SURABAYA | duta.co – Usaha kecil menengah (UKM), merupakan salah satu motor penggerak perekonomian di Indonesia dan bisa membuka lapangan pekerjaan. Hal senada juga disampaikan Mas Purnomo Hadi, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Jumlah UKM di Jatim menurut sensus ekonomi pada tahun 2006 berjumlah 4,2 Juta. Kemudian, sensus ekonomi pada tahun 2012 naik menjadi 6,8 juta, terdiri dari 4,1 juta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pertanian, dan 2,7 juta UMKM non pertanian. Saat itu menyerap tenaga kerja 11,12 juta tenaga kerja. Pada 2016, jumlah UMKM naik menjadi 9,7 juta yang terdiri dari UMKM pertanian 5,2 juta, dan non pertanian 4,6 juta.

“Itu kondisi real UMKM di Jawa Timur sampai sekarang,” Ucapnya di Kantor Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Surabay, Kamis (18/4/19).

Ia mengatakan, sejak tahun 2015, UMKM di Jatim telah berhasil mengekspor berbagai produknya ke negara Asean, Australia, Eropa, Amerika dan Arab. Mulai dari kopi, keripik tempe, keripik apel, souvenir bahkan peyek.

“Peyek dari batu ke Hongkong, Singapura, Malaysia. Kopi dari Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Malang kita ekspor ke Melbourne, Amerika, Perancis dan Arab. Fashion, permata juga souvenir dari kayu jati itu juga kita lakukan ekspor,” imbuh pria asal Pamekasan ini.

Ia menambahkan, pola pembinaan terhadap UMKM juga menjadi perhatiannya selama ini. Mulai dari kelembagaan, Sumber Daya Manusia (SDM), produksi produk, permodalan dan pasarnya.

“Jadi lembaganya itu bagaimana usaha mikro menjadi usaha kecil, kecil menjadi menengah, menengah naik kelas menjadi besar. Sdm harus profesional, pengusaha harus profesional, handal dan paham apa yg dia kerjakan. Tidak ada kata kenal menyerah,” tambahnya.

Pria yang ahli dibidang ekonomi ini juga mengingatkan, pelaku UMKM Jatim harus meningkatkan kreativitas dalam produksivitas. “Produksi harus bagus. Bisa menghasilkan produk yang bersetifikasi, produk yang berstandarisasi, maka itu tadi SDM nya harus bagus supaya bisa naik kelas,” imbuhnya lagi.

Pelaku UMKM tak usah khawatir jika kurang permodalan. Karena, Gubernur Jawa Timur telah menyediakan uangnya di Bank Jatim maupun bank UMKM dengan bunga 6%. Jika tidak bankable, maka ada Jamkrida buat menjamin.

Tentang pasar, Dinas Koperasi dan UKM Jatim telah menyediakan pasar offline dan online. Untuk offline, telah disediakan 2 galeri UMKM. Bertempat di kantor Dinas Koperasi & UKM, dan di Kedungdoro. Ada juga juga  paviliun Jawa Timur di gedung Smesco Jakarta, ada  kantor Perwakilan Dagang (KPD) di 26 provinsi.

“Saya juga punya Akrindo (Asosiasi Koperasi Ritel Indonesia) yang menampung dan menjual produk makanan dan minuman UMKM. Ritel modern itu, itu ada 465 ritel modern dibawah Akrindo,” pungkasnya.

Untuk pasar online, tentunya Jawa Timur bekerja sama dengan market place, terutama Buka Lapak, Shoope, Blibli dan Lazada. Disamping juga menggunakan media sosial yang dilakukan oleh asosiasi ataupun UMKM itu sendiri.

Target pria yang memiliki jimat Akik (aktif, kreatif, inovatif, dan komunikatif) ini menjadikan UMKM Jatim yang handal, produknya yg berdaya saing.

“Saya ingin mengajak UMKM kami itu UMKM yang tidak patah arah, UMKM yang punya semangat dan sebagai petarung. Bukan sebagai tuan rumah dan pembantu di negeri sendiri. Tapi sebagai petarung di dunia perdagangan dengan menciptakan, membuat, menghasilkan produk produk yang bersertifikasi, berstandarisasi. Sehingga berdaya saing,” katanya dengan penuh semangat.

Disinggung tentang program Ultra Mikro (UMi) yang dikemukakan Kementrian Keuangan (Kemenkeu), Jawa Timur baru mempunyai satu tempat, yaitu koperasi di Sidogiri. “Saya sudah mengusulkan sebanyak 25 koperasi. Tapi belum ada persetujuan dari kementrian pusat. Saya kurang tau apa permasalahannya,” tambahnya lagi. (Fzi)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry