
“Pihak Arab tentu tidak bisa menghalangi perjuangan suci yang dimotori Iran untuk membebaskan tanah suci Aqsa. Masalahnya apakah fase perang yang akan dilanjutkan Iran itu akan mendekatkan pada tujuan kemerdekaan Palestina atau justru menjauhkannya.”
Oleh Achmad Murtafi Haris
BELAKANGAN muncul demo warga Gaza yang menentang sikap Hamas yang terus bertempur melawan Israel. Mereka menuntut dihentikannya pertempuran dan lebih dari itu menuntut Hamas keluar dan tidak lagi menguasai Gaza. Keberadaan Hamas semenjak 2007 dianggap tidak memberikan maslahat malah petaka bagi warga Gaza. Gaza menjadi puingpuing dan 50 ribu nyawa melayang sepanjang perang satu setengah tahun ini. Keberanian turun ke jalan untuk demo menentang Hamas menunjukkan pemberontakan jiwa yang tidak lagi bisa dipendam. Penderitaan yang teramat dalam mendorong munculnya keberanian untuk melawan rasa takut atas Hamas hingga meluap ke jalanan.
Bagi Hamas para demonstran adalah orang bayaran Israel untuk memojokkan Hamas. Sementara bagi kelompok demonstran, mereka mempertaruhkan nyawa untuk melakukan itu. Tragedi penembakan oleh Hamas ke arah demostran terjadi dan memakan korban nyawa. Para demonstrans meneriakkan yel-yel kebencian kepada Hamas saat pemakaman korban.
Potensi demo atas Hamas memang ada karena sejatinya terdapat banyak faksi di Palestina. Selain Hamas yang memperoleh suara 44,45% pada pemilu 2007, faksi Fatah adalah terbesar kedua 41,43%. Perbedaan tipis ini membuat potensi penolakan atas Hamas tinggi, masalahnya apakah mereka berani terang-terangan menentang Hamas yang membawa laras panjang.
Pasca gencatan senjata 15 Januari, ide untuk melanggengkan gencatan muncul dari Amerika dan Arab. Trump mengusulkan agar warga Gaza direlokasi ke Mesir atau Yordania. Kedua negara itu menolak. Mesir mengundang para pemimpin Arab untuk membahas peta renovasi Gaza tanpa merelokasi warga. Mereka juga berencana mengambil alih administrasi Gaza dan keharusan Hamas melucuti persenjataan agar perang tidak lagi terjadi.
Oleh Hamas proposal Liga Arab ini ditolak. Kekuasaan atas Gaza adalah kepercayaan yang mereka dapat dari rakyat melalui pemilu. Dan senjata harus tetap mereka pegang selama Israel menjajah Palestina. Senjata adalah alat perlawanan yang mengiringi penjajahan. Penyingkiran atas mereka akan mereka lawan dengan pengorbanan. Pihak liga Arab menyampaikan agar Hamas melindungi nyawa warga Gaza bukan menyepelekan nyawa mereka dengan dalih dibunuh Israel. Banyak yang menuduh Hamas menggunakan tameng warga dan membiarkan nyawa mereka jadi sasaran peluru Israel.
Keengganan warga untuk meninggalkan wilayah perang menjadi sebab dari banyaknya nyawa sipil berjatuhan. Ini juga yang menjadi alasan Trump untuk merelokasi warga Gaza agar tentara Israel tidak terhalang oleh keberadaan warga kala Israel memburu Hamas. Media Israel menyebut bahwa tentara Hamas bersembunyi di tempat tinggal mereka bersama keluarga selama perang. Seperti saat pengeboman rumah salah satu pemimpin Hamas yang tewas bersama istrinya.
Gencatan senjata yang berakhir pada 18 Maret gagal diperbaharui. Israel mengatakan akan menyerang dari segala penjuru jika sisa sandera 58 (dari 251) tidak segera diserahkan oleh Hamas. Dan sungguh naas, sehari kemudian IDF menyerang dan terus berlanjut hingga hari raya dan 1000 nyawa melayang.
Sejauh ini Hamas tidak bergeming dengan banyaknya jatuh korban dari kalangan wanita, anak-anak dan orang tua. Laporan pusat studi Israel yang dikutip oleh Al-Sharq al-Awsat mengatakan bahwa kematian warga sipil pada perang ini adalah yang terbanyak dalam sejarah yaitu 61%. Ini bisa lebih jika korban lelaki muda tidak semua dimasukkan kategori tentara.
Hamas tidak mau menyerah dan mengancam nyawa para sandera taruhannya jika Israel tidak mau mundur dari Gaza. Ideologi perlawanan (non-kooperatif) yang dianut Hamas membuat mereka pantang mundur sejengkal. Hamas berdiri memang untuk perang dan menolak jalur perundingan dengan Israel. Dan perang besar yang sedang terjadi adalah yang mereka inginkan.
Problemnya adalah resiko korban warga sipil mereka abaikan. Hamas baru sekali ini perang besar semenjak berkuasa 17 tahun. Yang terjadi sebelum ini adalah serangan-serangan sporadis dan Intifada yang dilakukan oleh pemuda dengan melempar batu ke tentara Israel serta bom bunuh diri. Berbeda dengan negara-negara Arab yang dipimpin Mesir yang telah menjalaninya semenjak 1948 hingga 1973 (25 tahun). Perang besar terjadi setidaknya 4 kali: 1948, 1955, 1967, 1973. Tentara Mesir dan Arab menggunakan tank dan pesawat tempur demikian juga Israel dengan yang lebih canggih. Mesir dengan pengalaman yang panjang akhirnya mengakhiri perang dan berdamai setelah berhasil merebut Sinai pada 1973. Anwar Sadat dalam pidatonya di depan parlemen Israel mengatakan bahwa keberadaan Israel adalah kenyataan yang tidak bisa dielakkan. Di belakang Israel terdapat kekuatan besar (Amerika dan Eropa) yang akan melindungi mereka sepenuhnya jika terancam.
Backup negara barat tampak pada perang 1948 di mana tentara Arab yang hampir menjangkau Tel-Aviv tiba-tiba diserang pesawat tempur sekutu yang menghujani barisan tank dan serdadu Arab hingga mereka mundur. Induk perlawanan Hamas, Iran, belum pernah secara langsung perang melawan Israel. Bisa jadi Iran merasa bahwa kini tiba saatnya mereka berperang setelah saudara Arab lelah berperang. Rezim Islam Iran baru berdiri 1979. Semangat perjuangan melawan Israel baru mereka mulai. Sementara saudara Arab tidak cuma semangat tapi sudah berperang 25 tahun lebih sebelumnya. Hal ini membuat pertimbangan resiko atas warga sipil kurang mereka miliki. Mungkin karena yang tewas bukan warga mereka sendiri, tapi warga Gaza yang jauh 2000km dari mereka. Berbeda Mesir yang merasakan banyak kematian dari rakyat mereka saat perang melawan Israel, maka kegetiran itu yang paling ingin disudahi dan mengalihkan perlawanan dalam bentuk lain.
Pihak Arab tentu tidak bisa menghalangi perjuangan suci yang dimotori Iran untuk membebaskan tanah suci Aqsa dari cengkeraman Israel. Masalahnya apakah fase perang yang akan dilanjutkan oleh Iran akan mendekatkan pada tujuan kemerdekaan Palestina atau justru menjauhkannya. Ketika Mesir memulai perdamaian, tampak bahwa fase perjuangan lewat perundingan telah tiba. Pihak Israel telah menunjukkan iktikad itu untuk mentaati resolusi PBB tentang solusi 2 negara. Hanya saja dia berharap agar negara-negara Arab benar-benar mau menerima keberadaan Israel di kawasan dengan sepenuh hati. Israel pun mencanangkan program “normalisasi” atau al-tatbi’ yaitu program-program budaya agar warga Arab bisa menerima sepenuh hati dan bergaul dengan baik dengan warga Israel. Tapi program ini sulit bisa diterima oleh warga Arab sebab bagaimanapun keberadaan Israel telah mengambil tanah mereka dan membuat mereka terusir dari tanah sendiri.
Jalan perang Hamas dan Iran tentu membuat peluang jalur perundingan terhenti. Selain korban nyawa yang teramat besar yang mayoritas bukan tentara Hamas tetapi warga sipil, ke depan tampaknya Gaza benar-benar di bawah kendali Israel. Usulan koalisi Arab yang dipimpin Mesir agar Gaza ke depan dipimpin entitas baru selain Hamas bahkan ditolak. Jika proposal Trump yang benar-benar terjadi, maka warga Gaza akan dipindahkan ke negara tetangga, Hamas out, dan senjata mereka dilucuti. Gaza menjadi kawasan wisata laut dan permukiman sepanjang pantai timur laut Mediterania dan negara Palestina lenyap dari impian. Semoga bukan ini yang terjadi tapi usulan Liga Arab yang terjadi.(*)
*Dr Achmad Murtafi Haris adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.





































