SEMARANG | duta.co – PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Tengah mengadakan Pelatihan Pengembangan Kapasitas IT yang diikuti Tim PKPNU (Pelatihan Kader Penggerak NU) dari PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) se-Jawa Tengah di Aula Pondok Pesantren Al Itqoon Desa Bugen Kelurahan Tlogosari Wetan Kecamatan Pedurungan Kota Semarang, Rabu (14/03/2018).

KH Anis Ilahi menyatakan potensi besar kader NU dalam dunia cyber, hanya saja hal tersebut harus dikelola melalui pelatihan yang terstruktur dengan baik. “Banyak kaum muslim saat ini yang menggunakan media sebagai rujukan dalam belajar agama, sementara banyak kader NU yang memahami agama dan tidak banyak yang berdakwah menggunakan media,” kata Kiai Anis.

Dijelaskan, akun youtube, twitter, facebook dan sebagainya sebagai media informasi, justru banyak yang digunakan untuk melawan NU. Musuh NU banyak bermain di media-media tersebut sebagai bagian dari mendulang popularitas sehingga mempermudah dalam menyebarkan paham keagamaan.

Pada era milenial ini semakin banyak yang ingin belajar agama, namun enggan berguru secara langsung, “Sebenarnya, generasi milenial rindu kehidupan beragama tapi jauh dari ulama. Hal ini yang terlambat diantisipasi oleh NU” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan perlunya aktifitas generasi NU dalam menghalau gerakan Islam trans nasional, “Mereka yang ingin belajar agama secara online perlu sentuhan media dari kader NU, kalau tidak dilakukan akan dilayani oleh mereka yang menganut Islam trans nasional seperti wahabi, HTI, dan sebagainya.” tambahnya.

Menurut Kiai Anis, merebaknya kaum radikalis secara massif terjadi karena tidak belajar secara langsung. “Mereka awalnya tidak berani berdakwah secara tatap muka. Hanya mengandalkan media,” terangnya.

Dikatakan hal tersebut yang merusak amaliah NU, yakni wahabi takfiri. Dijelaskan bahwa perang cyber tidak bisa dilakukan secara sendiri. Hal ini seperti yang dibuktikan oleh Banser saat melawan Felix Siauw dan HTI.

Dia menjelaskan banyaknya berita dan perang dalam twitter, fb, instagram dan sebagainya sebagai salah satu contoh kemenangan kader NU di dunia cyber sehingga banyak berita tersebut berada di papan atas saat mencari di google. Dia menegaskan, dari segi harakah (gerakan politik) lawan kita adalah HTI yang menyatakan NKRI thoghut.

Dalam hal lain, ia mencontohkan sebuah kasus di mana KH Ubaidullah Shadaqah, Rois Syuriah PWNU Jateng yang diserang oleh lawan NU. Diungkapkan, dari penelusuran tim cyber pada akun yang menyerang Kiai Ubaid adalah mesin.

Dijelaskan bahwa penyerang tersebut bukan ribuan orang, melainkan ribuan akun tanpa kejelasan pemiliknya. Menyinggung pada kasus yang tengah ditangani Cyber Polri, dia menyatakan bahwa hal tersebut merupakan bagian yang terorganisir. “Cyber Army yang ditangkap Polri itu yang terorganisir. Bukan individu,” tegasnya.

Dengan adanya pelatihan IT ia berharap para kader penggerak NU yang ada di Jawa Tengah mampu melayani umat Islam yang hendak belajar ilmu agama secara online.

“Ada sekitar 30 hingga 40 persen umat Islam yang hendak memperbaiki kehidupan agamanya. Dan itu dilakukan secara online,” tandasnya.

Menurutnya, kemajuan teknologi akan beralih pada virtual reality seperti halnya kita masuk ke dalamnya dengan teknologi 3-4 dimensi. Selain membekali peserta dengan analisis media yang dipandu KH Anis ilahi, salah satu anggota tim analis cyber PBNU, para kader pun mendapatkan pengetahuan virtual cyber dari Herman Abdul Bakar, tim IT PCNU Kota Semarang. (q,rif)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.