Tampak Mahasiswa UIN SA Surabaya sedang melakukan kajian optimalisasi belajar di rumah. (FT/ITS)

“Kemitraan sekolah-keluarga harus diperkuat untuk memastikan anak-anak kita belajar. Banyak pakar yang sepakat bahwa pandemi Covid-19 telah mengungkap realitas ketimpangan di masyarakat kita.”

Totok Amin Soefijanto*

KELUARGA telah lama dikenal sebagai pusat pendidikan.  Dalam Islam, peran ayah dan ibu dalam proses pendidikan sangat penting, bahkan yang utama.  Keluargalah yang pertama kali menanamkan akhlak, keteladanan, kejujuran, kefitrahan sebagai hamba Allah SWT ke anak.

Orangtua juga bertanggungjawab agar semua anggota keluarga terhindar dari api neraka (QS.At-Tahrim ayat 6), seperti tercermin dari ungkapan qu anfusakum, buatlah penghalang adanya siksa dengan menghindari dosa dan maksiat.

Jean Jacques Rousseau adalah filsuf yang kurang percaya dengan peran keluarga.  Dia mengamati keluarga borjuis Prancis yang salah dalam mendidik anak mereka.  Keluarga-keluarga ini merusak pikiran muda dengan perasaan palsu akan kemewahan dan menjadi kaya tanpa kerja keras.

Memang, sebagian besar keluarga borjuis Prancis adalah tuan tanah, jadi mereka mendapat nafkah dari panen tanah warisan masing-masing.  Cara hidup ini, pada gilirannya, tidak mempersiapkan anak-anak mereka untuk menghadapi kesulitan, pencobaan, dan kesengsaraan di kehidupan nyata di masa depan.

Rousseau menulis cerita tentang Emile – seorang tokoh fiksi anak laki-laki – yang dititipkan dkeluarganya untuk diajari tentang kehidupan dan alam. Ia menulis proses pembelajaran langkah demi langkah dalam novel berjudul “Émile, ou De l’éducation” dan diterbitkan pada tahun 1762.  Oleh sebab itu, Rousseau termasuk salah satu penganjur adanya sekolah, sistem pendidikan di luar keluarga.

Tiba-tiba, di awal tahun 2020, kita ‘tersapu’ pandemi Covid-19, dan memaksa  semua orang untuk tinggal di rumah. Sekolah terpaksa beralih ke pembelajaran jarak jauh, dan metode pembelajaran tatap muka tidak lagi direkomendasikan.

Tidak ada yang membantah, selama ini pembelajaran tatap muka merupakan metode pembelajaran terbaik hingga saat ini. Zoom, Google Meet, dan sejenisnya hanya meniru proses pembelajaran tatap muka.

Tapi, maaf Rousseau, kami mengembalikan anak-anak ke keluarga mereka sekarang, terlepas dari apakah mereka siap atau tidak. Kita sekarang dapat melihat gelombang transisi pembelajaran dari tatap muka ke sistem BDR atau Belajar Dari Rumah yang bergulir di seluruh sistem sekolah dunia.

Meskipun demikian, pikiran manusia terkadang sulit untuk berubah. Kita merindukan kehidupan normal seperti sebelum Covid-19. Ini hanyalah krisis sementara. Dan, setelah krisis seperti itu, kita biasanya berusaha keras untuk kembali normal. Kita boleh saja berharap begitu, tetapi juga harus menyadari bahwa itu ilusi belaka.  Sulit untuk mengetahui kapan pandemi ini akan berakhir. Konyol membayangkan bahwa sekolah kita akan menjalankan kegiatannya seperti biasa lagi.

Akankah kita mengabaikan fakta bahwa virus ini terus berubah, beradaptasi, dan mengancam kehidupan siswa dan guru kita? Apakah normal seperti biasa jika siswa kita duduk menjaga jarak, memakai masker, dan sering cuci tangan?

Pemerintah harus segera mengambil langkah serius dalam memulihkan kegiatan pendidikan. Baik dengan beralih ke mode pembelajaran tradisional di satu ekstrem atau mode pembelajaran daring penuh di ekstrem lain. Pemerintah harus memberikan panduan nasional kepada sekolah dan pendidik di seluruh negeri.

Langkah pertama sudah dijalankan, yaitu menyediakan akses internet gratis ke semua sekolah, guru, dan anak didik. Langkah kedua yang belum dijalankan adalah mengeluarkan peraturan menteri yang memberdayakan keluarga untuk menjadi mitra belajar sekolah.

Langkah ketiga, mengembangkan kurikulum baru yang menekankan kemitraan sekolah-keluarga dalam mendidik anak kita. Ironisnya, struktur baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan justru menurunkan bidang pendidikan keluarga ke jenjang eselon 2.

Covid-19 telah menjadikan keluarga sebagai entitas penting dalam proses pendidikan. Kebetulan, Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan bahwa keluarga adalah “alam pendidikan permulaan” si anak.

Dalam Renstra Kemendikbud 2015-2019, terdapat tujuh elemen ekosistem pendidikan, salah satunya adalah “melibatkan orang tua secara aktif”. Selanjutnya rencana tersebut tertuang dalam SK Menteri no. 22/2015 menjabarkan fungsi keluarga sebagai berikut: membentuk kepribadian anak, menyelenggarakan pendidikan di rumah, dan mendukung pendidikan di sekolah.

Orang tua memiliki hak dan kewajiban untuk memilih sekolah, mendapatkan informasi tentang kemajuan belajar anaknya, dan memberikan umpan balik kepada sekolah. Pasca Covid19 akan menambah fungsi keluarga, seperti mengembangkan lingkungan yang positif bagi anak untuk belajar dan memberikan dukungan bagi proses belajar anak dengan bimbingan guru.

Kemitraan sekolah-keluarga harus diperkuat untuk memastikan anak-anak kita belajar. Banyak pakar yang sepakat bahwa pandemi Covid-19 telah mengungkap realitas ketimpangan di masyarakat kita. Misalnya, banyak keluarga miskin bergantung pada sekolah untuk penitipan anak, perlengkapan belajar, peralatan, dan buku, dan baru-baru ini, koneksi Internet. Tiba-tiba, semua kemudahan itu hilang ketika anak-anak harus tinggal di rumah dan diharapkan terus belajar. Keluarga miskin tidak memiliki fasilitas untuk melakukan atau terlibat dalam pembelajaran jarak jauh.

Studi oleh UNESCO menunjukkan bahwa keluarga miskin secara global adalah yang paling terpukul oleh situasi ini. Pada akhirnya, sekolah harus menjadi inti dari jaring pembelajaran yang mencakup keluarga dan komunitas sekitarnya.

Dengan pendekatan ini, kami dapat memberdayakan orang tua dan pengasuh untuk menjadi mitra perjalanan pembelajaran bagi anak-anak. Kita bisa menyebutnya “schoolhoming” – plintiran dari homeschooling, di mana sekolah masih menjadi pusatnya dan keluarga bertindak sebagai mitra dekatnya.

Pemerintah – baik daerah maupun pusat – harus bekerja sama untuk memfasilitasi keluarga yang bekerja sebagai mitra belajar sekolah. Badan usaha, khususnya penyedia layanan komunikasi, juga harus memastikan siswa memiliki sumber daya dan kapasitas untuk belajar secara efektif dari rumah. Sumber daya ini dapat berkisar dari Internet dan perangkat elektronik – banyak anak dari keluarga miskin tidak memiliki komputer atau smartphone – hingga buku dan pensil.

Pemerintah, bisnis, sekolah, dan komunitas harus menerapkan pendekatan baru: datang kepada siswa di mana pun mereka berada. Layanan pendidikan harus dilayani secara kolaboratif oleh seluruh pemangku kepentingan, dengan siswa dan keluarganya masing-masing sebagai penerima inti layanan ini.

Mereka adalah masa depan kita, dan sifat pasca-Covid19 kita berbeda. Seperti yang dikatakan Rousseau: Semua kejahatan datang dari kelemahan. Anak itu jahat hanya karena dia lemah. Mari jadikan dia kuat iman dan pikirannya; maka dia akan menuju akhlakul karimah. Manusia yang bijak — seorang insan kamil – justru akan memberi manfaat bagi sekitarnya. (*)

*Totok Amin Soefijanto adalah peneliti bidang kebijakan publik dan pendidikan di Universitas Paramadina dan Universitas Negeri Jakarta

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry