Oleh Bey Arifin*

RELASI antara Nahdlatul Ulama’, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia kembali menghangat. Bukan karena konflik terbuka, melainkan karena kritik yang mulai menemukan panggungnya sendiri.

Ketika Cak Muhaimin Iskandar menyuarakan kritik terhadap arah NU di bawah kepemimpinan Yahya Cholil Staquf, publik tidak hanya mencermati substansi kritik tersebut, tetapi juga membaca jalur distribusinya melalui siapa ia disuarakan dan ke mana ia diarahkan. Di titik inilah, PMII kerap dipersepsikan berada di tengah pusaran.

Dalam organisasi besar, kritik tidak pernah tunggal makna. Ia bisa tampil sebagai koreksi moral yang tulus, namun pada saat yang sama juga dapat berfungsi sebagai instrumen konsolidasi kekuatan. Dalam ekosistem yang saling beririsan seperti NU–PKB–PMII, batas antara keduanya menjadi semakin kabur.

Apa yang tampak sebagai idealisme bisa dibaca sebagai positioning, sementara kritik yang terdengar normatif dapat ditafsirkan sebagai strategi. Ambiguitas inilah yang kemudian memunculkan keraguan publik: apakah ini suara nurani atau kalkulasi politik.

Sebagai organisasi kader, PMII sejatinya memikul peran strategis sebagai penjaga nalar kritis, ruang dialektika intelektual, sekaligus benteng idealisme Aswaja. Namun realitas sosial-politik tidak pernah steril. Mobilitas kader PMII ke ranah politik ,terutama ke PKB membuat garis demarkasi antara independensi dan afiliasi menjadi semakin tipis.

Dalam posisi ini, PMII kerap berada dalam dilema: tetap menjadi ruang kader yang otonom, atau tanpa sadar menjadi kanal resonansi kepentingan. Pertanyaan publik pun mengemuka secara sederhana namun tajam: apakah suara yang muncul benar-benar lahir dari kesadaran kader, atau sekadar gema dari kekuatan yang lebih besar?

Di sisi lain, PKB sebagai partai politik tidak bisa dilepaskan dari logika kekuasaan. Kritik terhadap NU dalam perspektif politik dapat dibaca sebagai upaya menjaga basis nahdliyin, mempertahankan relevansi, atau bahkan sebagai bentuk tekanan yang halus.

Dalam dunia politik, kritik bukan sekadar ekspresi moral, melainkan juga alat negosiasi posisi. Persoalan menjadi sensitif ketika kritik politik mulai memasuki wilayah otoritas keagamaan, karena pada titik itu batas antara kepentingan kekuasaan dan otoritas moral menjadi rentan kabur.

Sementara itu, di bawah kepemimpinan Yahya Cholil Staquf, NU tengah bergerak menuju panggung global dengan membawa isu peradaban, perdamaian, dan Islam rahmatan lil ‘alamin. Namun setiap langkah ke luar selalu diiringi tekanan dari dalam.

Kritik yang muncul, baik secara langsung maupun melalui berbagai kanal sosial, menjadi ujian penting: apakah NU mampu mempertahankan posisinya sebagai otoritas moral, atau justru mulai terseret dalam tarik-menarik kepentingan internal.

Menyederhanakan relasi NU–PKB–PMII sebagai “sirkel kekuasaan” jelas tidak memadai. Yang lebih tepat adalah melihatnya sebagai dialektika antara tiga logika besar: NU dengan basis moral dan keilmuan, PKB dengan orientasi kekuasaan, serta PMII dengan mandat kaderisasi dan idealisme.

Ketiganya tidak harus selalu berada dalam harmoni , ketegangan justru merupakan bagian dari dinamika. Namun dialektika hanya akan sehat jika masing-masing entitas tetap jujur pada peran dan batasnya.

Masalah serius muncul ketika batas-batas tersebut mulai runtuh: idealisme kehilangan independensi, kritik kehilangan kejujuran, dan organisasi kehilangan arah. Jika kondisi ini dibiarkan, maka yang tersisa bukan lagi dialektika yang produktif, melainkan sekadar gema kepentingan yang saling memantul tanpa substansi.

Pada akhirnya, publik nahdliyin tidak membutuhkan harmoni semu, melainkan kejelasan posisi dan kejujuran sikap. Jika itu kritik, nyatakan sebagai kritik. Jika itu politik, akui sebagai politik.

Jika itu kaderisasi, jalankan dengan independensi. Sebab pertanyaan yang paling mendasar hari ini bukan lagi siapa mengkritik siapa, melainkan apakah NU tetap menjadi penuntun arah umat, atau justru berubah menjadi arena pertarungan kepentingan yang kehilangan arah.

*Bey Arifin adalah Pengurus IKAPETE (Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng) Jombang.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry