TRENGGALEK | duta.co — Kejadian yang menimpa ARS (11), siswa SDN 3 Ngantru Kecamatan/Kabupaten Trenggalek menyisakan duka yang mendalam di keluarga Yulianto, orang tua korbannya. Hingga kini, ARS yang terjatuh dari lantai dua sekolah itu, masih terbaring lemas akibat sakit di sekujur tubuhnya. Pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) setempat belum menjamin akan berlangsung kesehatan ARS secara normal.

“Meskipun anak saya diperbolehkan pulang dan dirawat jalan, namun kita tetap khawatir akan kesehatan anak saya nantinya,”ungkap Yulianto, ayah kandung korban, Senin (14/1/2019).

Yulianto berpendapat, santunan yang diberikan kepada pihaknya meminta agar bukan menjadi jamainan anaknya serta merta dianggap sudah selesai, sedangkan kelak di kemudian hari ternyata anaknya menjadi cacat.

“Ya kita hormati kalau amplop itu sebagai santunan atau bantuan , namun kita juga ingin memastikan jika ARS tidak mengalami cacat,” tegasnya.

Dia juga menceritakan, jika banyaknya guru sekolah yang menjenguk dan menunggu ARS di RSUD dr Sudomo bukan tindakan yang menguntungkan. Pasalnya, kehadiran mereka membuat bingung banyak pihak dan berbagai pertanyaan malah tertuju kepada pihak keluarga korban.

“Masak menunggu sampai pukul 00.00, makanya sempat saya persilakan untuk pulang saja,” terangnya.

Hingga kini, Yulianto masih setia menunggu anaknya yang tergolek di kasur kamar rumah di daerah Kelurahan Ngantru.

Sementara, Ganib Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar (SD) di Dinas Dikpora Kabupaten Trenggalek saat ingin diwawancarai belum bisa menemui dengan alasan masih rapat tertutup.

“Masih rapat di ruangan, mohon maaf,” ucap Satpam dinas.

Seperti diberitakan sebelumnya, ARS terjatuh dari plafon sekolahnya setinggi empat meter saat mengambil bola.

Yulianto menjelaskan, saat itu, anaknya sedang bermain bola seperti biasa dengan teman sekolahnya di area halaman. Namun tiba-tiba bolanya tertendang keras mengarah ke atas hingga masuk ke lubang plafon sekolah yang masih tahap renovasi.

Tetapi, masih lanjut Yulianto, karena antara plafon atap sekolah dan bantaran lantai dua tidak ada pagar pengamannya, tanpa disadari ASR menginjak plafon tersebut hingga terperosok dan jatuh. (dik/ham)