“Justru karena AI semakin pintar, manusia perlu menjadi semakin bijaksana.”
Oleh Dr. H.A. Mukholis, MM.Pd*

BEBERAPA tahun lalu, banyak orang mengira kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) hanya akan digunakan oleh para ilmuwan dan perusahaan teknologi besar.

Hari ini, keadaannya sudah berbeda. Seorang pelajar dapat meminta AI menjelaskan pelajaran matematika. Seorang guru dapat menyusun bahan ajar lebih cepat. Bahkan, sebuah artikel pun dapat disusun hanya dalam hitungan menit.

Teknologi benar-benar bergerak sangat cepat.

Di tengah kekaguman itu, muncul pula berbagai kekhawatiran. Ada yang bertanya, apakah AI akan membuat anak-anak malas berpikir? Apakah guru akan tergantikan? Apakah sekolah masih diperlukan ketika hampir semua jawaban dapat ditemukan melalui teknologi?

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar.

Namun mungkin ada satu pertanyaan lain yang lebih penting.

Jika AI semakin cerdas, manusia ingin menjadi seperti apa?

Saya justru melihat kehadiran AI sebagai pengingat bahwa tujuan pendidikan tidak pernah sekadar mengumpulkan jawaban.

AI mampu menjawab banyak pertanyaan.

Tetapi AI tidak pernah merasakan kegembiraan ketika melihat seorang anak akhirnya berani membaca di depan kelas.

AI dapat menjelaskan rumus.

Tetapi AI tidak dapat menepuk bahu seorang murid yang sedang kehilangan semangat.

AI dapat menyusun kalimat.

Tetapi AI tidak dapat menggantikan pelukan seorang ibu ketika anaknya pulang dengan wajah kecewa.

Di situlah pendidikan menunjukkan maknanya.

Sekolah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan.

Sekolah juga mengajarkan bagaimana menghargai orang lain, bekerja sama, meminta maaf ketika berbuat salah, dan tetap jujur meskipun tidak ada yang melihat.

Hal-hal seperti itu tidak lahir dari teknologi.

Ia tumbuh dari keteladanan.

Justru karena AI semakin pintar, manusia perlu menjadi semakin bijaksana.

Anak-anak tetap perlu belajar berpikir kritis, bukan sekadar menerima jawaban yang muncul di layar. Mereka perlu belajar memeriksa kembali informasi, berdiskusi, bertanya, dan berani memiliki pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan.

Guru pun tidak perlu merasa sedang bersaing dengan AI.

Teknologi mungkin mampu membantu menjelaskan materi pelajaran. Namun seorang guru melakukan sesuatu yang jauh lebih besar.

Guru membangun kepercayaan diri murid, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan sering kali menjadi orang pertama yang mengatakan, “Kamu pasti bisa.”

Kalimat sederhana itu tidak pernah lahir dari sebuah mesin.

Teknologi akan terus berkembang. Cepat atau lambat, kita akan kembali dikejutkan oleh berbagai kemampuan baru yang hari ini mungkin belum kita bayangkan.

Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi.

Pendidikan juga harus mengajarkan kapan teknologi digunakan, untuk tujuan apa teknologi digunakan, dan nilai-nilai apa yang harus tetap dijaga ketika teknologi semakin canggih.

Kita tentu patut bersyukur memiliki teknologi yang dapat membantu pekerjaan manusia menjadi lebih mudah. AI adalah salah satu hasil kecerdasan manusia yang layak dimanfaatkan untuk kebaikan.

Namun jangan sampai kita lupa bahwa ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa canggih teknologinya.

Ukuran yang jauh lebih penting adalah seberapa bijaksana manusia yang menggunakannya.

Pada akhirnya, AI mungkin akan terus berkembang dan mampu melakukan banyak hal yang hari ini masih terasa luar biasa.

Tetapi bangsa ini tetap membutuhkan manusia-manusia yang jujur, peduli, bertanggung jawab, dan mampu menghormati sesamanya.

Sebab kecerdasan dapat diciptakan oleh teknologi.

Tetapi kebijaksanaan hanya dapat ditumbuhkan oleh pendidikan.

Dan mungkin, itulah pelajaran terbesar yang justru diajarkan AI kepada kita.

Bahwa di tengah mesin yang semakin cerdas, tugas pendidikan bukan sekadar membuat manusia semakin pintar.

Melainkan memastikan manusia tetap menjadi manusia.(*)

*Dr. H.A. Mukholis, MM.Pd* adalah Ketua LAZISNU Wonosobo; Kepala PKBM Prospek; Pegiat Pendidikan Masyarakat dan Penggerak Komunitas

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry