
Oleh Dr. H.A. Mukholis, MM.Pd*
ADA pemandangan yang mungkin tidak pernah masuk ke dalam brosur sekolah.
Seorang lelaki berusia lebih dari lima puluh tahun duduk dengan tubuh sedikit membungkuk. Di hadapannya terbuka sebuah buku tulis bergaris.
Tangan yang sehari-hari lebih akrab memegang cangkul daripada pena kini bergerak perlahan membentuk huruf demi huruf.
Sesekali ia berhenti, menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil ketika berhasil menuliskan namanya sendiri dengan lebih rapi daripada hari sebelumnya.
Di sudut lain ruangan, seorang ibu rumah tangga tampak sibuk menghapus tulisannya berulang kali. Bukan karena malas belajar, melainkan karena merasa tulisannya belum cukup baik.
Baginya, kembali belajar bukan sekadar mengejar selembar ijazah. Ia sedang mengejar sesuatu yang pernah hilang puluhan tahun lalu: rasa percaya diri.
Barangkali banyak orang menganggap pemandangan itu biasa. Namun sesungguhnya di ruangan sederhana seperti itulah pendidikan memperlihatkan wajahnya yang paling manusiawi.
Selama ini kita sering membayangkan sekolah sebagai tempat anak-anak berseragam, berlari di halaman, atau bercanda saat jam istirahat. Gambaran itu tentu tidak salah.
Akan tetapi, di banyak tempat masih ada ruang-ruang belajar yang diisi oleh mereka yang usianya telah melewati masa sekolah.
Ada buruh, petani, pedagang, pekerja serabutan, ibu rumah tangga, bahkan kakek dan nenek yang kembali duduk di bangku belajar.
Mereka datang bukan karena hidup mereka gagal. Mereka datang karena kehidupan pernah memaksa mereka berhenti.
Sebagian berhenti sekolah demi membantu orang tua mencari nafkah. Sebagian lagi harus mengalah pada keadaan ketika biaya pendidikan menjadi sesuatu yang terlalu mahal untuk dijangkau.
Ada pula yang terhenti karena menikah muda, bekerja, atau alasan-alasan lain yang tidak pernah mereka rencanakan.
Bertahun-tahun kemudian, ketika kesempatan itu datang kembali, mereka memilih membuka pintu yang dahulu sempat tertutup.
Keputusan itu mungkin tampak sederhana. Padahal sesungguhnya membutuhkan keberanian yang luar biasa.
Tidak mudah bagi seseorang yang telah berusia puluhan tahun untuk kembali membawa tas sekolah.
Tidak mudah belajar di tengah kesibukan bekerja, mengurus keluarga, atau menghadapi cibiran yang kadang masih terdengar, “Untuk apa sekolah lagi? Sudah tua!”
Namun mereka tetap datang.
Mereka membuktikan bahwa usia tidak pernah menjadi penghalang untuk belajar.
Yang menjadi penghalang hanyalah hilangnya harapan.
Di tengah masyarakat, pendidikan sering kali dipahami sebatas proses memperoleh ijazah. Padahal bagi banyak orang, pendidikan adalah proses memulihkan martabat.
Selembar ijazah memang penting, tetapi yang lebih berharga adalah keberanian seseorang untuk berkata kepada dirinya sendiri, “Aku masih mampu belajar.”
Barangkali karena itulah pendidikan tidak boleh hanya dihitung dari jumlah gedung, ruang kelas, atau angka kelulusan.
Pendidikan juga harus diukur dari seberapa banyak harapan yang berhasil dihidupkan kembali.
Sebab ada orang yang lulus dengan nilai tinggi, tetapi kehilangan semangat belajar. Sebaliknya, ada pula orang yang baru kembali belajar setelah puluhan tahun, namun setiap langkahnya dipenuhi rasa syukur.
Mereka mengajarkan kepada kita bahwa kesempatan kedua bukanlah hadiah bagi orang yang gagal.
Kesempatan kedua adalah bentuk penghormatan kepada setiap manusia yang masih ingin bertumbuh.
Di negeri ini masih banyak orang yang menunggu kesempatan itu. Mereka bukan meminta belas kasihan. Mereka hanya membutuhkan ruang yang mengatakan bahwa belajar tidak mengenal kata terlambat.
Mungkin kita tidak akan mengenal nama mereka satu-per-satu. Wajah mereka jarang muncul di layar televisi. Kisah mereka tidak selalu menjadi berita utama.
Namun justru dari orang-orang seperti merekalah kita belajar bahwa pendidikan yang sejati bukan hanya mencerdaskan pikiran, melainkan juga menguatkan martabat.
Dan selama masih ada seseorang yang berani kembali membuka buku setelah sekian lama meninggalkannya, harapan itu sesungguhnya belum pernah padam.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang memperoleh kesempatan pertama.
Pendidikan adalah keyakinan bahwa setiap manusia selalu berhak mendapatkan kesempatan kedua.





































