(Catayan Ngaji Qalbu bersama Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa; Kitab Tanbīhu al-Mughtarīn karya Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani;)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

SUBUH baru saja selesai meneteskan embunnya. Di antara sejuk udara dan cahaya yang lembut menelusup dari jendela, Sang Guru memulai majelis NGAJI QALBU dengan suara yang tenang namun menembus kalbu.

“Ketika orang bertanya tentang kejujuran,” beliau berujar, “Nabi Ismail pun pernah bertanya hal yang sama.”

Kalimat itu menggantung di udara, lembut tapi tegas. Seolah mengingatkan bahwa kejujuran bukanlah milik orang yang telah selesai diuji, melainkan milik mereka yang masih terus berjuang menaklukkan diri.

Lalu, bagaimana dengan kita yang kerap berdusta, bahkan tanpa sadar? Yang menyembunyikan niat di balik amal, dan memoles ibadah agar tampak bercahaya di mata manusia? Sang Guru berhenti sejenak, menatap wajah para muridnya satu per satu.

“Ikhlas,” katanya kemudian, “adalah ketika engkau bekerja dan mencari nafkah tanpa menaruh harapan pada pujian siapa pun. Karena di balik setiap keringat yang jatuh demi keluarga, Allah menyembunyikan rahmat yang tak terhitung.”

Beliau menceritakan kisah seorang alim yang suatu ketika mengenakan pakaiannya terbalik. Saat ditanya, ia menjawab dengan tenang, “Aku mengenakannya karena Allah.” Sebuah isyarat halus bahwa amal tidak selalu harus tampak rapi di mata dunia, selama hatinya terarah kepada Tuhan.

Sayyidina Ali pernah menyingkap tabir halus dari penyakit hati yang bernama riya. Ia berkata, tanda-tandanya terlihat ketika seseorang rajin beramal di depan banyak orang, namun lalai saat sendirian; ketika ibadah terasa ringan saat dipuji, dan terasa berat ketika tak ada yang memperhatikan. Riya bukanlah sekadar pamrih, melainkan bentuk halus dari cinta pada diri sendiri yang menutupi cinta kepada Allah.

Sementara Imam Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, “Amal yang masih engkau hitung, tidak akan berdiam di wadah keikhlasan.” Karena setiap perhitungan adalah tanda dari ego yang belum mati. Orang yang benar-benar ikhlas menyembunyikan amal baiknya sebagaimana ia menutup amal buruknya, sebab keduanya bukan miliknya, melainkan titipan Tuhan yang harus dijaga dari pandangan manusia.

Sang Guru kemudian berbisik pelan, “Seorang guru yang ikhlas tidak tergantung pada banyak atau sedikit muridnya. Ia berdiri karena Allah, bukan karena jumlah yang memandang.”

Beliau mengisahkan kisah lama tentang Imam Hasan al-Bashri yang suatu hari menegur murid-muridnya:

“Jika nafsumu membuatmu bangga atas kedudukanmu, maka bangkitlah dari majelis ini.” Dan seorang murid bernama Syaikh Tawus pun berdiri, mendekat dan berkata lirih, “Aku tidak ikhlas, wahai Imam.”

Begitulah para sufi dahulu, mereka tidak takut mengakui ketidaksempurnaan hatinya, karena hanya dengan kejujuran seperti itulah pintu keikhlasan bisa terbuka.

Betapa banyak orang menuntut ilmu demi gengsi, bukan karena haus akan kebenaran. Betapa banyak majelis dihadiri dengan tujuan dunia, bukan rindu kepada Allah. Dan betapa sedikit yang mencari ilmu semata karena ingin dikenal oleh Tuhan, bukan oleh manusia.

Imam Sufyan ats-Tsauri pernah bersumpah, “Demi Allah, seandainya aku menemukan seorang yang benar-benar menuntut ilmu karena Allah, niscaya aku akan berjalan jauh hanya untuk menemuinya.”
Sebab mereka yang hatinya tulus adalah lentera langka di zaman yang mencintai sorotan.

Lalu Sang Guru menunduk, suaranya merendah.

“Tutuplah setiap dzikir dengan istighfar,” katanya. “Karena kita tidak tahu seberapa tulus dzikir kita, seberapa bersih niat kita. Maka mintalah ampun setelah setiap amal, sebagaimana orang yang membersihkan bejana sebelum dituangi air baru.”

Beliau mengingatkan, bahwa seorang guru sejati adalah yang senantiasa mensyukuri nikmat Allah, menjaga lisannya dengan istighfar, dan berlindung kepada-Nya dari tipu daya syaitan yang halus bersembunyi dalam pujian.

Di ujung majelis, Sang Guru berkata, “Ilmu adalah kekuatan. Science is power. Tetapi kekuatan sejati bukanlah kuasa atas manusia, melainkan kuasa atas diri sendiri. Pemilik ilmu sejati tidak membutuhkan tahta, karena cahaya pengetahuannya telah mengangkatnya ke maqam yang lebih tinggi dari raja.”

Lalu beliau membaca firman Allah:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah [58]: 11)

Majelis berakhir, dan langit mulai menua menjadi siang. Para murid meninggalkan ruang dengan dada yang ringan, seolah membawa setangkai cahaya yang tak terlihat.
Mereka belajar bahwa kejujuran adalah benih, dan keikhlasan adalah pohonnya.
Bahwa amal yang tak mencari penonton justru paling terang di sisi Tuhan.

#NgajiQalbu #Keikhlasan #Kejujuran #TanbihuAlMughtarin #AliMasykurMusa #HikmahSubuh

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry