BORONG: Kepala  BNP2TKI, Nusron Wahid, saat membeli kain batik dari Keluarga TKI asal Blitar. (duta.co/Siti Noer Aini)

PONOROGO | duta.co– Pekerja migran asal Indonesia selama ini dinilai tidak terampil dari soft skill dan hard skill, sehingga hal itu itu menjadi kelemahan bagi TKI, dan sering menjadi bulan-bulanan para majikan di luar negeri.

Untuk itu pemerintah mulai 2018 mewajibak para calon buruh migran memiliki dua kemampuan itu, sehingga mereka bisa meningkatkan kapasitasnya dan tidak buntu dalam berkomunikasi.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia  (BNP2TKI) Nusron Wahid, saat hadir dalam Silaturahmi Pekerja Migran Indonesia dalam rangka peringatan Hari Buruh Migran Internasional di GOR Maulana Yusuf, Serang, Banten.

Acara dengan tema Pekerja Migran Indonesia Trampil dan Bermartabat juga juga diikuti oleh 2 orang perwakilan dari Ponorogo. Dalam acara itu dilakukan penyerahan sertifikat, serta pelepasan calon pekerja migran trampil ke luar negeri itu,

“Bekalnya ( untuk jadi buruh migram) harus kuat, terutama ketrampilan (hard skill), soft skil  yaitu bahasa dan komunikasi. Selama ini soft skill mereka lemah, sehingga timbulkan persoalan kemonikasi baik di majikan dan sesama pekerja. Akibatknya ada kesan TKI kita bekerja sendiri,” kata Nusron Wahid di hadapan 1300 peserta yang terdiri dari calon pekerja trampil dan Komunitas Keluarga Buruh Migran (KKBM) dari dari Lampung, Jateng, Jatim, NTB , NTT, dan DKI, Kemarin.

Padahal jelas Nusron dari sisi integritas, produktivitas, disiplin TKI kita luar biasa seperti pekerja di Korea, Taiwan.Sekarang pemerintah mengupayakan antara deman dan suply makin seimbang.

“Endang Widayati, anggota KKBM asal Desa Lembah, Kecamatan Babadan, Ponorogo yang menjadi utusan dalam silaturahmi itu mengatakan, Nusron berpesan kepada seluruh peserta yang hadir, terutama kepada 715 orang calon TKI trampil, yang secara simbolis dilepas  ke Kuwait, Arab Saudi, Australia, Taiwan, Korea dan Malaysia, agar membekali diri dengan sebaik mungkin sehingga akan diperhitungkan di luar negeri.

“Kata pak Nusron, tahun 2018 pemerintah mewajibkan semua calon TKI harus masuk balai latihan kerja yang terintegrasi. BLK satu pintu dengan di bawah satu kementrian, tidak seperi sekarang ini ada di Kemenaker dan Kemendikbud. Selain itu lembaga latihan kerja swasta juga diberdayakan, karena kalau hanya mengandalkan pemerintah saja tidak akan mampu,” ujarnya.

Silaturahmi dengan ribuan keluarga TKI dan calon buruh migran itu, dimanfaatkan juga dengan pameran hasil kerajinan/ketrampilan  para mantan buruh migran dan keluarganya. Sebab dengan memiliki ketrampilan, maka para mantan TKI bertekad tidak akan kembali lagi ke luar negeri. Misalnya stand Jawa Timur yang diwakili oleh Blitar, Tulung Agung dan Ponorogo memamerkan batik khas masing-masing daerah. Di stand Jatim ini, Nusron kepincut dengan batik asli Blitar dengan motiv kopi pecah seharga Rp 600 ribu.

“Pak Nusron berlama-lama di stand Jatim dan membeli selembar batik asal Blitar seharga Rp 600 ribu, produk ini hasil garapan mantan TKI dan keluarganya yang tergabung dalam KKBM,” imbuh Endang.

Dalam kesempatan itu Nusron juga mengatakan, jika TKI memiliki skill yang baik, dan dikelola oleh sebuah BLK, maka para pencari kerja dari luar negeri dan juga dari Indonesia tidak harus mencari calon TKI ke desa-desa, melainkan cukup ke BLK.

“Idealnya , semua pemuda Indonesia yang produktif , yang belum bekerja, wajib masuk pelatihan di BLK. Dan BLK ini setahun bisa melatih 2 juta orang. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan di Indonesia akan mudah menemukan tenaga trampil. Juga yang dari luar negeri tidak lagi ke desa-desa, tinggal ambil di BLK,” pungkasnya.  sna

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.