Ekspor serentak akhir tahun yang dilakukan Kementerian Perdagangan, salah satunya di Pabrik Kokola Group di Driyorejo, Gresik, Kamis (23/12/2021). DUTA/endang

GRESIK | duta.co – Kementerian Perdagangan RI melepas ekspor akhir tahun 2021 serentak di 278 perusahaan di 26 provinsi, di 62 kota/kabupaten, Kamis (23/12/2021). Total ekspor itu mencapai USD 2,44 miliar atau setara Rp 35,03 triliun.

Dari 278 perusahaan itu, 54 perusahaan atau 11 persen katagori usaha kecil menengah (UKM) dengan nilai USD 5,56 juta atau setara Rp 2,78 miliar. Produknya mulai perikanan, kelautan, makanan olahan dan sebagainya.

Sementara 224 perusahaan lainnya adalah non UKM dengan nilai USD 2,43 miliar atau setara Rp 34,9 triliun. Perusahaan besar ini meliputi meliputi produk ekspor berupa batubara, otomotif, minyak sawit, perikanan, kimia, tekstil, makanan minuman, karet, furnitur dan sebagainya.

Ekspor akhir tahun ini dikirim ke 58 negara di mana 87 persennya ke pasar tradisional dan 13 persen non tradisional.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengaku senang dan bangga karena bisa mencatatkan prestasi eksport tertinggi di 2021 ini.

“Saat ini ekspor mencapai USD 209 miliar kakau konsisten hingga Desember 2021 ini ekspor bisa mencapai USD 230 miliar. Ini angka lebih tinggi dibanding 2019 senilai USD 203,5 miliar yang juga menjadi ekspor tertinggi dari sebelumnya,” ungkap Lutfi.

Lutfi menegaskan ekspor kali ini menjadi tonggak sejarah karena Indonesia yang selama ini menjadi eksportir migas kini mulai berubah dan berevolusi.

Pada 2011 lalu, tiga dari lima ekspor terbesar Indonesia adalah ekspor primer seperti pertambangan, batubara dan karet serta biji logam.

“Sekarang Indonesia bisa mengekspor biji baja, elektronik, otomotif tidak tergantung hasil tambang. Ini sungguh luar biasa,” tukas Lutfi.

Apa yang sekarang dialami Indonesia ini adalah buah dari kedisiplinan dan hilirisasi komoditas pertambangan. “Selama ini kita yang hanya bisa menjual produk mentah dan setengah jadi, kini bisa menjual produk jadi,” ungkap Lutfi.

Selain itu pusat industri di Indonesia sudah mulai merata dari sebelumnya yang ada di Jawa kini mulai tersebar di beberapa wilayah di Indonesia Timur. “Bahkan ke depan, Indonesia Timur akan memiliki peluang investasi yang sangat besar,” tukas Lutfi.

Momen pelepasan ekspor produk bernilai tambah merupakan wujud konkret dukungan pemerintah (pusat dan daerah) kepada para pelaku bisnis untuk terus berupaya dalam meningkatkan nilai ekspor indonesia di 2022 mendatang.

Selain itu, langkah ini dilakukan untuk menginspirasi dan memotivasi pelaku bisnis untuk terus mengembangkan ekspornya dengan tetap mendorong inovasi dan daya saing produk.

Pelaku bisnis terus berinovasi menciptakan produk bernilai tambah dan memanfaatkan peluang pasar yang ada agar dapat bersaing di dalam dan luar negeri. Sehingga dari kesemuanya diharapkan terwujud pertumbuhan ekonomi masyarakat yang progresif. end/ril

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry