ERUPSI : Akses jalan menuju Gunung Kelud yang hancur total saat erupsi 2014 (istimewa/duta.co)

KEDIRI|duta.co – Keberadaan Gunung Kelud selalu membawa banyak cerita selain keindahan alam dan sejuknya hawa pegunungan bagi yang berkunjung. Sejumlah kisah pun tetap menjadi kisah menarik untuk diperbincangkan mulai kemarahan Lembu Suro kepada putri Raja Kadiri hingga peristiwa erupsi pada tahun 2014, kemudian disebut kisah Zero Incident karena tidak adanya laporan jatuh korban nyawa.

Meski telah diawali dengan simulasi dan pemasangan sejumlah alat pemantau gempa, namun faktanya warga tinggal di sekitar Lereng Gunung Kelud sebagian besar ngeyel memilih bertahan. Namun begitu erupsi terjadi pada 13 Pebruari 2014 dimulai pukul 20.35 wib dan berakhir 14 Pebruari sekira pukul 02.46wib, ribuan warga pun dibuat pontang – panting menyelamatkan harta dan nyawa keluarganya.

Laporan anggota keluarga yang hilang hingga kekurangan pasokan air bersih serta debu vulkanik hingga mencapai wilayah Jawa Barat, namun faktanya saat kejadian tidak didapat laporannya jatuhnya korban nyawa. “Alhamdullilah, warga sangat mudah dikendalikan dan kami kerahkan seluruh kekuatan pasukan yang ada,” kenang Kolonel Inf. Heriyadi, mantan Dandim 0809 Kediri, saat kejadian itu.

Gerakan membersihkan debu pun dilakukan di sejumlah tempat, termasuk saat itu Abdullah Abu Bakar masih menjabat sebagai Wakil Wali Kota Kediri, mengggerahkan seluruh kekuatan pasukan DLHKP, BPBD, Tagana dan Satpol PP untuk melakukan pembersihan seluruh akses jalan protokol. “Kami bekerja sesuai komando bapak wakil wali kota, termasuk menyediakan air bersih, makanan dan membantu memperbaiki rumah,” jelas Koordinator TRC Tagana Pemerintah Kota Kediri, Bambang Riyadi.

Catatan menarik juga disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Kediri, Dodi Purwanto mengenang peristiwa tersebut. Meski terjadi bencana sedemikian hebatnya hingga tebal debu di jalanan mencapai 52 cm namun tidak jatuh korban jiwa pada saat itu.

“Hujan debu dan pasir dengan ketinggian antara 12 cm hingga yang paling parah mencapai 52 cm. Namun tidak ada korban jiwa secara langsung akibat erupsi tersebut. Meskipun waktu yang dibutuhkan untuk proses evakuasi sekitar 36 ribu jiwa tidak lebih dari dua jam, mulai dicanangkan status awas hingga terjadi erupsi,” jelas wakil rakyat dari PDI Perjuangan.

“Semua ini tidak lepas dari kekuasaan Tuhan, selalu menjauhkan hambaNya dari segala musibah,” terang Dodi Purwanto. Keberadan Kelud pun kembali mempesona dengan munculnya kembali kawah setelah sebelumnya menjadi anak gunung sebelum erupsi terjadi. (nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry