dr. Warda El Maida Rusdi, M.Ked.Trop., FISCM
Dosen Fakultas Kedokteran (FK)
KRISIS pangan menjadi tantangan serius yang dihadapi masyarakat di negara tropis, termasuk Indonesia. Perubahan iklim yang tidak menentu, gagal panen, serta naiknya harga bahan pokok menyebabkan banyak keluarga kesulitan memperoleh makanan bergizi.
Kondisi ini berimbas langsung pada meningkatnya kasus kekurangan gizi, anemia, dan stunting pada anak-anak, terutama di daerah pedesaan. Para pakar menilai bahwa krisis pangan bukan hanya masalah ketersediaan bahan makanan, tetapi juga menyangkut kualitas gizi yang dikonsumsi masyarakat.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO, 2024) menegaskan bahwa ketahanan pangan harus mencakup empat aspek utama: ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas pangan. Dalam konteks ini, masyarakat yang hanya fokus pada jumlah makanan tanpa memperhatikan kandungan gizinya tetap berisiko mengalami malnutrisi tersembunyi (hidden hunger).
Kekurangan zat gizi seperti protein, zat besi, dan vitamin A dapat menurunkan daya tahan tubuh, melemahkan kemampuan belajar, serta mengurangi produktivitas kerja (WHO, 2023; UNICEF, 2024).
Penelitian oleh Ruel dan Alderman (2019) juga menunjukkan bahwa gizi buruk memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya angka penyakit infeksi di negara-negara tropis, karena sistem imun yang lemah membuat tubuh lebih rentan terhadap berbagai patogen.
Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan gizi seimbang menjadi faktor kunci untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif di tengah ancaman krisis pangan global.
Untuk mengatasi hal tersebut, berbagai langkah dapat dilakukan di tingkat individu, komunitas, dan pemerintah. Pertama, masyarakat perlu meningkatkan konsumsi pangan lokal bergizi seperti kelor, tempe, ikan, dan umbi-umbian yang kaya protein dan mikronutrien.
Kedua, diperlukan edukasi gizi dan perilaku hidup sehat melalui kegiatan sekolah, posyandu, dan media sosial agar masyarakat memahami pentingnya pola makan seimbang.
Ketiga, pemerintah bersama perguruan tinggi dapat mengembangkan program ketahanan pangan berbasis komunitas, seperti urban farming, pemanfaatan lahan pekarangan, dan diversifikasi pangan.
Selain itu, pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan juga penting untuk memastikan sistem pangan yang berkelanjutan dan bebas penyakit. Upaya ini selaras dengan rekomendasi FAO dan WHO yang menekankan pentingnya nutrition-sensitive interventions untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan status kesehatan masyarakat. *