Oleh: *Abdur Rahman El Syarif*

MENJELANG Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, ruang-ruang percakapan di tubuh jam’iyyah semakin hidup. Di serambi pesantren, di forum kader, di majelis taklim, hingga di ruang-ruang diskusi kaum muda nahdliyyin, satu tema mulai sering dibicarakan dengan nada yang lebih serius: arah kepemimpinan NU ke depan. Ini bukan semata percakapan tentang siapa yang akan terpilih, tetapi tentang bagaimana NU memilih dengan kedewasaan yang sesuai dengan bobot sejarahnya.

Dalam tulisan terdahulu, saya mengajukan gagasan tentang “Duet Kepemimpinan NU: Antara Kompas Ruhani dan Nahkoda Zaman.” Gagasan itu berangkat dari kesadaran bahwa struktur kepemimpinan NU tidak cukup dibaca sebagai pembagian jabatan administratif semata.

Rais ‘Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah adalah dua poros yang harus saling melengkapi. Yang satu menjaga arah ruhani, sanad keilmuan, dan keteduhan jam’iyyah; yang lain menggerakkan organisasi, membaca perubahan zaman, dan membawa kapal besar NU melintasi tantangan sosial-politik yang semakin kompleks.

Dalam tulisan berikutnya, saya mengangkat tema “Ketika Kriteria Menemukan Wajahnya: Menimbang Arah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Menjelang Muktamar.” Di sana, kita diajak menyadari bahwa kriteria kepemimpinan tidak boleh berhenti sebagai slogan normatif. Ukuran tentang kedalaman ilmu, keluasan nalar, kematangan batin, pengalaman organisasi, dan keberpihakan pada umat pada akhirnya harus menemukan representasinya dalam sosok nyata.

Kini, memasuki fase yang lebih dekat dengan Muktamar, pembicaraan itu tampak bergerak ke tahap berikutnya. Jika sebelumnya kita berbicara tentang struktur dan kriteria, maka sekarang mulai muncul sesuatu yang lebih halus: isyarat-isyarat kolektif. Isyarat bahwa warga nahdliyyin mulai membaca arah. Isyarat bahwa nama-nama tertentu mulai disebut dengan nada yang berbeda. Isyarat bahwa kebutuhan zaman perlahan sedang bertemu dengan sosok-sosok yang dianggap mampu menjawabnya.

Dalam tradisi NU, proses seperti ini bukan hal baru. NU tidak tumbuh dari budaya gaduh dan tergesa. Jam’iyyah ini dibangun oleh laku musyawarah, pertimbangan adab, dan ketelitian membaca tanda. Karena itu, sering kali keputusan besar tidak lahir dari deklarasi yang keras, tetapi dari kesepahaman yang tumbuh perlahan. Sesuatu yang awalnya hanya dibicarakan dalam lingkaran kecil, lama-lama menjadi arus kesadaran bersama.

Hari ini, gejala itu mulai terasa. Banyak warga NU tampaknya tidak lagi terlalu tertarik pada tokoh yang hanya kuat dalam pencitraan, tetapi minim kedalaman. Mereka juga mulai jenuh pada figur yang piawai bicara, tetapi kurang terasa jejak kerjanya. Sebaliknya, perhatian mulai mengarah pada sosok yang tenang, matang, dan memiliki rekam jejak yang dapat diuji.

Untuk posisi Rais ‘Aam, kerinduan itu tampak menuju figur yang berwibawa tanpa perlu meninggikan suara. Sosok yang sanad keilmuannya jelas, kedekatannya dengan pesantren nyata, dan kehadirannya menenangkan berbagai faksi. Figur yang tidak harus selalu muncul di ruang publik, tetapi bila berbicara, ucapannya didengar karena mengandung hikmah. Dalam situasi organisasi yang pernah melewati berbagai dinamika, sosok peneduh seperti ini menjadi sangat penting.

Sedangkan untuk posisi Ketua Umum Tanfidziyah, kebutuhan zaman mendorong lahirnya harapan pada figur yang mampu bergerak lincah di banyak ruang. Sosok yang paham kultur pesantren, tetapi tidak canggung menghadapi modernitas. Yang dekat dengan akar rumput, tetapi cukup cakap berdialog dengan negara. Yang mengerti tata kelola organisasi, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial terhadap persoalan umat. NU ke depan membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai menjaga warisan, tetapi juga cerdas mengembangkan masa depan.

Di titik inilah, gagasan duet kepemimpinan kembali menemukan relevansinya. Sebab, NU tidak cukup dipimpin oleh satu kelebihan saja. Organisasi sebesar ini memerlukan keseimbangan antara keteduhan dan ketegasan, antara hikmah dan eksekusi, antara legitimasi kultural dan kecakapan manajerial. Ketika dua unsur ini bertemu dalam harmoni, NU tidak hanya stabil secara internal, tetapi juga kuat dalam memberi arah bagi bangsa.

Namun perlu ditegaskan, pembicaraan tentang isyarat bukan berarti mendorong tergesa-gesa menyebut nama. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan agar Muktamar dibangun di atas kedewasaan kolektif. Bahwa warga NU berhak menimbang siapa yang paling sesuai, bukan sekadar siapa yang paling ramai dibicarakan. Bahwa ukuran kepemimpinan harus kembali pada kualitas, bukan popularitas semu.

Muktamar mendatang akan menjadi ujian penting. Apakah NU akan memilih dengan logika jangka pendek, atau dengan pandangan peradaban? Apakah forum tertinggi jam’iyyah ini akan melahirkan pemimpin karena transaksi sesaat, atau karena kesadaran bahwa NU memikul amanah sejarah yang besar? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak boleh dianggap ringan, karena dari sinilah arah NU beberapa tahun ke depan akan ditentukan.

Optimisme tentu tetap ada. NU memiliki modal besar berupa tradisi musyawarah, jaringan ulama, dan kedewasaan warga yang telah teruji oleh waktu. Karena itu, saya percaya bahwa di balik dinamika yang tampak di permukaan, sesungguhnya sedang bekerja arus bawah yang lebih tenang dan lebih jernih. Arus yang sedang menimbang, mencocokkan, dan membaca siapa yang paling pantas menjadi kompas ruhani dan siapa yang paling siap menjadi nahkoda zaman.

Pada akhirnya, ketika isyarat mulai menjadi arah, yang dibutuhkan bukan kebisingan baru, melainkan kejernihan bersama. Tidak perlu semua hal diumumkan secara terburu-buru. Tidak perlu semua nama dipaksakan ke permukaan. Jika kriteria telah disepakati, jika kebutuhan zaman telah dibaca, dan jika warga nahdliyyin tetap setia pada akal sehat serta adab musyawarah, maka arah itu akan menemukan jalannya sendiri.

Dan saat itulah, Muktamar tidak sekadar memilih pemimpin baru. Ia akan menjadi penanda bahwa Nahdlatul Ulama masih memiliki kemampuan paling penting dalam sejarahnya: memilih dengan hati-hati, berpikir jauh, dan bergerak demi kemaslahatan yang lebih luas. Sebab NU, pada akhirnya, bukan hanya organisasi. Ia adalah rumah besar peradaban yang harus dijaga oleh tangan yang tepat dan niat yang bersih.

*Penulis adalah Anggota Lajnah Pengkajian dan Penelitian Turots dan Sanad; Idarah Aliyah JATMAN.

#MuktamarNU2026 #PBNU #Jatman
#BenihPeradabanBaru

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry