CATATAN PINGGIR

DR ROMADLON SUKARDI, MM.*

PERINGATAN Hari Bhayangkara ke-80 bukan sekadar seremoni tahunan bagi institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Momentum ini sesungguhnya mengingatkan kita bahwa keamanan merupakan fondasi utama bagi lahirnya kemajuan sebuah bangsa. Tidak ada pembangunan tanpa stabilitas. Tidak ada kesejahteraan tanpa rasa aman. Dan tidak ada peradaban yang bertahan lama tanpa hadirnya negara yang mampu melindungi rakyatnya.

Dalam perspektif itulah, apresiasi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, kepada Polri memiliki makna yang jauh lebih strategis daripada sekadar ucapan selamat. Yang dibangun bukan hanya hubungan kelembagaan, melainkan sebuah ekosistem kolaboratif antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Di sinilah tampak karakter kepemimpinan Khofifah yang transformatif. Beliau memandang keamanan bukan sekadar urusan penegakan hukum, tetapi sebagai modal sosial yang memungkinkan pendidikan berkembang, investasi bertumbuh, ekonomi bergerak, lapangan kerja tercipta, dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Cara pandang seperti ini menunjukkan kemampuan melihat keterhubungan antar-sektor secara utuh, bukan secara parsial.

Kepemimpinan transformatif selalu mengubah cara berpikir. Keamanan tidak lagi dipahami sebagai keadaan yang bebas dari gangguan semata, tetapi sebagai prasyarat bagi transformasi sosial, ekonomi, dan pembangunan manusia. Karena itu, sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Polri, TNI, dunia usaha, akademisi, tokoh agama, serta masyarakat sipil menjadi kekuatan strategis dalam membangun Jawa Timur yang semakin maju.

Lebih dari itu, kepemimpinan Khofifah juga memperlihatkan watak progresif. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks—mulai dari kejahatan siber, disrupsi digital, ancaman intoleransi, hingga dinamika geopolitik global—beliau mendorong agar Polri terus bertransformasi menjadi institusi yang profesional, modern, adaptif, dan terpercaya. Ini menunjukkan keberanian untuk menyiapkan masa depan, bukan sekadar merespons persoalan hari ini.

Pada saat yang sama, tampak pula dimensi inovatif dan kreatif dalam cara beliau memaknai fungsi keamanan. Polri tidak hanya ditempatkan sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra strategis pembangunan; hadir dalam pengendalian inflasi, penguatan ketahanan pangan, penanggulangan bencana, pemberantasan narkotika, pengamanan demokrasi, hingga penciptaan iklim investasi yang kondusif. Inilah paradigma baru tata kelola pemerintahan yang menjadikan keamanan sebagai bagian integral dari pembangunan.

Namun, kekuatan terbesar kepemimpinan Khofifah justru terletak pada sisi empatinya. Penekanannya terhadap pelayanan yang humanis menunjukkan bahwa hukum tidak boleh kehilangan wajah kemanusiaan. Negara hadir bukan semata-mata melalui kewenangan, tetapi melalui kepedulian, perlindungan, dan keberpihakan kepada masyarakat. Ketika aparat mengedepankan hati nurani dalam melayani rakyat, kepercayaan publik akan tumbuh, dan dari kepercayaan itulah lahir modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan.

Pada akhirnya, pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya memerlukan infrastruktur yang kokoh, tetapi juga institusi yang dipercaya, birokrasi yang melayani, aparat yang humanis, serta masyarakat yang memiliki rasa aman. Keempat unsur tersebut saling menguatkan dalam membangun peradaban yang maju dan bermartabat.
Karena itu, ucapan selamat Hari Bhayangkara yang disampaikan Gubernur Khofifah sesungguhnya adalah sebuah ajakan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menjaga Indonesia. Ketika pemerintah daerah dan Polri berjalan seiring, pembangunan memperoleh kepastian. Ketika keamanan dan keadilan hadir berdampingan, kesejahteraan menjadi lebih mudah diwujudkan. Dan ketika seluruh elemen bangsa bergotong royong dengan semangat pengabdian, maka cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045 bukan sekadar impian, melainkan masa depan yang sedang dibangun hari demi hari.

Itulah jejak kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa: kepemimpinan yang tidak hanya mengelola pemerintahan, tetapi juga membangun kepercayaan; tidak hanya menghadirkan program, tetapi juga menumbuhkan harapan; serta tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi merawat keberlanjutan, kemanusiaan, dan peradaban. Sebab pemimpin terbaik bukan hanya mampu menjaga stabilitas pada zamannya, melainkan mampu menyiapkan fondasi yang kokoh bagi generasi yang akan datang.

*Dr. ROMADLON SUKARDI, MM adalah Pengamat Kebijakan Publik dan Peradaban.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry