Oleh: Ganjar Setyo Widodo*

MASA pandemi covid-19 membuat seluruh aspek sosial kehidupan berubah. Pola kehidupan yang biasanya sudah sangat teratur menjadi tidak teratur. Biasanya di pagi hari  jalanan dipadati orang tua yang mengantar anak mereka ke sekolah kemudian mereka semua beranjak untuk mencari nafkah, kini berubah. Biasanya bis sekolah, angkutan umum, dan layanan kendaraan online penuh dengan siswa yang berbegas menuju sekolah. Mahasiswa yang biasanya pagi ke kampus untuk kuliah pagi, kini tidak lagi terjadi. Kini berubah.

Seluruh orang tua harus bekerja di rumah dan bertransformasi menjadi “guru darurat” bagi anak-anak mereka menggantikan peran guru di sekolah seperti biasanya. Banyak orang tua yang merasa kebingungan akan kondisi tersebut. Para orang tua banyak yang mengaku tidak mampu untuk mengajari tugas-tugas anak mereka yang diberikan guru melalui pesan Whatsapp atau media lainnya. Keluhan tersebut kemudian ditanggapi pemerintah dengan menghadirkan guru virtual di TVRI dengan jadwal yang sudah ditentukan. Seluruh siswa dianjurkan untuk melihat tayangan sesuai dengan jenjang kelas mereka. Tentu banyak hal lagi yang sudah dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menghadapi pandemi yang sedang berlangsung.

Keadaan sosial tersebut menunjukkan bahwa sekolah tidak lagi memiliki ikatan secara fungsional dengan orang tua di rumah. Artinya, ada yang terputus antara sekolah dengan orang tua siswa. Seperti yang kita ketahui Undang-undang pendidikan nasional menyebutkan bahwa ada tri pusat pendidikan atau yang dalam bahasa undang-undang diistilahkan pendidikan formal, non-formal dan informal. Pendidikan formal dan non formal terwujud dalam lembaga pendidikan dan pelatihan, sedangkan informal terwujud dari interaksi siswa di rumah dengan keluarga dan masyarakat.

Sejauh ini, pendidikan informal masih sangat minim digarap oleh pemerintah dan kurang populer di masyarakat. Mungkin karena pengakuan sosial hanya diperuntukkan oleh seseorang yang lulus dari pendidikan formal dan non formal. Pendidikan informal masih dianggap sebagai pelengkap kehidupan saja.

Kembalinya Guru di Rumah

Pandemi covid-19 bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan 1441 Hijriah. Memori ramadhan dengan berkegiatan di rumah terulang kembali. Seperti yang kita alami bersama dulu di era Gus Dur, seluruh kegiatan di sekolah libur penuh satu bulan. Seluruh kegiatan belajar murni dilakukan di rumah. Hikmah akibat pandemi covid-19 yaitu mungkin kita sebagai masyarakat menjadi tergerak lagi akan pentingnya pendidikan orang tua di rumah. Melalui keteladanan orang tua, waktu luang orang tua untuk anak akan semakin mendekatkan kembali anak dengan pendidikan orang tuanya. Orang tua adalah role model  bagi setiap anak. Orang tua harus siap menjadi guru untuk anak-anak mereka.

Berbagai riset menunjukkan bahwa ada korelasi yang positif antara pendidikan di rumah dengan pembangunan kebudayaan suatu bangsa. Orang tua yang selalu mengajarkan anak kedisiplinan akan terbawa sampai nanti ketika anak sudah masuk di dunia kerja. Orang Tua yang mengajarkan anak untuk selalu mengatakan dengan jujur terhadap segala sesuatu, akan terbawa oleh anak sampai  dewasa. Orang tua yang selalu mengajarkan hidup bersih di rumah, akan terbawa oleh anak sampai mereka tua. Keteladanan-keteladanan kecil tersebut sesungguhnya adalah hal yang membawa pengaruh besar bagi kesuksesan anak di kemudian hari.

Sebagai contoh, Bill Gates, orang terkaya di Amerika, sejak berada di rumah selalu dibiasakan untuk berbagi oleh orang tuanya. Orang tuanya mengajarkan pentingnya kebaikan disamping kesuksesan. Kemudian Albert Einsten, sang jenius dari Jerman yang terkenal dengan teori relativitasnya, pernah mengalami kesulitan dalam menjalani masa sekolahnya. Namun, ibunya, Pauline selalu membesarkan hati Einstein. Di samping itu, orang tuanya, Pauline dan Herman, sering mengajak Einstein untuk mengenal alam dengan berjalan-jalan berkeliling menikmati pemandangan alam dan pemandangan kehidupan perkotaan. Kebiasaan ini menjadikan Einstein menjadi orang yang mencintai alam dan menaruh empati pada orang lain.

Oleh karena itu, penting bagi kita semua sebagai orang tua untuk menghidupkan kembali pendidikan di rumah. Menjadi orang tua, sepatutnya kita tidak berserah penuh terhadap pendidikan di sekolah saja. Ada banyak yang harus dilakukan orang tua untuk mendidik anaknya. Karena sesungguhnya guru sejati yaitu orang tua.

*Penulis adalah Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang (Unisma).

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry