
SURABAYA | duta.co – Siapa bilang anak ataupun seseorang dengan keterbatasan tertentu tidak bisa berkarya dan mandiri. Semua bisa asalkan dibina dan dikembangkan sesuai kemampuan. Pastinya dengan pola pendidikan yang berbeda dengan kebanyakan anak normal.
Secara umum, istilah payung seluruh kondisi tersebut ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) atau penyandang disabilitas. Masing-masing kondisi memiliki sebutan dan klasifikasi medis. Ada beberapa jenis penyandang disabilitas seperti tunarungu, tunagrahita, tunadaksa autis dan ODGJ.
Justru dengan keterbatasan dan tidak bisanya diatur, karya disabilitas memiliki cirikhas yang unik, original, otentik dan tidak diulang. Ketika mereka membuat lukisan batik di atas kain, sesuai yang dia mau, tidak bisa dibuatkan pola baku, cenderung semaunya dan sekenanya. Justru tampilan khas tersebut mampu menampilkan karya menonjol yang tidak bisa ditiru dan di ulang pada masing-masing.
Untuk bisa menjadikan disabilitas dan ODGJ bisa melukis tidak bisa instan dan perlu proses panjang serta perjuangan berliku, kesabaran tingkat dewa. Ditangan Zakiyah Fitri owner Alifah Collection dan owner ZALIVA Premium Fashion, hasil lukisan batik disabilitas dan ODGJ menjadi sebuah karya fashion menarik, original, otentik dan tidak ada kembarannya.
“Justru disitulah keunikan dan keunggulan karya lukisan batik disabilitas dan ODGJ yang berhasil dikumpulkan dan dipadu padankan dengan disain baju yang akan diproduksinya. Kalau mau bikin baju harusnya kan pola bajunya dulu, kalau ini berbeda. Setelah melihat lukisan kain hasil lukisan disabilitas dan ODGJ ukuran 40 cm, baru dipikirkan mau dibentuk model seperti apa,” kata Zakiyah Fitri menceritakan.
Suka Duka Mentorin Disabilitas dan ODGJ
Zakiyah Fitri, pemilik usaha garmen Alifah Collection sekaligus brand ZALIVA, dikenal sosok aktif memberdayakan disabilitas dan ODGJ di Surabaya melalui pelatihan membatik dan karya sejenis seperti dompet. Lewat inisiatif sosial dan bisnis inklusifnya, ia melatih aspek motorik serta kemandirian mental para penyandang disabilitas.
Kiprah Zakiyah Fitri dengan brand ZALIVA mendidik disabilitas dan ODGJ membatik setidaknya ada empat point menjadi fokus dan tujuan utamanya. Fokus utama pemberdayaan. Saat ini terdapat sekitar 30 anak disabilitas ditambah 20 an katagori ODGJ di Bengkel Sehat Mandiri Menur Pumpungan Surabaya dan Liponsos Kalijudan yang juga dibinanya mengasah keterampilan motorik dan kreativitas lewat produksi batik serta kerajinan tangan di bawah binaannya.
“Memberdayakan disabilitas dan ODGJ berkarya bisa menumbuhkan kepercayaan diri dan bukan memanfaatkan mereka sebagai nilai selling produk. Brand Zaliva memang menggunakan part batik yang diporduksi mereka, namun bukan semata memanfaatkan melainkan memberikan nilai lebih bagi karya mereka jadi kesatuan produk fashion yang diproduksi dengan brand Zaliva,” kata Zakiyah Fitri dalam satu perbincangan.
Zakiyah Fitri menambahkan tujuan lain mengajari dan mengarahkan mereka agar mereka bisa mandiri meski dengan kondisi keterbatasan. Proses pelatihan tidak hanya berfokus pada teknik pembuatan kain atau kemampuan tangan (fisik), tetapi juga dirancang untuk membangun kemandirian mental dan ekonomi agar mereka siap menghadapi tantangan masa depan.
“Keterbatasan kemampuan tidak seharusnya juga mereka juga terbatas untuk berkreasi sesuai kemampuan. Justru dengan keterbatasan itulah, ada nilai lebih tidak bisa ditiru dan dilakukan orang lain, kaitannya originalitas dan karya spontanitas yang berbeda dan menarik. Itulah yang kami coba kembangkan dan berdayakan,” ujar Zakiyah Fitri.
Zakiyah Fitri menambahkan apa yang dilakukan dengan menjadi mentor, pengajar sekaligus membeli produk anak disabilitas di Rumah Anak Prestasi Kota Surabaya kusus untuk anak disabilitas berasrama, Liponsos Kalijudan kusus disabilitas tidak berasrama dan Bengkel Sehat Mandiri kusus untuk ODGJ.
“Gerakan inklusif kami usung lewat Zaliva by Zakiyah Fitri mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk program tanggung jawab sosial dari korporasi seperti PGN, yang memperluas ruang apresiasi pasar bagi karya ramah disabilitas tersebut.”
Yang lebih penting jelas Zakiyah Fitri perpaduan karya anak disabilitas dan ODGJ tersebut menjadi panggung Kreativitas. Hasil kain batik yang diproduksi juga diintegrasikan ke dalam lini rancangan busananya (fashion design), memberikan pembuktian bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi anak-anak tersebut untuk menghasilkan karya bernilai tinggi
Zakiyah Fitri, menyampaikan apresiasi atas dukungan PGN yang membuka ruang lebih luas bagi anak disabilitas untuk berkarya. Tidak hanya mamopu menghasilkan karya, menumbuhkan rasa percaya diri dan mandiri juga mampu menghasilkan nilai materi yang selama ini tidak pernah dibayangkan.
“Anak-anak disabilitas memiliki kreativitas dan semangat belajar yang luar biasa. Dengan dukungan PGN, mereka mendapatkan ruang untuk berkarya sekaligus merasakan langsung apresiasi dari masyarakat,” ujar Zakiyah.
Program tersebut diharapkan dapat membuka peluang kemandirian ekonomi di masa depan. Ke depan, PGN dan Zaliva berkomitmen melanjutkan program pelatihan secara berkelanjutan untuk memperkuat peran UMKM sebagai penggerak ekonomi inklusif di masyarakat.
Ikhlas dan Bangga Berdayakan Disabilitas dan ODGJ
Tidak ada latar belakang pendidik apalagi ilmu pendidikan luar biasa tidak menjadikan Zakiyah Fitri surut terus belajar memahami dan mendidik puluhan disabilitas dan ODGJ yang diberikan kepadanya. Dibantu dengan suaminya yang juga memiliki visi misi sama membantu memberdayakan disabilitas bermakna, mandiri dan berkarya.
Sudah puluhan tahun Zakiyah Fitri dan suami tiap hari membantu mengajari disabilitas di tiga lembaga yang dibangun Pemkot Surabaya. Yakni Rumah Anak Prestasi, Liponsos dan Bengkel Sehat Mandiri. Zakiyah Fitri sendiri mengawali bisnis konveksi tahun 2005 dengan produk unggulannya seragam sekolah, instansi, baju muslim dan aneka souvenir.
“Dari usaha konveksi yang digelutinya dilirik PGN dijakan mitra binaan. Dari pertama produksi baju seragam sekolah dan seragam instansi berkembang ke produk fashion seperti baju batik, baju anak-anak, kita setor ke store juga untuk dipasarkan pameran. PGN memberikan pelatihan, ikut pameran, bantuan mesin jahit dan modal usaha untuk pengembangan usaha,” jelas.
Zakiyah Fitri menambahkan pelatihan yang diberikan PGN sangat membantu pengembangan usahanya berkembang lebih maju. Pelatihan yang diberikan lebih banyak pada sisi pengetahunan bagaimana seharusnya bisnis fashion dikembangkan sebagaimana mestinya. Bukan asal bikin baju, planingnya bagaimana serta melihat trend baju yang sedang berkembang dan endingnya produknya supaya bisa diterima pasar.
“Selain bantuan mesin jahit, bahan juga pinjaman modal mulai Rp 30 juta, meningkat menjadi Rp 60 juta dan yang terakhir Rp 100 juta. Bantuan modal sangat penting bagi pelaku UMKM, namun bukan terus mengharapkan bantuan, harus lebih strugling dalam pengembangan dengan bantuan modal yang diberikan,” ujar Zakiyah Fitri.
Lebih jauh Zakiyah Fitri menambahkan kalau di awal usaha lebih fokus ke produk fashion, namun kini sebaliknya lebih fokus ke orderan seragam sekolah, seragam instansi dan pemerintahan guna mengatur cashflow usaha dua brand yang dikembangkan yakni Allifa dan Zaliva. Dua brand yang berbeda segmen pasarnya, Alifa untuk jenis seragam sekolah, instansi dan MBR, sementara untuk Zaliva untuk segmen branded premium fashion yang melibatkan produk disabilitas dan ODGJ.
“Awal mula diberi amanat mengajari disabilitas sama Pemkot Surabaya bermula brand Allifa ikut penyedia seragam Pemkot yang membagikan seragam sekolah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Dari situ dinas tenaga kerja menawari bagaimana kalau memberikan pelatihan buat warga miskin di sejumlah kecamatan. Dan kebetulan salah satu peserta kursus jahit disabilitas. Mungkin saya dianggap bisa berinteraksi dengan disabilitas dan berhasil,” jelas Zakiyah Fitri.
Tantangan mendapat amanah mengajari membatik disabilitas dan ODGJ bagi Zakiyah Fitri bukan menjadikannya beban malah sebaliknya. Meski dalam pikiran tidak pernah terbayang bagaimana berinteraksi dengan bahasa mereka, pola pengajaran dengan disabilitas berbagai jenis pastinya tidak mudah.
“Dengan tekad dilandasi amanah niat berbagi ilmu yang kumiliki dengan disabilitas dan ODGJ, semua bisa berjalan dan mampu menghasilkan karya original dan menarik ketika digabungkan dalam satu desain baju. Awalnya saya tidak kepikiran nanti akan bersama atau bersinergi dengan anak-anak disabilitas,” tegas Zakiyah Fitri.
Salah satu kunci dari interaksi dan memberikan pengajaran kepada disabilitas dan ODGJ yakni sabar sabar sabar serta memahami karakter masing-masing. Juga belajar bahasa isyarat masing masing jenis disabilitas sehingga paham yang mereka ucap dan maui. Dengan tingkat pemahaman, kecerdasaran dan keahlian yang berbeda masing masing disabilitas, saya membaginya dalam beberapa kelompok tidak disamaratakan.
“Dari pengelompokan tersebut ternyata cukup efektif meski. Yang penting mereka senang berkegiatan, berinteraksi dengan saya, dengan sesama serta mampu menghasilkan karya dalam bentuk batik lukis. Dari coretan lukisan tersebut menjadi bahan untuk dikembangkan dan dipadupadankan dengan desain yang saya kembangkan dengan brand Zaliva,” ujar Zakiyah Fitri.
Ketika ditanya kok mau repot repot membagi ilmu, mengajari dan menjadikan karya mereka menjadi bernilai, Zakiyah Fitri mengatakan sudah dituntun Allah untuk menjadi bagian dari disabilitas dan ODGJ. Karena ada teman yang ahli sablon dengan tegas mengatakan tidak mau karena repot dan tidak menguntungkan.
“Bagi saya dan suami malah sebaliknya. Menjadi bagian, bisa bernteraksi mengajari dan mengambil karya mereka ada kepuasan dan kebnanggaan bisa membantu disabilitas dan ODGJ berkarya dan berdikari. Lima tahun terakhir ini lebih banyak dan intens berkegiatan dengan anak disabilitas dan ODGJ dan bertekad bisa mengenalkan karya mereka ke skala lebih luas.”
Zakiyah Fitri menambahkan pola interaksi mengajar mereka bukan hanya sebagai murid dan guru, juga sebagai teman. Kuncinya yang membuat mereka itu nyaman sama kita dengan cara komunikasi beda-beda. Dengan tingkat disabilitas yang berbeda-beda juga. Dengan itu kita harus benar-benar faham dengan mereka.
“Jadi kita itu belajarnya sambil berjalan melihat karakternya mereka. Memang tidak bisa langsung. Jadi pertama kali misalnya ada murid baru, kita harus tanya dulu ke orang tuanya kebiasaan dan karakternya. Kita dekat layaknya orangtua dengan mereka. Menghadapi disabilitas autis berbeda pula, karena tidak terbiasa dan tidak suka dengan keramaian. Jadi harus benar paham satu persatu jenis disabilitas dan karakternya.”
Zakiyah Fitri mencontohkan misal menjahit belum bisa sesuai pola diajari menjahit garis lurus-lurus yang penting dia bisa menstabilkan motorik. Semikian juga dalam membatik tetap dikasih contoh, namun balik lagi bergantung mereka mau mencontoh apa tidak. Justru dengan kerandoman cara membatik lewat lukisan di kain menjadi karya yang berbeda, original dan tidak bisa diulang.
“Jadi batiknya mereka diberi kebebasan melukis diatas kain ukuran 40 cm, karya, coretan ataupun taburan lukis dipotong dengan motifnya random. Justru uniknya disitu malah saya sering tawarkan ke teman teman desainer alhamdulillah banyak yang suka,” jelas Zakiyah Fitri.
Berbeda pula dengan pola mengajar di Liponsos jelas Zakiyah Fitri, dimana sebagian besar dari mereka punya pikiran dan kecerdasan layaknya orang normal. Namun mereka depresi banyak beban yang ditanggung sehingga sering bertingkah layaknya tidak normal.
“Kebanyakan yang di Liponsos usia dewasa. Ada salah satu ODGJ yang bekas penjahit, ketika diajari bisa langsung respon dan nyambung dan memudahkan dalam mengajari dan membimbing. Berbeda dengan ODGJ perlu lebih waspadai karena tidak stabilan pikiran mereka.”
Kata Disabilitas Bisa Membatik
Riski Dewantara Putra (25) disabilitas slow learner / tuna grahita mengaku sangat saya dengan pembelajaran batik sehingga bisa membatik. Tujuannya berkarya bikin batik agar bisa memiliki uang banyak dari hasil karya sendiri.
“Saya juga senang fashion sehingga sangat antusias dengan belajar membatik karena bisa menampilkan dann menghasilkan karya. Pastinya bangga dengan keterbatasan masih bisa menghasilkan karya dan uang,” jelas Riski.
Demikianhalnya Qori (23) disabilitas tuna rungu belajar membatik menambah pengetahuan yang selama ini pasti sulit didapatkan. “Saya suka membatik dan akan terus belajar meneghasilkan karya terbaik.” Kata Qori dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan Zakiyah Fitri.
Zakiyah Fitri menambahkan dari sejumlah rumah binaan disabilitas dan ODGJ setiap bulannya ada karya yang dihasilkan. Satu batik satu warna satu motif dengan jenis batik lukis, yang pakai canting hanya beberapa karena kebanyakan tidak bisa pakai canting lebih rumit.
“Dari karya batik mereka dikombinasikan dalam satu karya baju. Untuk bikin baju kalau selama ini dipola dulu malah sebaliknya lihat model dan coraka lukisnya baru diaplikasikan dengan bentuk disain seperti apa,” jelas Zakiyah Fitri yang juga mendapatkan beasiswa ke Susan Budiharjo.
LPTB Susan Budihardjo (Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo) adalah salah satu sekolah mode dan lembaga kursus desain busana pertama serta paling legendaris di Indonesia yang didirikan oleh Susan Budihardjo pada tahun 1980.
Bekal ilmu dari sekolah mode Susan Budiharjo menjadi Zakiyah Fitri sarjana ekonomi, ibu rumah tangga dan penjahit ini makin memantapkan diridi bisnis fashion. Tidak hanya mengajari dan memberdayaka disabilitas dan ODGJ, di workshop nya juga ada puluhan ibu ibu yang menjahit orderan untuk merek Allifa yang fokus pada baju seragam dan bendera.
“Saya sudah bekerja disini lebih dari 25 tahun. Saya senang karena nyaman, kerjanya tidak ada tekanan berat dan pemiliknya enak. Makanya betah selain dekat dengan rumah,” kata Sumarlik (65) salah satu penjahit dari puluhan penjahit di workshop Alifah Collection.
Dari Ibu Tukang Jahit Sukses Bisnis Baju Muslim
Sebelum Zakiyah Fitri membuka usaha baju muslim miliknya, dia dan orangtua mempunyai usaha jasa terima jahitan baju. Jahitan yang diterima misalnya baju seragam. Setelah itu, ia pun termotivasi untuk membuka usaha sendiri. Zakiyah punya niatan untuk menggeluti usaha baju muslim. Tetapi, ia mengawalinya untuk segmen anak-anak.
Kini, Zakiyah Fitri sudah sukses membuka usaha baju muslimnya sendiri. Dengan modal awal sebesar satu buah motor, ia bahkan berhasil meraih omzet dan memberdayakan ibu ibu sekitar rumahnya yang dijadikan workshop menjadi tukang jahit membantu perekonomian keluarga tanpa ganggung tugas utamanya sebagai ibu rumah tangga.
Awal mulanya ia berbisnis, Zakiyah mengaku menemui kesulitan ketika memulai usaha yang dinamakannya Alifah Collection. Kesulitannya adalah permodalan. Ia pun harus menjual motornya.
Hasil penjualan motor itu lantas ia belikan dua buah mesin jahit. Kedua mesin itu dibelinya dengan harga sekitar Rp 1,4 juta. Setelah sekian lama membuat baju muslim anak, ia pun tertantang membuat baju untuk orang dewasa. Alasannya, kurang variatif kalau hanya menyasar anak-anak.
Selain tenaga kerja, ia pun butuh mesin tambahan. Dari informasi seorang teman, Zakiyah mendaftar untuk menjadi mitra binaan PGN di Surabaya. Setelah melalui proses yang cukup selektif, ia pun tercantum sebagai mitra binaan sejak tahun 2006 sampai sekarang.
Bergabung sebagai mitra binaan, ia pun mendapatkan sejumlah keuntungan. Mulai dari pelatihan tentang manajemen hingga diikutsertakan dalam sejumlah pameran di Jakarta-Bandung bahkan Malaysia.
Selain dua hal itu, ia yang merupakan sarjana ekonomi pembangunan pun mendapatkan hibah peralatan dari PGN, yakni tiga set mesin dan bahan seharga Rp 20-Rp 25 juta. Dengan peralatan dan tenaga kerja yang ada, ia bisa menghasilkan 700 potong baju baik dewasa dan anak per bulannya. Ia memasang harga baju buatannya, paling mahal Rp 200.000. Produk jilbab merupakan barang termurah dengan harga Rp 40.000.
Penjualan dilakukannya melalui toko-toko baju, pameran, ataupun pemesanan melalui telepon. Sistem pembayarannya adalah konsinyasi. “Ada yang sistemnya bayar mundur 2-3 bulan. Terima barang bayarnya mundur, yang enggak laku tetap dibeli, tapi dibayar mundur,” ucapnya.
Zakiyah juga berinovasi dengan model-model baju terbaru. Ke depan, ia pun berniat merambah pasar negara tetangga, seperti Malaysia.
Cerita Zakiyah Fitri Merintis Usaha Garmen
Bergelut dengan dunia kain dan mesin jahit sejak tahun 2005 menghantarkan seorang pelaku UMKM Surabaya, Zakiyah Fitri, sukses menjadi perancang busana dan instruktur menjahit. Fitri, sapaan akrabnya, memiliki kemampuan mendesain pola dan menjahit pakaian yang diwarisi dari sang ibunda.
“Awalnya saya menolak belajar menjahit. Namun, atas arahan ibu dan setelah saya berpikir bahwa keterampilan ini bisa menghasilkan uang jika ditekuni, saya pun berubah pikiran untuk mempelajarinya lebih dalam. Pada akhirnya, saya berhasil secara otodidak berkat mengamati ibu saya. Saat itu, feeling untuk memotong kain dengan pas sudah saya rasakan,” cerita Zakiyah Fitri.
Lulusan UPN Jurusan Ekonomi Pembangunan tahun 2005 ini memulai usaha konveksi dengan sistem produksi massal, seperti membuat seragam sekolah, seragam kantor, pakaian untuk terapis spa, dan mukena. Namun, seiring berjalannya waktu, Fitri juga mulai memproduksi busana ready to wear atau busana siap pakai, termasuk batik.
“Saat ini, fokus utama tetap pada seragam, yaitu enam puluh persen, sedangkan batik empat puluh persen. Untuk batik, lebih banyak memproduksi luaran atau outer batik serta atasan batik dengan motif khas Surabaya seperti Sparkling Surabaya, Abiboyo, dan Gembili Wonokromo. Tentunya, pengerjaannya menggunakan teknik batik cap dan tulis,” imbuhnya.
Atas ketekunannya, ia berhasil mendapatkan beasiswa sekolah fashion designer pada tahun 2016 di sebuah lembaga tata busana di Surabaya. Program ini berlangsung selama satu tahun dan diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur (KPwBI Jatim).
Fitri juga aktif mengikuti pameran UMKM. Bahkan, ia pernah bekerja sama dengan warga Singapura yang saat itu mendatangi stan UMKM miliknya. Selama satu tahun, ia rutin mengirimkan produk berbahan kain perca, seperti tas laptop, dompet, dan sarung bantal.
Saat ini, Fitri bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Komunitas Perkumpulan Pengusaha Busana Jawa Timur dan Surabaya tengah mempersiapkan pertunjukan fashion show.
PGN Perkuat Ekonomi Inklusif UMKM dan Disabilitas
PGN Subholding Gas Pertamina memperkuat komitmennya dalam pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang inklusif serta pengembangan kreatif anak-anak disabilitas.
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman menyatakan upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan UMKM binaan Zaliva menghadirkan ruang kreatif bagi anak-anak disabilitas dalam ajang Batik Bordir & Aksesoris Fair 2026, yang digelar di Surabaya pada 6 – 10 Mei 2026 lalu.
Kolaborasi ini, lanjut dia, tidak hanya menampilkan karya kreatif UMKM lokal, tetapi juga membuka ruang partisipasi aktif bagi anak-anak disabilitas untuk mengembangkan potensi, kreativitas, serta rasa percaya diri melalui pelatihan membatik dan keterlibatan langsung dalam pameran.
“Program ini tidak hanya memberi ruang berekspresi, tetapi juga membuka peluang ekonomi inklusif bagi anak disabilitas dan UMKM binaan,” ujarnya.
Menurut Fajriyah, inisiatif tersebut merupakan upaya perusahaan menghadirkan pemberdayaan yang berkelanjutan, tidak semata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penciptaan kesempatan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan ruang yang inklusif agar anak-anak disabilitas dapat menyalurkan kreativitas, membangun rasa percaya diri, serta memiliki peluang untuk lebih mandiri melalui karya yang mereka hasilkan,” katanya.
Selama pameran berlangsung, sebanyak lima anak disabilitas dari Rumah Anak Prestasi turut ambil bagian dalam kegiatan demo membatik di booth UMKM PGN. Anak-anak tunarungu, tunagrahita dan tunadaksa tersebut, selain memamerkan keterampilan membatik, juga berinteraksi dengan pengunjung, menunjukkan bahwa kreativitas dan semangat berkarya dapat tumbuh tanpa batas.
Pada kesempatan tersebut perusahaan juga membawa lima UMKM binaan unggulan dari Garut, Padang, Palembang, Tangerang, dan Depok sebagai komitmen PGN dalam memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing usaha lokal.
Pemilik UMKM binaan Zaliva, Zakiyah Fitri menyatakan dukungan BUMN tersebut membuka ruang lebih luas bagi anak-anak disabilitas untuk terus berkarya dan berinteraksi dengan masyarakat.
“Saat ini sekitar 30 anak disabilitas aktif mengikuti pelatihan keterampilan bersama Zaliva, mulai dari membatik hingga pembuatan berbagai kerajinan tangan.”
Ke depan jelas Fajriyah, PGN dan Zaliva berkomitmen melanjutkan program pelatihan secara berkelanjutan agar anak-anak disabilitas dapat terus mengembangkan keterampilan yang bernilai ekonomi, sekaligus memperkuat peran UMKM sebagai penggerak ekonomi inklusif di masyarakat.
Menurut dia, kegiatan ini tidak hanya menampilkan produk kreatif UMKM lokal, tetapi juga memberi ruang bagi anak-anak disabilitas untuk terlibat langsung dalam proses berkarya, khususnya melalui pelatihan membatik.
“Program ini tidak hanya memberi ruang berekspresi, tetapi juga membuka peluang ekonomi inklusif bagi anak disabilitas dan UMKM binaan,” ujarnya.
Fajriyah menegaskan inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan menciptakan pemberdayaan berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kesetaraan kesempatan bagi seluruh masyarakat. Imam ghozali






































