FT/laffaz

Oleh: Kukuh Santoso*

POTENSI untuk memperoleh makrifat sesungguhnya telah ada pada manusia. Untuk memperoleh kearifan dan makrifat, hati (qalb) mempunyai fungsi esensial. Qalb merupakan tempat pengetahuan tentang tentang hakikat-hakikat, termasuk di dalamnya hakikat makrifat. Qalb yang dapat memperoleh makrifat adalah hati yang telah tersucikan dari berbagai noda atau akhlak buruk yang sering dilakukan manusia. Karena qalb merupakan bagian dari jiwa, kesucian jiwa sangat mempengaruhi kecemerlangan qalb dalam menerima ilmu. Makrifat tidak dimiliki sembarang orang, melainkan hanya dimiliki orang-orang yang telah melakukan upaya-upaya untuk memperolehnya. Untuk itu disamping melalui tahapan-tahapan Maqamat dan ahwal, Maqamat adalah kedudukan seorang hamba dalam perjalannanya menuju Allah melalui ibadah, kesungguhan melawan rintangan (al-Mujahadat), dan latihan-latihan rohaniah (ar-riyadhah). Maqam (jamaknya Maqamat) yang dijalani kaum sufi umumnya terdiri dari tobat, zuhud, faqr, sabar, syukur, rela, tawakal, Mahabbah, dan makrifat. untuk memperoleh makrifat, seseorang harus melakukan upaya-upaya tertentu, yaitu:

1. Riyadah

Riyadah adalah latihan kejiwaan melalui upaya membiasakan diri agar tidak melakukan hal-hal yang mengotori jiwanya. Riyadah dapat pula berarti internalisasi kejiwaan dengan sifat-sifat terpuji dan melatih membiasakan meninggalkan sifat-sifat jelek. Riyadah harus disertai dengan mujahadah, yaitu kesungguhan dalam usaha untuk meninggalkan sifat-sifat buruk. Riyadah perlu dilakukan untuk memperoleh ilmu makrifat yang dapat diperoleh melalui upaya melakukan perbuatan kesalehan atau kebaikan yang terus-menerus. Hal terpenting dalam riyadah adalah melatih jiwa melepaskan ketergantungan terhadap kelezatan duniawi yang fatamorgana, lalu menghubungkan diri dengan realitas rohani dan ilahi.

2. Tafakur

Tafakur penting dilakukan untuk menuju makrifat, karena ketika jiwa belajar dan mengolah ilmu, lalu memikirkan (bertafakur) dan menganalisisnya, pintu kegaiban akan dibukakan untuknya. Tafakur dilakukan dengan memotensikan nafs kulli (jiwa universal). Validitas yang diperoleh melalui metode tafakur sangat tinggi kualitasnya sebab memotensikan nafs kulli, seperti yang di ungkapkan al-Ghazali, ”Nafs Kulli (jiwa universal) lebih besar dan lebih kuat hasilnya dan lebih besar kemampuan perolehannya dalam proses pembelajaran.” nafs kulli mempunyai fungsi yang sangat penting untuk menghasilkan ilmu, terutama ilmu makrifat. Alasannya, ilmu yang dihasilkan melalui penggunaan nafs kulli lebih bersifat universal, tidak parsial. Untuk memfungsikan nafs kulli, kegiatan tafakur mempunyai peranan yang sangat penting.

3. Tazkiyat An-Nafs

Tazkiyat An-Nafs adalah proses penyucian jiwa manusia. Proses penyucian jiwa dalam kerangka tasawuf ini dapat dilakukan melalui tahapan takhalli dan tahalli. Para sufi adalah orang yang senantiasa menyucikan hati dan jiwanya. Perwujudannya adalah rasa butuh terhadap Tuhannya. Ada lima hal yang menjadi penghalang jiwa dalam menangkap hakikat yaitu: jiwa yang belum sempurna, jiwa yang dikotori perbuatan maksiat, manuruti keinginan badan, penutup yang menghalangi masuknya hakikat dalam jiwa (taqlid), dan tidak dapat berpikir logis. Tazkiyat an-nafs dalam konsepsi tasawuf berdasar asumsi bahwa jiwa manusia ibarat cermin, sedangkan ilmu ibarat gambar-gambar objek materil. Kegiatan mengetahui ibarat cermin yang menangkap gambar-gambar. Banyaknya gambar yang tertangkap dan jelasnya tangkapan bergantung pada kadar kebersian cermin yang bersangkutan.

4. Dhikrullah

Dhikrullah adalah membasahi lidah dengan ucapan-ucapan pujian kepada Allah. Pentingnya dhikir untuk mendapatkan ilmu makrifat didasarkan atas argumentasi tentang peranan dhikir  itu sendiri bagi hati. Dalam Al-Munqid, Al-Ghazali menjelaskan bahwa dhikir kepada Allah merupakan hiasan bagi kaum sufi. Syarat utama bagi orang yang menempuh jalan Allah adalah membersihkan hati secara menyeluruh dari selain Allah, sedangkan kuncinya adalah menenggelamkan hati secara keseluruhan dengan dhikir kepada Allah. Dalam pandangan sufi, dzikir akan membuka tabir alam malakut, kunci pembuka alam gaib, penarik kebaikan, penjinak was-was, dan pembuka kewalian. Dhikir juga berfungsi untuk mendatangkan ilham, menghalangi ruang gerak setan sehingga setan pergi menjauh dari hati manusia. Di saat itulah, malaikat memberikan ilham kepada hati.

*Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry