“Dinamika PBNU di tahun 2025 diwarnai dengan berbagai manuver yang mencoba melemahkan posisi Syuriah.”
Oleh Dr KH. Habib Khoiru Tsani, MA.

MEMASUKI abad keduanya Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di persimpangan jalan krusial, sebuah momen yang menentukan apakah organisasi keagamaan terbesar ini akan tetap setia pada Khittah 1926 atau terhanyut dalam politik praktis? Akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 menjadi saksi sejarah. Kemenangan supremasi Syuriah dan Rois Am adalah nyata dengan bukti dua kali pleno.

Di balik kembali kokohnya marwah organisasi ini, berdiri sosok Rais ‘Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, yang menunjukkan keteladanannya dalam memimpin di tengah badai manuver. Kisahnya adalah tentang keteguhan, kembalinya marwah ulama, dan soliditas Syuriah yang akhirnya mampu menundukkan dinamika Tanfidziyah (pengurus eksekutif) demi kemaslahatan umat.

Dinamika PBNU di tahun 2025 diwarnai dengan berbagai manuver yang mencoba melemahkan posisi Syuriah. Tekanan intens, termasuk upaya-upaya “islah” di Ploso, Tebuireng, hingga Lirboyo, seringkali terasa sebagai upaya melompati konstitusi organisasi. Namun, KH Miftachul Akhyar, atau yang akrab disapa Kiai Miftah, tetap tak bergeming.

Kiai Miftah adalah potret pemimpin yang memegang teguh Adabul Alim wal Muta’allim. Beliau tidak tergiur dengan kekuasaan praktis, melainkan fokus pada penguatan supremasi Syuriah, tempat di mana kiai-kiai sepuh berada. Keteguhannya terlihat saat ia memimpin Pleno PJ (Penjabat) dan pleno-pleno penting lainnya, memastikan bahwa semua langkah organisasi harus mendapatkan restu dan sesuai dengan AD/ART.

Meskipun ditekan, Kiai Miftah tetap merangkul. Puncaknya, ia menunjukkan kebijaksanaan kepemimpinannya dengan memimpin rapat pleno yang akhirnya islah dengan Gus Yahya di sidang Pleno 29 Januari 2026. Beliau telah menunjukkan bahwa “Supremasi Syuriyah terus hidup dan menguat”, memulihkan digdaya persuratan PBNU, dan mengembalikan arah kebijakan PBNU kepada garis keulamaan. Dengan keteladanan ini, Kiai Miftah sangat layak melanjutkan kepemimpinan sebagai Rais ‘Aam mendatang.

Kemenangan Supremasi Syuriah bukanlah kerja tunggal, melainkan hasil kolektif dari para pemikir dan tokoh NU yang peduli dengan marwah organisasi. Ada beberapa tokoh, baik dari struktural maupun kultural, dan yang paling vokal memperjuangkan supremasi Syuriah dua bulan terakhir, sampai Pleno kedua, patut disebut, yaitu KH. Imam Jazuli (Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon).

Kiai Imjaz sapaannya, adalah suara paling vokal dalam memperjuangkan supremasi Syuriah. Ia menekankan bahwa tanpa Syuriah yang kuat, NU bisa kehilangan arah dan marwah. Sebagai pendorong kembalinya Khittah 1926, Kiai Imjaz menegaskan bahwa Tanfidziyah (pengurus eksekutif) harus patuh pada Syuriah dan Rois Aam. Ia menyoroti perlunya Syuriyah tegas menghadapi manuver Tanfidziyah yang dianggap terjebak politik praktis.

Kiai muda, eks wakil ketua RMI ini secara konsisten mengkritik dominasi Tanfidziyah yang dianggap melampaui kewenangannya. Ia juga menegaskan bahwa marwah NU mutlak berada di tangan Syuriyah yang dipimpin oleh Rais Aam. Bahkan, pada Muktamar selanjujutnya, ia mengusulkan struktur di mana Tanfidziyah dipilih langsung oleh Rais Aam untuk memastikan kepatuhan ideologis dan moral. Tentu selain Kiai Imjaz, ada beberapa tokoh muda lainnya.

Kemenangan supremasi syuriah ini nyata ketika tanggal 29 Januari 2026, KH Miftachul Akhyar memulihkan dan memaafkan Gus Yahya dalam sidang Pleno hybrid dan menaskah Pleno pertama yang mengangkat PJ, serta sepakat menggelar Muktamar bersama, menandai berakhirnya polemik internal. Jadi, secara kolektif, penguatan syuriah ini adalah upaya mengembalikan Khittah NU 1926.

Sekalagi lagi, Syuriah bukan hanya sekadar ornamen, melainkan jantung, arah, dan marwah organisasi. Dengan Syuriah yang kuat, NU memastikan diri tetap pada jalurnya sebagai gerakan keulamaan yang mengayomi, bukan sekadar terjebak dalam pusaran politik praktis. Kemenangan ini adalah kemenangan bagi warga Nahdliyin yang merindukan NU yang konsisten, berkarakter, dan dihormati.(*)

Dr  KH Habib Khoiru Tsani, MA. adalah Pengasuh Pesantren Akmala Sabila Cirebon.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry