
SURABAYA | duta.co – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerapkan lima model Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Kebijakan ini dilakukan untuk menjawab semua kritik terhadap SMK dengan kualitas dan mutu pendidikan yang baik.
Hal itu diungkapkan Mendikdasmen, Abdul Mu’ti saat melaunching program SMK 3+1 di Surabaya,Rabu (20/5/2026).
Dikatakan Abdul Mu’ti, model pertama adalah SMK reguler. Di mana ini ditempuh siswa dalam tiga tahun. SMK yang sudah ada didorong untuk lebih relevan dengan dunia kerja.
“Di sini ada peran Pemprov. Kolaborasi dengan Kementerian di mana nantinya program keahlian harus fleksibel dan butuh strategi sendiri,” ujarnya.
Model kedua adalah mengembangkan SMK yang memiliki keahlian berbasis keunggulan. Disesuaikan dengan tren dan potensi industr. Ini berbasis potensi alam agar nantinya lulusan bisa mengembangkan potensi desamya tanpa harus keluar.
“Kalau di Jawa Timur punya potensi pertanian, maka itu harus dikembangkan melalui SMK,” ungkapnya.
Model ketiga adalah link and match di mana bekerjasama dengan perusahaan tertentu. Ini sama dengan konsep sekolah Vokasi di Jerman. Sehingga nantinya lulusan bisa kontrak kerja dengan mitra.
Model keempat adalah SMK tematik. Ini dirancang bagi mereka yang hendak bekerja di luar negeri. Ketika sudah menginjak di kelas X maka akan diarahkan dengan keterampilan tertentu agar nanti siap bekerja di luar negeri. Seperti bahasa, keterampilan yang dibutuhkan dan sebagainya.
Kelima adalah SMK 3+1. Inilah model yang diluncurkan Kemendikdasmen. Di mana siswa akan menempuh pendidikan formal SMK selama tiga tahun, ditambah satu tahun untuk keterampilan yang bia mempercepat diserap dunia kerja. “Ini bagian dari pemenuhan hak konstitusi bagi warga negara,” tandasnya. lis



































