CATATAN PINGGIR
Dr. H. ROMADLON SUKARDI, MM*

DI tengah dunia yang semakin bising oleh kompetisi ekonomi, percepatan teknologi, dan derasnya arus digitalisasi, sesungguhnya ada satu kekuatan yang tidak boleh hilang dari arah pembangunan, yaitu spiritualitas. Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kecanggihan ilmu pengetahuan dan kemajuan infrastruktur, tetapi juga oleh kejernihan hati, kemuliaan akhlak, serta keteguhan iman. Dari sinilah kepemimpinan Ibu Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memperlihatkan wajahnya yang khas: kepemimpinan transformatif yang tidak hanya menggerakkan birokrasi dan pembangunan fisik, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai ketuhanan, memperkuat ukhuwah, serta membangun peradaban yang berakar pada moral, empati, dan keberkahan. Kepemimpinan seperti inilah yang menjadikan pembangunan bukan sekadar menghasilkan kemajuan, melainkan menghadirkan makna, harapan, dan cahaya bagi masa depan bangsa.

Pergerakan dunia yang semakin cepat, diwarnai disrupsi teknologi, kecerdasan artifisial, krisis moral, dan perubahan sosial yang begitu dinamis, sesungguhnya pembangunan tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, pembangunan fisik, atau kecanggihan teknologi. Bangsa yang besar memerlukan fondasi yang lebih dalam, yaitu kekuatan spiritual, karakter, dan akhlak.

Dalam perspektif itulah, kehadiran Khofifah Indar Parawansa pada Idul Khotmi Nasional ke-234 Thariqah At-Tijaniyah di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep bukan sekadar memenuhi agenda seremonial pemerintahan. Kehadiran tersebut mencerminkan sebuah paradigma kepemimpinan yang memadukan pembangunan lahiriah dengan pembangunan batiniah.

Kepemimpinan transformatif bukan hanya mengubah sistem birokrasi, mempercepat investasi, atau meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kepemimpinan transformatif juga mampu mentransformasikan cara berpikir masyarakat bahwa kemajuan material harus berjalan seiring dengan kemuliaan spiritual.

Di sinilah kekhasan kepemimpinan Khofifah terlihat dengan sangat jelas. Ia memahami bahwa pembangunan manusia tidak cukup hanya dengan pendidikan formal, tetapi juga membutuhkan pendidikan ruhani. Tidak cukup hanya membangun jalan dan gedung, tetapi juga membangun hati, akhlak, dan karakter masyarakat.

Ketika beliau mengajak masyarakat memperkuat ketakwaan, menjaga ukhuwah Islamiyah, serta memperbanyak dzikir di tengah derasnya arus digitalisasi, sesungguhnya beliau sedang mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus tetap dipandu oleh nilai-nilai ketuhanan.

Inilah kepemimpinan yang inovatif, karena mampu menghadirkan pendekatan baru dalam pembangunan: mengintegrasikan dimensi spiritual ke dalam pembangunan sosial.

Inilah kepemimpinan yang kreatif, karena melihat majelis-majelis ilmu, pesantren, dan thariqah bukan hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter bangsa.

Inilah kepemimpinan yang progresif, karena menyadari bahwa tantangan masa depan tidak hanya berupa persaingan ekonomi global, tetapi juga krisis moral, kesehatan mental, disintegrasi sosial, dan lunturnya nilai-nilai kemanusiaan.

Inilah kepemimpinan yang adaptif, karena mampu berdialog dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan budaya Nusantara.

Dan inilah kepemimpinan yang berkelanjutan, karena pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya meninggalkan infrastruktur fisik, tetapi juga mewariskan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Yang menarik, Khofifah tidak berbicara dari posisi seorang pejabat semata. Beliau hadir sebagai seorang muslimah yang menempatkan dirinya sebagai bagian dari jamaah. Ketika beliau menyampaikan harapan agar kelak dapat berkumpul bersama para ulama, masyayikh, dan orang-orang saleh di surga Allah SWT, tersirat kerendahan hati seorang pemimpin yang menyadari bahwa jabatan hanyalah amanah, sedangkan tujuan akhir kehidupan adalah meraih ridha Allah SWT.

Sikap seperti inilah yang melahirkan empati. Pemimpin tidak berdiri di atas masyarakat, tetapi berjalan bersama masyarakat. Tidak merasa paling benar, tetapi terus belajar kepada ulama dan mengambil hikmah dari majelis-majelis ilmu.

Sinergi antara ulama dan umara yang tampak dalam Idul Khotmi Nasional menjadi cerminan bahwa pembangunan bangsa memerlukan keseimbangan antara kekuatan intelektual, spiritual, dan sosial. Kehadiran tokoh-tokoh nasional, para ulama, para masyayikh, serta pemerintah menunjukkan bahwa ukhuwah dan kolaborasi merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam menjaga persatuan bangsa.

Di tengah tantangan global, Jawa Timur memperlihatkan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dengan angka-angka ekonomi, tetapi juga dengan kemampuan menjaga harmoni sosial, memperkuat kehidupan keagamaan, dan membangun karakter masyarakat.

Pada akhirnya, kepemimpinan Khofifah mengajarkan bahwa pemimpin terbaik bukan hanya mampu membangun jalan menuju kemajuan dunia, tetapi juga mampu mengingatkan masyarakat tentang jalan menuju kebahagiaan akhirat.
Karena pembangunan yang paling agung bukan sekadar membangun kota-kota yang megah, melainkan membangun manusia yang beriman, berakhlak, berilmu, dan saling mencintai dalam bingkai ukhuwah.

Ketika kepemimpinan berpijak pada nilai-nilai spiritual, pembangunan tidak hanya melahirkan kemajuan, tetapi juga keberkahan. Dan ketika keberkahan menjadi ruh pembangunan, maka lahirlah peradaban yang kokoh, berkeadaban, dan berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry