“Masjid Peneleh pun tetap berdiri, seperti iman orang kecil yang tak pernah tercatat namanya, namun ikut menopang kemerdekaan negeri ini.”

Oleh Dr. H. Syarif Thayib, S.Ag. M.Si)

DI TEPIAN Kali Mas Surabaya, di tengah kampung tua, berdirilah Masjid Peneleh. Ia tidak tinggi menjulang dengan kekuatan beton eser, tidak pula berlantai marmer mengkilau. Namun justru dalam kesederhanaannya, Masjid Peneleh menyimpan lapisan kisah yang menautkan iman, perlawanan, dan kebudayaan Islam Nusantara.

Masjid ini diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Surabaya yang dibangun oleh Raden Ahmad Rahmatullah, atau lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. Berdiri sejak abad ke-15, se-umuran Masjid Rahmat Kembang Kuning dan Masjid Ampel Denta.

Bangunan Masjid Peneleh mengingatkan kita pada masjid-masjid warisan Walisongo. Atap palafonnya persis menyerupai perahu terbalik Nabi Nuh. Arsitekturnya menyatu dengan tradisi lokal: kayu jati gelondongan, genteng, dan tata ruang yang akrab dengan langgar dan padepokan. Inilah Islam yang datang bukan untuk menghapus, melainkan merangkul budaya setempat.

Akhirnya, Peneleh bukan sekadar jadi nama kampung; ia adalah ruang peradaban, tempat para saudagar, ulama, dan pejuang silih berganti mengukir sejarah. Di sinilah denyut Islam Jawa tumbuh—perlahan, bersahaja, namun mengakar kuat.

Para Bapak Bangsa, khususnya pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sering menjadikan Masjid Peneleh tempat Bahtsul Masail, yaitu salah satu forum yang membahas permasalahan yang belum ada dalilnya atau belum diketahui solusinya. Bahkan Muktamar NU pertama, kedua, dan ketiga digelar di Hotel Muslimin (sekarang dikenal dengan Hotel Bali Peneleh) yang berjarak beberapa puluh meter dari Masjid Peneleh.
Tokoh nasionalis HOS Cokroaminoto, Bung Karno, Tan Malaka, dan lain-lain pun makin matang setelah “nyantri” di Peneleh.

*Bedug Tiban Datang Tak Diundang*

Salah satu kisah yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Peneleh adalah tentang bedug tiban. Konon, bedug besar yang kini menjadi bagian penting masjid Peneleh tidak dibuat oleh warga setempat. Ia “datang sendiri”, tiba secara misterius pada suatu malam, tanpa diketahui siapa yang mengangkut atau meletakkannya di pinggir Kali Mas depan kampung Peneleh.

Dalam tradisi lisan, bedug tiban bukan sekadar benda. Ia dipahami sebagai isyarat—bahwa tempat itu telah dipilih (peneleh) menjadi pusat ibadah dan dakwah. Seperti banyak kisah dalam sejarah Islam Nusantara, keajaiban tidak dimaknai sebagai tontonan, melainkan sebagai peneguhan batin: bahwa kerja dakwah selalu disertai pertolongan yang tak kasat mata.

Suara Bedug tiban itu tak nyaring terdengar ketika ditabuh warga di Masjid Ampel, Masjid Rahmat, Masjid Kemayoran, dan masjid besar lainnya di Surabaya kala itu. Berbeda ketika dikembalikan ke posisi asal, Masjid Peneleh, suaranya menggema menyusuri kampung, memanggil orang-orang bukan hanya untuk shalat, tetapi untuk berkumpul, bermusyawarah, dan membangun kesadaran bersama.

*Sumur Keramat Penyimpan Senjata*

Di area Masjid Peneleh terdapat sebuah sumur tua. Bagi mata biasa, ia hanyalah sumur—tempat mengambil air. Namun sejarah mencatat peran lain yang jauh lebih sunyi dan berbahaya. Pada masa penjajahan, sumur ini digunakan sebagai tempat menyembunyikan senjata oleh para pejuang.

Masjid, pada masa itu, bukan hanya tempat sujud. Ia adalah pusat perlawanan kultural dan spiritual. Di balik dinding-dindingnya, doa dan strategi berjalan beriringan. Air sumur yang menyejukkan juga menjadi saksi bisu ikhtiar manusia mempertahankan martabat dan tanah airnya.
Sejarah semacam ini jarang dituliskan dalam buku pelajaran, tetapi hidup dalam bisik-bisik kampung dan cerita para sesepuh.

*Kubah Dibom Tidak Hancur*

Pada masa agresi militer, Masjid Peneleh pernah menjadi sasaran serangan. Sebuah bom dijatuhkan dan menghantam bagian kubahnya. Namun, menurut penuturan warga, masjid itu tidak hancur sebagaimana bangunan lain di sekitarnya.

Apakah ini keajaiban? Atau sekadar kebetulan sejarah? Dalam cara pandang tradisi, pertanyaan semacam itu tidak selalu menuntut jawaban rasional. Yang lebih penting adalah makna: bahwa tempat yang dibangun dengan niat ibadah, yang dihidupi oleh doa dan pengorbanan, memiliki daya tahan yang melampaui akal manusia.

Masjid Peneleh pun tetap berdiri, seperti iman orang-orang kecil yang tak pernah tercatat namanya, namun ikut menopang kemerdekaan negeri ini.

Masjid Peneleh Cagar Budaya

Masjid Peneleh bukan bangunan mati. Ia adalah ingatan yang berdiri—tentang dakwah yang lembut, perlawanan yang senyap, dan Islam Nusantara yang berakar pada budaya serta keberanian.

Di tengah zaman yang gemar membangun masjid tinggi menjulang, Masjid Peneleh mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah seberapa tinggi bangunan berdiri, melainkan seberapa dalam ia tertanam dalam sejarah, masyarakat, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Seperti jejak Walisongo, Masjid Peneleh mengingatkan kita: Islam datang ke Nusantara bukan dengan pedang, tetapi dengan hikmah/ kebijaksanaan—dan ketika harus bertahan, ia melakukannya dengan iman yang teguh.

Walhasil, semuanya pun tersadar, sejarah butuh pengakuan. Yayasan Masjid Peneleh Surabaya sebagai penanggungjawab atas pengelolaan Masjid bersyukur Masjid Peneleh sudah diakui sebagai Cagar Budaya peringkat kota yang harus dirawat semua pihak, khususnya Pemkot Surabaya.

Berharap bapak Eri Cahyadi tidak berhenti dengan selembar Keputusan Walikota Surabaya Nomor: 100.3.3.3/287/436.1.2/2025 tentang penetapan Masjid Peneleh sebagai bangunan cagar budaya, tetapi hadir untuk melihat langsung, bagaimana Masjid keramat itu kini banyak bocor-bocor saat hujan, hingga keresahan warga akan nasib “replika” perahu terbalik Nabi Nuh di kampung Peneleh.(*)

*Dr. H. Syarif Thayib, S.Ag. M.Si. adalah Dosen UIN Sunan Ampel, Ketua Umum Yayasan Masjid Peneleh Surabaya
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry