Gus Wahid (kiri) dan rencana sarasehan keaswajaan relevansi Kitan Kuning bagi generasi milenial. (FT/IST

SIDOARJO | duta.co – Salah satu ‘basis Ilmu’ yang ikut tergerus di era digital adalah kitab kuning. Para santri (generasi) milenial atau generasi Y yang lahir pada 1980-1990 sampai awal 2000, sudah tidak begitu akrab dengan kitab kuning. Padahal, inilah sumber ilmu sekaligus hasanah pesantren.

“Fakta ini harus dijawab dan diatasi.  Hari ini gairah santri, alumni, dan generasi muda NU dalam mengkaji atau belajar kitab kuning, mulai luntur. Melalui sarasehan keaswajaan kita bedah relevansinya bagi generasi milenial,” jelas KH Abdul Wahid Harun, Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Putat , Tanggulangin, Sidoarjo, kepada duta.co, Selasa (9/4/2019).

Rencananya, sarasehan berlangsung Rabu (10/4/2019) di PP Manba’ul Hikam, Sidoarjo. Dijadwalkan hadir KH Abd Salam Shohib (Wakil Ketua PWNU Jatim), KH Syamsudin (Wakil Katib), KH Fahmi Fuad Jazuli, Wakil Sekretaris PWNU Jatim. “Acara ini akan dibuka H Agus Arifuddin MPdI dan, bersih dari kepentingan politik,” demikian Gus Wahid, panggilan akrabnya.

Masih menurut Gus Wahid, saat ini dunia pondok pesantren harus peduli terhadap nasib kitab kuning. Harus diakui belakangan kajian kitab kuning semakin berkurang. Dulu, kitab kuning ini digunakan sebagai basis utama keilmuan, tapi, kini dipandang kurang strategis.

“Terus terang kami prihatin. Berdasarkan hasil penelitian kajian kitab kuning di sejumlah pesantren saat ini terus berkurang. Padahal ribuan kitab kuning dapat dipelajari para santri dan, itu merupakan karya ulama-ulama besar baik di tanah air maupun luar negeri,” jelasnya.

Digitalisasi memang punya andil. Ini membuat masyarakat semakin kritis, di samping tuntutan kemudahan dan kecepatan semakin besar, maka, akses atau sumber rujukan agama banyak diambil dari internet. Padahal sumber internet jelas sulit dipertanggungjawabkan.

“Sementara kitab kuning sebagai rujukan jelas, siapa muallif (penulisnya), apa saja dalilnya, sampai pada sanadnya yakni ketersambungan keilmuan sampai Rasulullah SAW,” tegasnya.

Ditanya soal kelengkapan kitab kuning versi digital, Gus Wahid tidak mengelak. Tetapi ada hal penting yang dilupakan, bahwa, digitalisasi sering memutus hubungan guru dengan murid.

“Yang sudah pasti, pembaca kitab digital melupakan mushonifnya, atau bahkan tidak terpikirkan membaca fatihah untuk pengarang kitab tersebut. Ini bisa mencabut keberkahan ilmu,” tegasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.