Sekjen PAN, Eddy Suparno.

SURABAYA | duta.co – Hasil survey yang dirilis PolMark Research Center (PRC) menumbuhkan optimisme bagi Partai Amanat Nasional (PAN). Karena dari survey ini elektabilitas PAN mencapai 5,9 persen, atau melebihi batas parliamentary threshold 4 persen.

Bahkan hasil ini dinilai mematahkan sejumlah anggapan bahwa PAN tidak akan lolos. “Ini bantahan dari sejumlah survey yang menyatakan PAN terancam gagal,” ungkap Sekjen PAN, Eddy Suparno, di sela acara forum pikiran, akal dan nalar yang digelar PAN di salah satu hotel di Surabaya, Selasa (5/3/2019).

Lanjutnya, kabar ini jadi angin segar sekaligus pendorong agar PAN kerja keras karena dinamika dilapangan jeang coblosan sangat tinggi. Dan survey akan berubah.

Semuanya diminta ekstra keras dan bekerja di dapil (daerah pemilihan) masing-masing. “Jangan balik ke rumah (caleg). Pokoknya hidupnya harus di dapil (hingga coblosan),” katanya.

Upaya ini juga untuk mengejar target PAN untuk meraih suara dua digit di pemilu 2019. “Minimal 10 persen atau 58 kursi di parlemen,” ungkapnya.

Sementara itu, Founder dan CEO Polmark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah menegaskan, survei 73 Dapil Pemilu 2019 menunjukkan ada tujuh partai yang diprediksi bakal tumbang karena tak lolos ambang batas parlemen.

Mereka adalah Perindo, Hanura, PSI, PBB, Berkarya, PKPI dan Garuda. Sedangkan sembilan partai yang diprediksi lolos memenuhi ambang batas parlemen adalah PDIP, Gerindra, Golkar, PKB, Partai Demokrat, PAN, Partai NasDem, PKS dan PPP.

Elektabilitas partai pada 73 dapil menunjukkan PDIP sebesar 28,6 persen, Gerindra 14,1 persen, Golkar 13,3 persen, PKB 11,5 persen, Partai Demokrat 6,9 persen, PAN 5,9 persen, Partai NasDem 5,6 persen, PKS 4,6 persen, PPP 4,5 persen, Perindo 2 persen, Hanura 1,1 persen, PSI 0,6 persen, PBB 0,5 persen, Berkarya 0,4 persen, PKPI 0,2 persen dan Garuda 0,1 persen.

“Wajah para caleg ini sampai ke pintu-pintu, sampai ke rumah-rumah. Tapi apakah wajah Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi bisa sampai ke pintu-pintu atau rumah-rumah, kan tidak bisa. Di bawah, kampanye caleg itu kampanye kasat mata alias konkret. Kalau kampanye pilpres itu kampanye maya, tidak teraba dan tidak nyata. Itu yang menyebabkan undecided voters di Pileg lebih cepat tergerusnya dibandingkan pilpres,” jelas Eep.

Wawancara responden dilakukan rentang waktu Oktober 2018-Februari 2019. Ke-73 Dapil ini meliputi 172.008.099 atau 92,9 pemilih dari pemilih Pemilu 2019. Di 73 Dapil ini diperebutkan 534 kursi atau 92,9 persen dari 575 kursi DPR RI.

Laporan ini adalah ikhtisar sangat ringkas dari 73 survei di 73 Dapil (dari 80 Dapil) seluruh Indonesia. Data yang tersaji adalah agregat hasil 73 survei yang dibuat dengan perhitungan
statistik yang layak.

Survei dilakukan oleh PolMark Research Center (PRC)-pusat riset yang bernaung di dalam PolMark Indonesia. Survei dilakukan sebagai bagian dari kerjasama pendampingan political marketing PolMark Indonesia untuk Partai Amanat Nasional (PAN) dalam Pemilihan Anggota DPR RI 2019.

Dari keseluruhan survei tersebut, 72 survei di antaranya melibatkan 440 responden, sementara 1 survei melibatkan 880 responden. Maka keseluruhan data hasil survei ini meliputi 32.560 responden yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. (zal)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.