Nabilatul Fadilah, gadis berkebutuhan khusus saat wisuda, Selasa (11/11/25). (FT/LOETFI)

SIDOARJO | duta.co – Menjadi tuli dan mengalami hambatan wicara sejak lahir tidak membuat Nabilatul Fadilah menyerah pada keadaan. Gadis asal Sidoarjo ini justru membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi.

Lulusan SMAN 1 Gedangan ini merupakan anak berkebutuhan khusus yang lolos jalur prestasi SNMPTN di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Setelah menyelesaikan studi S1, Nabila kembali menorehkan prestasi dengan meraih beasiswa S2 di jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) di kampus yang sama. Hebatnya lagi, bahkan sebelum lulus S1, ia sudah diterima bekerja.

“Saya tuli sejak lahir dan mengalami hambatan wicara. Perjalanan pendidikan menjadi tantangan besar karena keterbatasan pendengaran dan minimnya akses informasi. Tapi saya bersyukur mendapat dukungan dari teman-teman, guru, dan dosen sehingga bisa menyelesaikan pendidikan dari TK hingga S2 secara mandiri,” ungkap Nabila saat ditemui Rabu (12/11/25).

Motivasi terbesarnya melanjutkan studi S2 adalah untuk membuktikan bahwa penyandang tuli juga mampu kuliah hingga jenjang tertinggi.

“Saya ingin menunjukkan bahwa kami bisa. Kita juga dituntut untuk terus menuntut ilmu, bahkan sampai ke negeri Cina. Ilmu itu penting dan harus bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain,” ujarnya.

Dalam perjalanan pendidikannya, sosok Rukmini Ambarwati, guru SMA-nya, menjadi inspirasi besar. “Bu Ambar selalu hadir di setiap momen penting saya, mulai dari wisuda S1 hingga nanti di wisuda S2. Beliau selalu mendukung dan memberi motivasi. Kalau ada kesempatan, saya ingin melanjutkan ke jenjang S3 seperti beliau,” tambah Nabila dengan senyum bangga.

Dengan IPK 3,86, Nabila membuktikan keseriusannya di bidang pendidikan. Awalnya ia ingin mengambil jurusan manajemen, namun karena belum ada SDM untuk penyandang tuli, ia memilih Pendidikan Luar Biasa.

“Saya ingin membantu membuka akses pendidikan untuk teman-teman tuli agar mereka bisa belajar dengan lebih mudah,” jelasnya.

Saat ini, Nabila tengah menyelesaikan tesis berjudul “Pengembangan Media Aplikasi Website untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Struktur Kalimat pada Siswa SLB.”

Bagi Nabila, perjalanan ini bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan yang lebih besar. “Saya sangat bangga bisa sampai di titik ini. Semoga ke depan semakin banyak peluang bagi teman-teman disabilitas dan pendidikan yang ramah akses semakin luas. Kalau ada kesempatan, saya ingin menjadi dosen di almamater tercinta, Unesa,” tuturnya haru.

Nabilatul Fadilah menjadi satu-satunya anak berkebutuhan khusus asal Sidoarjo yang berhasil menempuh pendidikan hingga S2 dengan beasiswa. Kisahnya membuktikan bahwa kekurangan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan kemauan dan usaha, semua bisa diraih. (loe)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry