
CATATAN PINGGIR
Dr ROMADLON SUKARDI, MM*
DI tengah dunia yang bergerak menuju era kecerdasan artifisial, dominasi data, dan perang pengaruh global, masa depan bangsa tidak lagi ditentukan semata oleh kekuatan ekonomi dan politik, melainkan oleh kemampuan membangun ekosistem intelektual yang visioner, adaptif, dan berakar pada nilai-nilai moral peradaban.
Dalam lanskap perubahan itulah, kepemimpinan transformatif menghadirkan arah baru bagi ISNU: dari sekadar organisasi profesi menuju pusat gravitasi intelektual Nahdlatul Ulama yang mampu menghubungkan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah dengan tantangan masa depan dunia modern.
Melalui visi kolaboratif, penguatan sumber daya manusia unggul, serta pembangunan ekosistem gagasan dan pengaruh strategis, beliau sedang menanam fondasi besar bagi lahirnya generasi intelektual NU yang tidak hanya mampu membaca perubahan zaman, tetapi juga berani menentukan arah peradaban Indonesia dan dunia di abad ke-21.
Di tengah perubahan dunia yang bergerak dengan kecepatan eksponensial, kekuatan sebuah bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh limpahan sumber daya alam atau superioritas militer. Abad ke-21 telah bergeser menjadi abad pertarungan gagasan, pengaruh, teknologi, dan penguasaan pengetahuan. Siapa yang mampu mengendalikan narasi dan membangun ekosistem intelektual yang kuat, dialah yang berpotensi menentukan arah masa depan peradaban.
Dalam lanskap global seperti itulah keberadaan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) menemukan relevansi strategisnya. ISNU tidak cukup dipahami sekadar sebagai organisasi profesi para sarjana Nahdliyin. Lebih dari itu, ia harus dibaca sebagai kekuatan epistemik dan pusat gravitasi intelektual yang memiliki potensi besar dalam membangun arah peradaban Indonesia masa depan.
Namun zaman juga menghadirkan paradoks yang mengkhawatirkan. Gelar akademik semakin banyak, tetapi keberanian moral semakin langka. Teknologi berkembang luar biasa cepat, tetapi kebijaksanaan justru mengalami kemunduran. Dunia dipenuhi para ahli, tetapi kekurangan negarawan yang memiliki visi etik dan keberpihakan terhadap kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan mendasarnya bukan lagi sekadar seberapa tinggi ilmu pengetahuan berkembang, tetapi: untuk siapa ilmu itu digunakan, dan ke arah mana peradaban hendak dibawa?
Di titik inilah kepemimpinan Wakil Ketua Umum PP ISNU, , menemukan makna historisnya. Beliau menghadirkan corak kepemimpinan transformatif yang tidak berhenti pada retorika akademik, tetapi bergerak menuju pembangunan ekosistem intelektual yang visioner, kolaboratif, dan berorientasi peradaban.
Pelantikan 95 Pengurus PC ISNU Kabupaten Blitar periode 2025–2029 sesungguhnya bukan sekadar seremoni organisatoris. Momentum itu memperlihatkan arah besar bagaimana intelektualisme Nahdlatul Ulama harus bergerak melampaui rutinitas administratif menuju kekuatan strategis yang mampu mempengaruhi kebijakan publik, membangun jaringan pengetahuan, serta menghadirkan solusi nyata bagi umat dan bangsa.
Prof Dr KH M Mas’ud Said, PhD memahami bahwa organisasi modern tidak cukup hanya mengelola manusia *(organizing people)*, tetapi harus mampu mengelola gagasan, pengaruh, dan arah perubahan *(organizing ideas and influence)*. Karena itu, beliau terus mendorong ISNU agar tidak terjebak dalam ritualisme organisasi yang miskin dampak. ISNU harus naik kelas menjadi pusat produksi pemikiran strategis, laboratorium peradaban, sekaligus simpul jejaring intelektual nasional dan global.
Ketika beliau menegaskan pentingnya penguatan sumber daya manusia berbasis nilai Ahlussunnah wal Jamaah, sesungguhnya beliau sedang membangun fondasi besar: bagaimana tradisi intelektual NU tetap berakar kuat pada nilai spiritualitas dan akhlak, namun mampu berdialog dengan modernitas, teknologi, kecerdasan artifisial, ekonomi digital, hingga dinamika geopolitik global.
Inilah wajah kepemimpinan futuristik yang berakar pada tradisi tetapi berpandangan kosmopolitan. Sebuah kepemimpinan yang memahami bahwa masa depan tidak cukup dihadapi dengan romantisme sejarah, melainkan dengan keberanian membangun inovasi, literasi strategis, dan kekuatan kolaborasi lintas sektor.
Karena itu, pendekatan Prof. Mas’ud Said terlihat sangat kolaboratif dan progresif. Beliau menyadari bahwa tantangan bangsa hari ini terlalu kompleks jika diselesaikan secara sektoral dan parsial. Maka sinergi dengan perguruan tinggi, pemerintah, dunia profesional, komunitas riset, hingga jaringan internasional menjadi bagian penting dari desain besar transformasi ISNU.
Dalam perspektif geopolitik modern, perang masa depan bukan hanya perang senjata, tetapi perang pengaruh (war of influence), perang data, perang algoritma, dan perang narasi. Dalam konteks ini, ISNU memiliki peluang besar menjadi kekuatan moderasi intelektual yang mampu menjaga keseimbangan antara spiritualitas, nasionalisme, dan kemajuan peradaban.
Namun potensi besar itu hanya akan menjadi energi laten jika tidak diikuti keberanian mengambil posisi strategis. ISNU harus hadir dalam isu-isu besar bangsa: transformasi pendidikan, penguatan SDM unggul, kemandirian ekonomi umat, keadilan sosial, literasi digital, ketahanan budaya, hingga positioning Indonesia dalam percaturan global.
Di sinilah makna khidmat intelektual menemukan dimensi barunya. Khidmat bukan lagi sekadar pengabdian personal yang sunyi, tetapi strategi kolektif untuk memenangkan masa depan bangsa melalui ilmu pengetahuan, moralitas, dan keberanian berpikir melampaui zamannya.
Pesan Prof. Mas’ud Said agar ISNU dijadikan sebagai “jalan amal saleh dan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa” sesungguhnya mengandung filosofi yang sangat mendalam. Organisasi bukan sekadar ruang status sosial atau arena perebutan pengaruh, melainkan medan pengabdian intelektual yang harus melahirkan dampak nyata dan kebermanfaatan sosial.
Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan besar sering kali lahir bukan dari keramaian, tetapi dari kelompok kecil yang memiliki visi besar, konsistensi perjuangan, dan keberanian moral untuk mengubah arah zaman. Dan ISNU, dengan seluruh modal intelektual serta tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama yang dimilikinya, sesungguhnya memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi kekuatan strategis masa depan Indonesia.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah ISNU siap naik kelas?
Jika jawabannya iya, maka Musyawarah Kerja Wilayah, pelantikan organisasi, dan seluruh konsolidasi intelektual hari ini tidak boleh berhenti pada penyusunan program kerja semata. Semua itu harus menjadi titik balik untuk merumuskan arah besar tentang bagaimana ISNU Indonesia dibangun dalam 10 hingga 20 tahun ke depan: apakah hanya menjadi organisasi profesi yang baik, atau menjadi kekuatan peradaban yang menentukan arah sejarah bangsa.
Pada akhirnya, kepemimpinan transformatif seperti yang diperlihatkan Prof. Dr. KH. M. Mas’ud Said, PhD mengajarkan satu hal penting: bahwa masa depan tidak dimenangkan oleh mereka yang sekadar mengikuti arus zaman, tetapi oleh mereka yang mampu membaca perubahan, membangun visi, dan dengan keberanian moral mengarahkan arus tersebut menuju kemaslahatan umat dan peradaban manusia.





































