Oleh: Abdur Rahman El Syarif

MENJELANG Muktamar Nahdlatul Ulama yang semakin dekat, percakapan tentang kepemimpinan perlahan menemukan nadanya. Setelah fase islah membuka ruang hening, dan setelah berbagai perenungan tentang kriteria kepemimpinan disampaikan, kini muncul satu pertanyaan yang mulai berbisik di banyak ruang: ketika kriteria itu telah dirumuskan, di mana ia menemukan wajahnya?

Pertanyaan ini tidak lahir dari kegelisahan yang tergesa-gesa, melainkan dari proses yang pelan dan bertahap. Sebelumnya, kita telah sampai pada satu kesadaran penting bahwa NU tidak sekadar membutuhkan figur, tetapi membutuhkan keselarasan kepemimpinan. Gagasan tentang duet kepemimpinan, antara kompas ruhani dan nahkoda zaman, bukanlah metafora yang indah semata, tetapi sebuah kebutuhan struktural sekaligus kultural yang semakin terasa relevansinya.

Rais ‘Aam sebagai kompas ruhani adalah penjaga arah yang memastikan NU tidak kehilangan orientasi. Ia menenangkan ketika terjadi kebisingan, menjernihkan ketika terjadi kekaburan, dan menjaga batas ketika godaan melampaui adab mulai menguat. Di sisi lain, Ketua Umum Tanfidziyah sebagai nahkoda zaman adalah penggerak yang membawa NU melintasi gelombang perubahan, menerjemahkan nilai menjadi gerakan, dan memastikan bahwa kehadiran NU tetap dirasakan di tengah masyarakat yang terus bergerak.

Dalam kerangka ini, pembicaraan tentang kepemimpinan tidak lagi cukup dilihat secara parsial. Kita tidak lagi sekadar bertanya siapa yang paling kuat secara individual, tetapi siapa yang paling tepat dalam keselarasan. Siapa yang, jika dipertemukan dalam satu kepemimpinan, justru saling menguatkan, bukan saling meniadakan.

Di titik inilah, kriteria yang selama ini dirumuskan mulai menemukan makna barunya. Ia tidak lagi berdiri sebagai konsep abstrak, tetapi mulai beresonansi dengan realitas. Warga nahdliyyin, dengan kepekaan kultural yang khas, perlahan mulai membaca: mana sosok yang menghadirkan keteduhan sanad, dan mana yang memancarkan kecakapan membaca zaman. Mana yang berbicara dengan bahasa kebijaksanaan, dan mana yang bergerak dengan ketegasan yang terukur.

Namun, penting untuk ditegaskan bahwa proses ini bukanlah proses penunjukan. Ia lebih menyerupai proses pengenalan. Dalam tradisi pesantren, sesuatu yang benar biasanya tidak diumumkan dengan keras, tetapi dikenali dengan perlahan. Ada rasa yang tumbuh, ada keyakinan yang mengendap, dan pada akhirnya, ada kesepahaman yang muncul tanpa harus dipaksakan.

Di tengah proses ini, yang perlu dijaga adalah kejernihan niat. Sebab, ketika pembicaraan mulai bergerak dari kriteria menuju figur, godaan untuk kembali pada pola lama selalu terbuka. Polarisasi, tarik-menarik kepentingan, dan pendekatan yang terlalu pragmatis bisa kembali mengaburkan arah. Padahal, seluruh perenungan yang telah dibangun sebelumnya justru dimaksudkan untuk menghindari itu semua.

Karena itu, yang dibutuhkan saat ini bukanlah percepatan kesimpulan, melainkan keteguhan menjaga standar. Kriteria yang telah disepakati secara kultural harus tetap menjadi rujukan utama. Bukan figur yang memaksa kriteria untuk menyesuaikan, tetapi kriteria yang secara alamiah mengantarkan kita pada figur yang tepat.

Jika proses ini dapat dijaga, maka pilihan yang lahir dari Muktamar tidak hanya akan terasa sah secara prosedural, tetapi juga kuat secara moral dan kultural. Ia tidak akan menjadi keputusan yang diperdebatkan berkepanjangan, melainkan keputusan yang diterima sebagai hasil dari kedewasaan bersama.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu tergesa-gesa menyebut nama. Sebab, ketika kriteria benar-benar hidup dalam kesadaran kolektif, wajah itu akan muncul dengan sendirinya, dikenali, diterima, dan diharapkan. Bukan karena didorong, tetapi karena dirasakan tepat.

Di situlah kepemimpinan menemukan legitimasinya yang paling dalam: bukan pada suara yang paling keras, tetapi pada kesesuaian yang paling jernih.

Dan jika itu terjadi, maka Muktamar bukan hanya akan melahirkan pemimpin baru, tetapi juga menandai satu tahap kematangan NU sebagai peradaban, yang mampu memilih bukan karena dorongan sesaat, melainkan karena kesadaran yang utuh.

#NU #PBNU
#MuktamarNU2026
#JATMAN

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry