TUKAR ISTRI-SUAMI: Polisi memperlihatkan tiga pasangan suami-istri yang tergabung dalam grup seks bebas di Markas Polda Jawa Timur, Surabaya, pada Senin (16/4). (ist)

SURABAYA | duta.co – Kepolisian Daerah Jawa Timur berhasil mengungkap komunitas pasangan suami-istri yang melakukan aksi saling tukar pasangan dalam berhubungan intim (swinger). Komunitas itu melakoni hubungan seks bebas sejak tahun 2013. Polisi menggerebek aksi mereka di sebuah hotel di Kabupaten Malang.

Hasilnya, tiga pasangan suami istri diamankan saat menggelar pesta seks di sebuah hotel di Kabupaten Malang. Mereka antara lain THD (53) dan istrinya, RL (49), warga Keputih, Surabaya; SS (47) dan istrinya, DS (29), warga Lawang, Malang; dan WH (51) bersama istrinya, AG (30), juga warga Lawang, Malang.

“Hasil penelusuran penyidik, komunitas menyimpang ini terbentuk sejak 2013 silam. Mereka punya grup khusus di media sosial Facebook, bernama Sparkling. Mereka ini rutin menggelar pesta seks saling tukar pasangan,” kata Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera, Senin (16/4).

Kepala Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Yudhistira Midyahwan menjelaskan, mereka diamankan dalam penggerebekan yang dilakukan di sebuah hotel di Kabupaten Malang, Jatim, pada 14 April 2018. “Saat digerebek tiga pasangan itu sedang melakukan aktvitas begituan (berhubungan intim bersama),” ujarnya.

Terbentuknya komunitas ini diinisiasi oleh THD dengan membuat grup Facebook bernama Sparkling sejak 2013 lalu. Di grup tertutup ini, mereka kerap membuat kesepakatan untuk melakukan aktivitas seksual bersama-sama dan juga bertukar pasangan. “Untuk bisa bergabung ke grup ini ada syaratnya. Di antaranya harus punya surat nikah,” kata Yudhistira.

Sejauh ini, lanjut Yudhistira, antara satu pasangan dengan pasangan lain saling kenal. Karena itu, polisi menduga seluruh anggota komunitas menyimpang tersebut berteman. Untuk memastikan hal itu, penyidik masih melakukan pendalaman, termasuk mengetahui total jumlah anggota dalam komunitas tersebut.

“Pengakuan tersangka, anggota grup saling tukar pasangan ini sering berganti. Sejak dibentuk tahun 2013, banyak yang keluar-masuk. Karena itu, ini masih kami dalami. Termasuk kemungkinan adanya praktik menyimpang seksual lainnya,” tuturnya.

Komunitas Swinger 2016

Sebelumnya pada 2016, Polrestabes Surabaya juga membongkar kasus tukar pasangan. Salah satu yang ditelusuri adalah kemungkinan adanya pemain lain yang ikut bergabung dalam grup Facebook (FB).

Berdasar hasil penyelidikan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, ditemukan fakta bahwa banyak grup FB yang berafiliasi dengan M Chalid, salah satu pelaku. Polisi mencatat, ada 90 grup yang diikuti pria 28 tahun tersebut.

Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni mengungkapkan, berdasar hasil penelusuran, ada banyak member yang tergabung dalam grup itu. Usianya bervariasi. “Pelaku maupun pemakai jasanya berasal dari lintaskota,” jelasnya. Bahkan, Chalid, pelaku yang tertangkap, pernah ditanya seorang member lain apakah bisa datang ke Pandaan, Pasuruan.

Jaringan tukar pasangan lewat media sosial itu terbilang besar. Tidak jarang anggotanya memberikan rekomendasi satu sama lain.  Di luar media sosial, pasutri penyedia jasa tukar pasangan bisa mencari klien sendiri. Biasanya klien adalah orang yang dikenal. Artinya, mereka merupakan pelanggan tetap. “Memang ada orang yang memakai jasa pelaku lebih dari sekali,” tambah Ruth.

Terkait perkembangan pemeriksaan terhadap Chalid, polisi mendapatkan fakta bahwa pria 28 tahun itu tidak pernah ikut berhubungan badan. Dia hanya mengantar istrinya untuk bertemu klien.  Namun, klien itu juga sudah mem-booking perempuan lain. Artinya, klien menyewa dua perempuan sekaligus, termasuk Mis’anah, istri Chalid.

Ruth menjelaskan, sebagian grup FB yang diikuti pelaku tertutup. Namun, ada pula yang terbuka. Di sana penyedia swinger biasanya memasang iklan. “Mereka tidak pasang harga. Cuma pemberitahuan bahwa mereka ready,” jelasnya.

Setelah pemberitahuan di-posting, anggota grup akan langsung berkomentar. Biasanya, penyedia jasa tidak membalas komentar itu di wall. Mereka mempersilakan bagi siapa saja yang berminat untuk langsung chatting secara personal. tom, net

Tinggalkan Balasan