan para senior, energi kader muda, dan tantangan zaman yang semakin kompleks. NU tidak sedang menghadapi persoalan siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling mampu menyatukan, membimbing, dan menyiapkan jam’iyah memasuki era kecerdasan buatan (AI), ekonomi digital, geopolitik global, serta kompetisi peradaban dunia.

Karena itu, para senior tidak harus kembali menjadi pemain utama di panggung kekuasaan organisasi. Peran yang jauh lebih strategis adalah menjadi “Majelis Hikmah”, menjadi penjaga arah, penjaga marwah, penjaga sanad, sekaligus mentor bagi lahirnya generasi pemimpin baru yang lebih adaptif terhadap masa depan namun tetap kokoh berpijak pada tradisi pesantren.
Pada akhirnya, sejarah tidak selalu membutuhkan para jenderal untuk kembali bertempur. Terkadang sejarah hanya membutuhkan mereka untuk duduk bersama, memberikan hikmah, merajut persatuan, dan menyiapkan lahirnya para pemimpin yang lebih baik daripada dirinya.

Dan itulah sesungguhnya kemenangan terbesar seorang negarawan, ulama, maupun pejuang organisasi: melahirkan generasi penerus yang mampu membawa estafet perjuangan menuju masa depan yang lebih mulia.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry