Menyempatkan foto bersama usai acara halaqah IV di PP Al-Wahdah, Lasem, Jawa tengah. (FT/MKY)

LASEM | duta.co – Ada pesan istimewa dalam halaqah IV Komite Khitthah 1926 NU (KK26 NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren  Al-Wahdah, Lasem, Jawa Tengah, Kamis (17/1/2019) kemarin. Adalah taushiyah singkat Gus Qoyyum (KH Abdul Qoyyum Mansur) yang disampaikan vis telephon.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur, Lasem ini mengingatkan agar ada upaya bersama (para masyayikh) untuk mengembalikan organisasi NU ini kepada qonun asasi (landasan dasar) dan sirah (sejarah berdirinya) NU.

“NU itu kalau dilihat dari namanya saja, ada dua kata. An-nahdloh yang berarti kebangkitan  dan al-ulama yang berarti orang alim (dalam Islam). Dua kata ini yang terakhir adalah al-ulama. Kata ulama sendiri dalam Alquran hanya disebut dua kali. Pertama, ulama Bani Israel, kedua ulama dalam aspek moralitas,” tegas Gus Qoyyum sambil mengutip ayat Alquran innama yakhshallahu min ‘ibadihil ulama (Surat Faathir: 28).

Dari sekian hamba Allah, lanjut Gus Qoyyum, ulama yang dijadikan keteladanaan oleh Allah. Ulama yang dijadikan figur takut kepada Allah. “Maka ketika mendirikan Nahdlatul Ulama dulu, sifat dan karakter Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Chasbullah dan para masyayikh semuanya mengedepankan karakter dasar itu, yakhsaAllah, selalu didasarkan kepada rasa takut kepada Allah. Ini jati diri ulama,” tegasnya.

Karena itu, menurut Gus Qoyyum, sekarang ini kalau ingin mengembalikan NU, berarti harus mengembalikan kepada karakter dasar tersebut, takut kepada Allah. “Sehingga NU kalau memutuskan seluruh perkara, didasarkan takut kepada Allah. Kalau mau mendekat penguasa, atau menjalin hubungan sesama muslim, selalu didasari rasa yakhsaAllah. Kalau ini dijadikan sifat dasar, pedoman dasar, maka,  NU akan kembali kepada marwahnya,” jelasnya.

Gus Qoyyum juga mengisahkan betapa ulama-ulama NU dulu sangat berhati-hati dalam bersikap dan tegas menghadapi kelompok munafik. Ketika berlangsung bahtsul masail di Munas/Muktamar di Cirebon, kala itu peserta bahtsul masail sempat mengalami kebuntuan dalam menjawab sebuah masalah. Tiba-tiba datang Gubernur Belanda menjawab dengan detail, referensi kitabnya, sampai halamannya.

“Semua santri pada terkagum, masyaAllah pintar sekali Belanda ini. Tetapi, apa fatwa Mbah Hasyim? Beliau tegas, ini orang munafik di balik itu dia seorang penjajah,” tambah Gus Qoyyum sambil menceritakan bahwa sang Ayah (almaghfurlah KH Mansur Kholil) ikut dalam bahtsul masail tersebut.

Begitu juga hubungan sesama muslim, ulama-ulama NU tidak mengajari kecurigaan. Tidak ada kecurigaan. Jangan sedikit-sedikit teroris. Orang mau amar makruf disebut teroris. Kita hantam saudara sendiri, kita kubur saudara sendiri.

“Sekarang ini dinamika masalah ibadah, muamalah grade-nya buruk. Mengapa?  Karena jauh dari rasa takut kepada Allah. Maka, kembalikan NU, sehingga seluruh keputusannya didasari rasa takut kepada Allah,” tegasnya.

Tak kalah menarik, ketika Gus Qoyyum menjelaskan kata khitthah. Menurutnya, selama ini dirinya tidak tertarik menggunakan kata itu, khitthah. Harus diakui, bahwa, belakangan ini sulit orisinil, karenanya yang dimaksud khitthah itu harus ke qonun asasi, kembalikan ‘UUD’ qonun asasi.

“Kalau kembali ke khitthah itu diartikan kembali ke keputusan muktamar, nanti tidak ke qonun asasi, dan ini bisa paradok dengan keputusan muktamar yang lain. Makna kembali ke khitthah menjadi multi tafsir. Maka, harus kembali ke qonun asasi, dan prakteknya kembali ke sirah, perjalanan awal NU,” tutupnya.

Hadir dalam halaqah IV KK 26 NU adalah KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), KH Abdullah Muchith, KH Dr Rozi Syihab, Prof A Zahro, Prof Nasihin, Prof Rahmat Wahab, Gus Najih Maemoen Zubair, para ulama dari berbagai daerah dan mereka yang tergabung dalam Aliansi Ulama Madura (AUMA)  serta para pengasuh PP Al-Wahdah.  (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.