CATATAN PINGGIR Mencari Solusi Terbaik Konflik PBNU (2)

Oleh Dr H Romadlon Sukardi, MM*

DALAM setiap fase sejarah besar Nahdlatul Ulama, selalu ada saat di mana organisasi terbesar umat ini harus kembali menengok cermin: mengukur kejernihan akal sehat, menjaga marwah ulama, dan menemukan kembali jalan tengah sebagai fondasi peradaban.

Konflik PBNU yang muncul belakangan hanyalah gejala permukaan dari dinamika yang jauh lebih dalam—pergeseran orientasi, kompetisi paradigma kepemimpinan, dan benturan antara tradisi keluhuran ulama dengan tuntutan modernitas yang berkecepatan tinggi.

Di tengah turbulensi itu, kebutuhan untuk menghadirkan rasionalitas politik yang jernih menjadi sangat mendesak. Akal sehat bukan sekadar metode berpikir, tetapi kompas moral yang mencegah NU terseret ke jurang fragmentasi dan mengarahkan langkahnya menuju harmoni besar yang sesuai dengan khittah-nya.

Namun tantangan abad ke-21 menuntut lebih dari sekadar penyelesaian konflik internal. PBNU hari ini berada pada persimpangan global di mana otoritas moral-spiritual ulama—marwah yang selama satu abad menjadi cahaya peradaban—harus diterjemahkan ulang dalam bahasa diplomasi peradaban modern.

Jalan tengah bukan lagi kompromi politik sempit, tetapi strategi rekonsiliasi berkelas dunia yang memadukan kearifan pesantren, etika kepemimpinan profetik, dan visi futuristik tentang masa depan umat. Karena itu, “mencari jalan pulang” bukan sekadar kembali ke masa lalu, tetapi merumuskan ulang arah besar perjalanan PBNU sebagai penjaga moderasi global, penjaga warisan para wali, dan sekaligus arsitek masa depan peradaban Nahdliyin di kancah nasional maupun internasional.

Rumah Besar Mencari Kejernihan

Pada episode pertama, kita telah menyingkap akar dari ketegangan internal PBNU, membedah luka-luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, dan menegaskan bahwa Muktamar sesuai jadwal adalah jalan tengah yang paling bermartabat. Namun, sejarah NU yang panjang tidak berhenti pada satu fase. NU adalah organisme sosial yang terus hidup, terus bergerak, dan terus diuji oleh dinamika zaman.

Konflik PBNU hari ini bukan sekadar benturan antara faksi Rais Am dan faksi Ketua Umum. Konflik ini adalah benturan antara dua arus besar: arus nilai dan arus kepentingan, arus tradisi dan arus ambisi.

Kita sedang menyaksikan bagaimana organisasi terbesar di Indonesia—yang memayungi ribuan pesantren, jutaan santri, dan menjadi jangkar moral bangsa—berdiri di persimpangan sejarah. Persimpangan itu menuntut NU untuk memilih: apakah ia akan bergerak dengan akal sehat organisasi, atau dengan emosi sesaat kekuasaan?

Apakah ia akan tetap menjadi penopang stabilitas bangsa, atau terseret menjadi arena pertarungan elit yang kehilangan rohnya? Tulisan kedua ini hadir untuk melangkah lebih jauh—mengurai persoalan bukan hanya dari sisi organisatoris, tetapi dari sudut pandang politik nasional, analisis akademik, dan kesadaran spiritual yang mendalam.

Sebab NU adalah medan peradaban, bukan sekadar struktur administratif. NU adalah benteng akhlak, bukan panggung ambisi. Maka, setiap benteng besar akan runtuh bukan oleh serangan luar, tetapi oleh kelalaian menjaga dirinya sendiri.

Jalan Tepat Kembali ke Khittah

Khittah 1926 dan ikrar Situbondo 1984 bukan hanya dokumen organisasi; ia adalah kontrak moral, moral covenant, yang mengikat seluruh pemimpin NU untuk berlaku rendah hati di hadapan amanat umat. Ini Jalan tepat. Ketika para muassis NU mendirikan jam’iyyah ini, mereka menanamkan satu prinsip: kekuasaan bukan tujuan; kekuasaan hanyalah sarana. Yang menjadi tujuan adalah kemaslahatan umum dan keutuhan umat.

Namun sejarah menunjukkan bahwa setiap kali NU terlalu dekat dengan politik praktis, setiap kali NU terseret arus kepentingan kekuasaan, maka gema moral para kiai menjadi sayup. Muktamar Alun-alun Jombang adalah contoh paling gamblang: ketika ego mengalahkan etika, maka organisasi sebesar apa pun dapat tergelincir pada pola “organisasi rasa parpol.”

Karena itu, Muktamar sesuai jadwal bukan hanya prosedur administratif. Ia adalah ritus penyucian organisasi. Ia adalah momentum kontemplatif, ketika NU kembali menakar dirinya: “Apakah kita masih berjalan di jalan para muassis, atau telah menyimpang karena ambisi?”

Merendahkan ego para elit dan meninggikan marwah organisasi adalah syarat utama agar NU tetap menjadi jangkar moral bangsa. Dan hanya melalui mekanisme yang sahih, tenang, dan bermartabat—yaitu Muktamar—NU dapat menegakkan kembali keagungan khittahnya.

Organisasi Besar Harus Stabil

NU bukan sekadar organisasi keagamaan; ia adalah struktur peradaban. Stabilitas PBNU hari ini menentukan stabilitas: Ia memiliki ratusan ribu atau bahkan jutaan pesantren, Puluhan ribu lembaga pendidikan formal dan nonformal. Ribuan yayasan sosial, panti asuhan, dan rumah sakit, Jutaan santri. Ratusan perguruan tinggi NU, dan puluhan juta warga nahdliyin baik di Indonesia maupun diaspora dunia.

Konflik berkepanjangan bukan hanya mengganggu ritme organisasi, tetapi mengusik ketenangan sosial. Di banyak tempat, NU bukan sekadar simbol keagamaan; ia adalah simbol stabilitas. Bila NU goyah, maka getarannya terasa sampai ke akar-akar masyarakat.

Membutuhkan NU yang Teduh

Dalam kajian akademik tentang organisasi besar, stabilitas internal adalah syarat mutlak bagi kekuatan eksternal. NU tidak akan mampu menjadi aktor penting dalam diplomasi global, dialog lintas agama, dan rekayasa sosial masa depan bila energinya habis tersedot oleh konflik internal.

Muktamar yang tertib, teratur, dan diterima semua pihak adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan stabilitas ini. NU harus berdiri tegak bukan hanya sebagai pewaris tradisi, tetapi sebagai pemimpin etika global di abad ke-21.

Menang Melawan Diri Sendiri

Pertarungan terbesar NU bukan dengan organisasi lain, bukan dengan ancaman global, bukan dengan infiltrasi ideologi. Pertarungan terbesar NU adalah melawan bayangannya sendiri—melawan kecenderungan mengulang kesalahan sejarah, melawan godaan kekuasaan yang membutakan, melawan nafsu untuk menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan jam’iyyah.

NU adalah organisasi besar. Dan organisasi besar hanya runtuh ketika kalah melawan dirinya sendiri.

Muktamar sesuai jadwal adalah medan ujian. Bila NU mampu melaluinya dengan tenang, jernih, dan bermartabat, maka NU telah memenangkan saban peperangan terpenting: memenangkan akhlaknya sendiri.

Dan kemenangan yang paling agung bagi NU bukanlah kemenangan politik, melainkan kemenangan moral—kemenangan yang menandai kedewasaan, kesejukan, dan kematangan peradabannya.

Di situlah letak jalan pulang NU: jalan yang sederhana, tetapi agung. Jalan tengah. Jalan yang menempatkan NU kembali pada martabatnya sebagai penjaga akhlak bangsa.

Rekomendasi Strategis

Ini rekonsiliasi strategis. NU menggelar Muktamar sesuai jadwal sebagai solusi konstitusional final, bukan kompromi sementara. Membentuk Dewan Rekonsiliasi Kiai Sepuh untuk mendinginkan suasana dan menengahi dua faksi. Perlu Menegakkan kembali disiplin AD/ART sebagai pedoman utama, bukan interpretasi personal.

NU harus membangun sistem komunikasi organisasi yang transparan, agar konflik tidak tumbuh liar. Memperkuat kaderisasi kepemimpinan NU, agar regenerasi berjalan tanpa friksi berlebihan. Mengembalikan NU kepada khittah, menjauhi konflik politik praktis yang menjerumuskan. Mempersiapkan NU sebagai global moral force, bukan hanya organisasi internal domestik.

Kesimpulan

Konflik PBNU saat ini adalah panggilan sejarah bagi NU. Apakah NU mampu menjaga marwahnya, atau justru mengulang luka lama? Melalui Muktamar sesuai jadwal, NU tidak hanya menyelesaikan konflik internal, tetapi memulihkan legitimasi moralnya, memulihkan kepercayaan umat, dan mempersiapkan diri menjadi organisasi kelas dunia di masa depan.

Dan bila NU mampu melewati fase ini dengan elegan, maka sejarah akan menulis: di tengah badai kepentingan, NU memilih cahaya kebijaksanaan. NU menang karena memilih untuk dewasa. NU pulang karena memilih jalan tengah, jalan yang benar. Semoga!

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry