Oleh Mukhlas Syarkun*

SAAT bertemu oposisi,Prabowo merespon aspirasi sebagian masyarakat yang keberatan dengan keikutsertaan Indonesia dalam paket perdamaian yang digagas Tramp, Board of Peace (BoP). Presiden sangat taktis. Kalau nanti tidak menguntungkan rakyat Palestina, Indonesia akan keluar, yang penting masuk dulu soal keluar itu gampang.

Demikian kira-kira cara berpikir Prabowo. Hal ini mengingatkan gaya berpikir KH Wahab Chasbullah dalam mengakhiri perdebatan jajaran elit PBNU saat berdebat panas untuk mengambil sikap, “apakah ikut paket kebijakan Bung Karno atau berada di luar? “, perdebatan berakhir ketika Mbah Wahab menveto, “yang penting masuk dulu soal keluar itu hal yang gampang”.

Menjadi perdebatan karena pilihan yang sulit, penuh dilema, berdampak serius dan sangat strategis, artinya jika salah pilihan fatal akibatnya, begitu juga apa yang dilakukan Prabowo jika tidak ikut, lalu siapa yang mengakomodir kepentingan Palestina, tapi jika ikut ini inisiatifnya justru sosok bermasalah yang membenarkan genosida. Bahkan Gusdurian sudah membuat pernyataan tegas dengan meminjam kata hikmah Gus Dur, “Perdamaian tanpa Keadilan itu omong kosong.”

Artinya kata “damai” hanyalah untuk mengelabui, dan keikutsertakan negara Islam Timur Tengah termasuk Indonesia justru akan dijadikan legetimasi belaka, dan apalagi telah lama Israel mengincar wilayah Gaza, maka dengan BoP seperti membuka lebar-lebar pintu masuk Gaza dengan leluasa. Demikian cara pandang penentang termasuk dosen UI yang membodoh-bodohkan kebijakan gabung ke BoP. Dan apalagi kini telah ada seruan dari PBB agar BoP dibubarkan.

Modal yang dimiliki oleh Prabowo hanyalah harapan bahwa BoP dapat menjadi wasilah menyalurkan aspirasinya dan niat tulus yang kuat mewujudkan damai bagi Palestin, dan niat itu tidak hanya omon-omon sudah banyak berbuat, misalnya memberi beasiswa anak Palestina kuliah di universitasnya, menyediakan lahan pertanian untuk rakyat Palestina juga suara lantangnya di sidang PBB begitu kuat keinginannnya wujud perdamaian, agar terhenti pembantain.

Niat baik Prabowo tidak disaoal, tetapi kebijakan ikut gabung di BoP yang dipermasalahkan oleh berbagai Kalanga. Kini Indonesia mendapat sorotan apakah mampu mewujudkan niatnya atau ikut hanyut dalam pusaran konspirasi Israel dan sekutunya.

Di sini setidaknya Indonesia harus mampu mengkonsolidasikan negara-negara Timur Tengah yang bergabung BoP dalam satu tekad, satu visi mewujudkan damai yang adil bagi Palestina, dan setidaknya ini dapat menghadang ambisi Israel selama ini bernafsu menguasai Gaza akan terhambat dan teringat kaidah “kalua tidak bisa mewujudkan semuanya jangan ditinggalkan semuanya.” (*)