CATATAN PERADABAN

Dr. ROMADLON SUKARDI, MM

DI tengah dunia yang bergerak semakin cepat, penuh ketidakpastian, disrupsi teknologi, tekanan ekonomi, perubahan geopolitik, dan tuntutan masyarakat yang semakin kompleks, kepemimpinan tidak lagi cukup hanya pandai membuat kebijakan—ia dituntut mampu membaca zaman, hadir di tengah persoalan rakyat, mengambil keputusan secara cepat, sekaligus menanam investasi peradaban untuk generasi yang belum lahir. Dalam konteks itulah, sikap Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam menerjemahkan empat pedoman kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi menarik untuk dicermati: kepemimpinan yang berangkat dari amanah konstitusi, menjaga kepentingan nasional, cepat merespons kesulitan rakyat, dan berpikir jauh ke depan—sebuah paradigma yang menemukan relevansinya dengan model kepemimpinan transformatif, progresif, inovatif, kreatif, adaptif, humanis, sekaligus berkelanjutan.

Bukan Sekadar Jabatan, Tetapi Pertanggungjawaban

Ada satu kalimat Khofifah yang menurut saya layak diberi garis bawah tebal: “Kepemimpinan adalah tentang memegang teguh amanah yang telah diberikan rakyat dan mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan Yang Mahakuasa.”

Kalimat ini membawa kepemimpinan keluar dari sekadar ruang administratif menuju wilayah etika dan moral.

Pemimpin bukan hanya seseorang yang memiliki kewenangan untuk memutuskan, tetapi seseorang yang memiliki amanah untuk memastikan setiap keputusan menghadirkan kemaslahatan.

Di sinilah empat pedoman yang disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menemukan konteksnya di Jawa Timur: bekerja berdasarkan konstitusi, menjaga kepentingan nasional yang vital, bergerak cepat menyelesaikan kesulitan rakyat, serta memiliki orientasi jangka panjang. Khofifah menyatakan empat pedoman tersebut menjadi acuan penting bagi Jawa Timur dalam mengarahkan pembangunan menuju kemajuan dan kesejahteraan rakyat.

Bagi Jawa Timur, empat pedoman itu sesungguhnya bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia dapat dibaca sebagai arsitektur kepemimpinan. Konstitusi menjadi fondasi.

Kepentingan nasional menjadi kompas.
Kecepatan merespons persoalan rakyat menjadi mekanisme kerja. Dan orientasi jangka panjang menjadi visi peradaban.

Dari Governing menuju Transforming

Kepemimpinan transformatif tidak berhenti pada kemampuan menjalankan pemerintahan secara administratif. Ia bekerja untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Karena itu, keberhasilan pemerintah tidak semata-mata diukur dari berapa banyak program yang dilaksanakan, berapa banyak anggaran yang terserap, atau berapa banyak seremoni yang diselenggarakan.

Ukuran terpentingnya adalah: Apa yang berubah dalam kehidupan rakyat? Apakah petani menjadi lebih sejahtera? Apakah anak-anak memperoleh pendidikan yang lebih baik Apakah keluarga miskin memperoleh kesempatan untuk naik kelas? Apakah UMKM mampu masuk pasar yang lebih luas? Apakah masyarakat memperoleh layanan publik yang lebih mudah? Apakah lingkungan hidup menjadi lebih sehat?

Dan yang paling penting: apakah pembangunan hari ini membuat generasi mendatang memiliki masa depan yang lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi ukuran substantif dari kepemimpinan transformatif.

Kepentingan Nasional Dimulai dari Kekuatan Daerah

Menarik ketika Khofifah menghubungkan pedoman kedua Presiden Prabowo—menjaga kepentingan inti nasional—dengan posisi Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional.

Di sinilah kepemimpinan daerah tidak boleh berpikir sempit sebagai pengelola wilayah administratif.
Gubernur harus berpikir sebagai bagian dari arsitektur pembangunan nasional.

Ketika Indonesia mengejar swasembada pangan, Jawa Timur memiliki posisi strategis karena kekuatan produksi pangan, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, industri pengolahan, hingga jaringan distribusinya.

Khofifah bahkan menegaskan bahwa ketika Indonesia sedang menuju swasembada pangan, Jawa Timur telah bergerak menuju kedaulatan pangan yang berkelanjutan.

Ini adalah perspektif progresif. Sebab swasembada bukan hanya soal berapa ton produksi, tetapi juga tentang siapa yang menguasai rantai nilai, bagaimana petani memperoleh nilai tambah, bagaimana teknologi digunakan, bagaimana regenerasi petani dilakukan, bagaimana lahan dipertahankan, dan bagaimana pangan tetap tersedia bagi generasi mendatang.

Dengan demikian, ketahanan pangan harus bergerak dari food security menuju food sovereignty and sustainability.

Cepat Hadir Ketika Rakyat Membutuhkan

Pedoman ketiga Presiden Prabowo—bekerja cepat mengatasi kesulitan rakyat—juga memiliki makna penting dalam model kepemimpinan Khofifah.

Pemerintahan modern tidak boleh menjadi birokrasi yang menunggu. Ia harus menjadi pemerintahan yang mendengar, membaca, merespons dan menyelesaikan.

Pasar murah, intervensi stabilisasi harga, perlindungan kelompok rentan, pendidikan, kesehatan, perumahan, pemberdayaan ekonomi dan berbagai program sosial sesungguhnya berada dalam satu paradigma yang sama: negara harus hadir sebelum persoalan menjadi krisis.

Dalam perspektif kepemimpinan adaptif, pemimpin tidak cukup bertanya “Apa program kita?” Tetapi harus bertanya: “Apa persoalan masyarakat hari ini, dan seberapa cepat pemerintah mampu memberikan solusi?”
Inilah perubahan paradigma dari *government-centric menuju citizen-centric governance.*

Orientasi Jangka Panjang: Memimpin untuk Mereka yang Belum Lahir

Pedoman keempat barangkali merupakan yang paling dekat dengan konsep pembangunan berkelanjutan.

Sebab seorang pemimpin yang hanya berpikir tentang lima tahun masa jabatan akan cenderung mengejar sesuatu yang cepat terlihat.

Tetapi pemimpin yang berpikir sebagai arsitek peradaban akan bertanya: Apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya?
Khofifah mengaitkan orientasi jangka panjang tersebut dengan bonus demografi.

Indonesia dan Jawa Timur sedang memiliki momentum demografis yang tidak boleh disia-siakan. Bonus demografi bukan otomatis menjadi bonus pembangunan.

Ia baru menjadi bonus apabila negara mampu mengubah jumlah penduduk usia produktif menjadi human capital yang unggul, sehat, berpendidikan, kompeten, kreatif dan berkarakter.

Karena itu, ketika Khofifah kembali menempatkan pendidikan sebagai salah satu instrumen utama memutus rantai kemiskinan, sebenarnya ia sedang berbicara tentang investasi peradaban.

“No One Left Behind” bukan sekadar slogan.
Ia merupakan prinsip bahwa pembangunan tidak boleh meninggalkan anak dari keluarga miskin, masyarakat desa, penyandang disabilitas, kelompok rentan, perempuan, maupun mereka yang secara geografis berada jauh dari pusat pertumbuhan.

Kepemimpinan Kreatif: Mengubah Masalah Menjadi Inovasi

Kepemimpinan progresif juga ditandai kemampuan melihat persoalan bukan sebagai beban, tetapi sebagai ruang inovasi.
Kemiskinan, misalnya, tidak cukup dijawab dengan bantuan sosial. Harus ada pemberdayaan.

Pengangguran tidak cukup dijawab dengan pelatihan. Harus ada link and match dengan dunia industri. Ketahanan pangan tidak cukup dijawab dengan meningkatkan produksi. Harus dibangun ekosistem dari hulu–produksi–hilirisasi–distribusi–pasar. Pendidikan tidak cukup menghasilkan lulusan. Harus menghasilkan manusia yang mampu menciptakan pekerjaan, menguasai teknologi, beradaptasi dengan perubahan dan bersaing secara global.

Inilah kepemimpinan kreatif: mengubah pendekatan lama menjadi solusi baru yang lebih relevan dengan zaman.

Jawa Timur Membutuhkan Leadership Ecosystem

Di era kompleks seperti sekarang, seorang gubernur tidak mungkin bekerja sendirian. Kepemimpinan modern membutuhkan leadership ecosystem.

Pemerintah harus berjalan bersama DPRD, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, pesantren, dunia usaha, industri, UMKM, komunitas, organisasi masyarakat, media, generasi muda dan masyarakat sipil.
Pemimpin tidak lagi menjadi satu-satunya sumber gagasan.

Pemimpin menjadi orchestrator—dirigen yang mampu menyatukan berbagai potensi menjadi sebuah orkestrasi pembangunan.

Dalam perspektif ini, kepemimpinan Khofifah memiliki tantangan sekaligus peluang besar: menjadikan Jawa Timur bukan hanya sebagai provinsi dengan banyak program, tetapi sebagai provinsi dengan ekosistem pembangunan yang bekerja secara terintegrasi.

Dari Program ke Peradaban

Pada akhirnya, pembangunan Jawa Timur tidak boleh berhenti pada daftar program. Program harus menghasilkan perubahan. Perubahan harus menghasilkan budaya.
Budaya harus menghasilkan karakter.

Dan karakter harus melahirkan peradaban.
Inilah mata rantai yang seharusnya menjadi orientasi kepemimpinan.

Empat pedoman Presiden Prabowo yang kemudian diterjemahkan Khofifah untuk Jawa Timur memberikan kerangka yang cukup kuat: konstitusional dalam fondasi, nasionalis dalam orientasi, responsif dalam tindakan, dan visioner dalam perspektif waktu.

Jika empat fondasi tersebut kemudian dipadukan dengan kepemimpinan yang transformatif, progresif, inovatif, kreatif, adaptif, humanis dan berkelanjutan, maka Jawa Timur memiliki peluang besar untuk tidak sekadar menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi.

Lebih dari itu, Jawa Timur dapat menjadi laboratorium kebijakan publik Indonesia.
Tempat di mana ketahanan pangan diuji.

Memimpin Hari Ini, Menyiapkan Hari Esok

Pada akhirnya, kepemimpinan yang baik bukan tentang seberapa lama seseorang berada di kursi kekuasaan. Kepemimpinan dikenang dari berapa banyak kehidupan yang berubah karena kebijakan yang dibuatnya.

Jalan yang dibangun akan aus. Gedung pemerintahan akan menua. Angka-angka statistik akan berganti. Tetapi anak-anak yang memperoleh pendidikan, keluarga yang keluar dari kemiskinan, petani yang semakin sejahtera, UMKM yang naik kelas, generasi muda yang memperoleh kesempatan, serta masyarakat yang merasa negara hadir—itulah warisan kepemimpinan yang memiliki nilai peradaban.

Dan mungkin inilah makna terdalam dari pesan Khofifah bahwa kepemimpinan adalah amanah.

Memimpin bukan hanya mengurus hari ini. Memimpin adalah memastikan bahwa hari esok tidak kehilangan harapan.

Sebab pemerintahan yang hebat bukan sekadar mampu menyelesaikan persoalan masa kini. Pemerintahan yang berkelas peradaban adalah pemerintahan yang mampu membuat generasi masa depan berkata: para pemimpin kami dahulu telah bekerja keras, berpikir jauh, dan meninggalkan negeri ini dalam keadaan yang lebih baik.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry