“Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari telah memberi teladan bahwa menjaga persatuan umat adalah bagian dari jihad intelektual dan spiritual.”

Oleh Bey Arifin*

KH HASYIM Asy’ari atau Mbah Hasyim bukan hanya ulama besar, pendiri pesantren, atau tokoh kebangkitan umat. Beliau adalah arsitek persatuan umat Islam Nusantara. Di tengah perbedaan mazhab, organisasi, tradisi, bahkan kepentingan politik pada zamannya, Hadratussyaikh mampu menghadirkan Islam yang mempersatukan, bukan memecah belah.

Beliau memahami bahwa umat Islam tidak mungkin dipaksa menjadi seragam. Perbedaan adalah sunnatullah, sedangkan persatuan adalah kewajiban. Karena itu, yang beliau bangun bukan keseragaman cara berpikir, melainkan kesatuan hati, adab, dan tujuan perjuangan.

ketika beliau mampu merangkul berbagai kelompok Islam dengan pendekatan ilmu dan akhlak. Beliau tetap kokoh mempertahankan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi tidak mudah menyesatkan kelompok lain. Tegas dalam prinsip, namun lembut dalam dakwah. Kritis terhadap pemikiran yang dianggap menyimpang, tetapi tetap menjaga ukhuwah dan martabat sesama muslim.

Dalam sejarah perjuangan bangsa, Hadratussyaikh juga menunjukkan bahwa kepentingan umat dan bangsa harus diletakkan di atas ego kelompok. Resolusi Jihad yang beliau fatwakan bukan untuk membela organisasi tertentu, tetapi demi menjaga tanah air dan kehormatan umat Islam secara keseluruhan. Di titik ini, beliau mengajarkan bahwa persatuan lahir dari kesadaran perjuangan bersama.

Keteladanan ini sangat relevan dengan kondisi umat Islam hari ini, terlebih menjelang Muktamar NU ke-35. Momentum muktamar sejatinya bukan sekadar arena kontestasi kepemimpinan, tetapi ruang musyawarah peradaban untuk menentukan arah masa depan Nahdlatul Ulama dan umat Islam Indonesia.

Namun realitas yang muncul di ruang digital sering kali memprihatinkan. Media sosial dipenuhi perang opini, fanatisme kelompok, propaganda politik, hingga saling serang antar pendukung tokoh. Perbedaan pilihan dalam muktamar terkadang berubah menjadi permusuhan personal. Padahal, tradisi NU sejak dahulu dibangun di atas adab, musyawarah, dan penghormatan kepada para ulama.

Di era disrupsi digital, fitnah dan provokasi bergerak jauh lebih cepat daripada tabayyun. Potongan video, narasi tendensius, hingga framing media sosial sering memecah belah warga nahdliyin. Ironisnya, sebagian orang lebih sibuk memenangkan pertarungan opini daripada memikirkan bagaimana NU mampu menjawab tantangan zaman: krisis moral generasi muda, kemiskinan struktural, radikalisme digital, kerusakan lingkungan, hingga ancaman pudarnya tradisi keilmuan pesantren.

Di sinilah relevansi pemikiran Hadratussyaikh menjadi sangat penting. Beliau mengajarkan bahwa kekuatan umat tidak lahir dari kerasnya suara, tetapi dari kedalaman ilmu dan keluhuran adab. Persatuan tidak dibangun dengan caci maki, melainkan dengan tawadhu’, tabayyun, dan sikap saling menghormati perbedaan ijtihad.

Menjelang Muktamar NU ke-35, seluruh warga nahdliyin perlu meneladani kedewasaan Hadratussyaikh dalam menyikapi perbedaan. Berbeda pilihan adalah hal yang wajar, tetapi menjaga persaudaraan jauh lebih utama. Jangan sampai muktamar justru melahirkan fragmentasi baru di tubuh NU akibat fanatisme berlebihan dan politik identitas kelompok.

Para santri, alumni pesantren, intelektual muda NU, dan generasi media sosial memiliki tanggung jawab besar menjaga marwah organisasi. Santri harus hadir sebagai penyejuk umat, bukan provokator digital. Tradisi pesantren mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan, sedangkan politik tanpa akhlak hanya akan melahirkan perpecahan.

NU membutuhkan pemimpin yang bukan hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga mampu menjadi perekat umat, pembimbing moral, dan penjaga tradisi keilmuan Aswaja. Sebab tantangan NU ke depan tidak ringan. Organisasi ini dituntut mampu menjaga moderasi Islam, membimbing generasi muda di tengah arus post-truth, serta menghadirkan Islam rahmatan lil ‘alamin di era kecerdasan buatan dan perang informasi digital.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari telah memberi teladan bahwa menjaga persatuan umat adalah bagian dari jihad intelektual dan spiritual. Jika hari ini umat Islam mudah terpecah karena ego kelompok dan pertarungan narasi digital, maka jalan kembali adalah meneladani akhlak beliau: mengedepankan ilmu sebelum emosi, adab sebelum debat, dan persaudaraan sebelum kepentingan kelompok.

Di tengah dunia yang semakin gaduh menjelang Muktamar NU ke-35, warga nahdliyin membutuhkan lebih banyak pewaris ruh Hadratussyaikh bukan hanya yang pandai berbicara tentang agama dan organisasi, tetapi juga mampu menghadirkan keteduhan, kebijaksanaan, serta persatuan di tengah umat. (*)

*Bey Arifin adalah Pengurus IKAPETE Jombang.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry